Nobel Sastra 2026: Anne Carson dan Can Xue Bersaing Ketat, Hadiah Rp20 Miliar Menanti
Baca dalam 60 detik
- Anne Carson dan Can Xue memimpin bursa taruhan Nobel Sastra dengan odds 10/1, disusul Haruki Murakami 14/1.
- Hadiah tahun ini senilai 12 juta Krona Swedia (sekitar Rp20 miliar), diumumkan Kamis pukul 12.00 waktu Inggris.
- Kemenangan salah satu penulis non-Eropa dapat memperluas peta sastra global dan memengaruhi tren penerbitan di Asia.

Akademi Swedia akan mengumumkan pemenang Nobel Sastra 2026 pada Kamis (8/10) pukul 12.00 waktu Inggris atau 18.00 WIB. Bursa taruhan Ladbrokes menempatkan penyair Kanada Anne Carson dan penulis eksperimental Tiongkok Can Xue sebagai favorit utama dengan odds 10/1, mengungguli sejumlah nama besar lain seperti Haruki Murakami (14/1) dan Margaret Atwood (20/1). Hadiah tahun ini bernilai 12 juta Krona Swedia (sekitar Rp20 miliar) — angka yang sama dengan tahun lalu, namun tetap menjadi salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di dunia.
Anne Carson, 76 tahun, dikenal karena gaya hibrida yang menggabungkan puisi dan prosa, serta menyatukan narasi kontemporer dengan mitos kuno. Karya monumentalnya, novel verse Autobiography of Red (1998), merupakan kisah coming-of-age queer yang mengolah ulang puisi Yunani tentang Herakles. Sementara Can Xue, 73 tahun, nama pena dari Deng Xiaohua, telah lama menjadi kandidat kuat. Dua kali ia masuk longlist International Booker untuk novel Love in the New Millennium dan kumpulan cerpen I Live in the Slums. Karya-karyanya dikenal eksperimental, surealis, dan sering menantang batas naratif konvensional.
Di belakang mereka, Haruki Murakami tetap menjadi penulis dengan penjualan internasional terbesar di antara para favorit. Karya seperti Norwegian Wood dan Kafka on the Shore telah diterjemahkan ke puluhan bahasa. Namun, beberapa pengamat menilai bahwa gaya Murakami yang populer dan mudah diakses justru kerap dianggap kurang “eksperimental” oleh kalangan akademi. Sementara itu, penulis avant-garde Australia Gerald Murnane dan novelis postmodern Amerika Thomas Pynchon menyusul dengan odds 16/1 — keduanya dikenal karena karya yang kompleks dan jarang muncul di sorotan media arus utama.
Sejumlah nama lain juga masuk dalam radar. Margaret Atwood, penulis The Handmaid’s Tale, telah mengantongi Booker Prize dan Giller Prize, namun Nobel belum pernah ia raih. Cristina Rivera Garza dari Meksiko meraih Pulitzer 2024 untuk memoar Liliana’s Invincible Summer. Ada pula Enrique Vila-Matas (Spanyol), Jamaica Kincaid (Antigua-Amerika), Lídia Jorge (Portugal), Lyudmila Ulitskaya (Rusia), dan Michel Houellebecq (Prancis) yang berada di odds 20/1. Nama-nama dengan odds lebih panjang meliputi Karl Ove Knausgård, Alexis Wright, Colm Tóibín, César Aira, Deborah Levy, Don DeLillo, Emmanuel Carrère, Leila Aboulela, Michael Ondaatje, Mircea Cărtărescu, dan Salman Rushdie.
“Kincaid adalah penulis yang tidak sekadar Anda baca; ia membawa Anda kembali pada diri sendiri,” tulis penyair Jackie Kay pada 2022, menggambarkan kekuatan prosa Kincaid yang sering mengupas hubungan keluarga dan dampak kolonialisme.
Bagi Indonesia, pemenang Nobel Sastra selalu menjadi rujukan penting bagi industri penerbitan dan akademisi sastra. Jika Can Xue menang, misalnya, perhatian terhadap sastra Tiongkok kontemporer dan terjemahan Asia di Indonesia berpotensi meningkat. Penerbit lokal seperti Gramedia Pustaka Utama dan Marjin Kiri telah menerbitkan beberapa karya penulis Tiongkok, namun belum banyak yang menyentuh karya eksperimental seperti Can Xue. Sementara itu, kemenangan Anne Carson akan memperkuat tren puisi hibrida dan kajian klasik di kampus-kampus. Di sisi lain, Murakami tetap menjadi penulis asing paling laris di toko buku Indonesia, dan kemenangannya bisa mendongkrak penjualan buku-bukunya yang sudah ada.
Pengumuman Kamis nanti juga akan menjadi penanda arah baru Akademi Swedia setelah beberapa tahun terakhir memilih penulis non-Eropa seperti Han Kang (Korea Selatan) dan Abdulrazak Gurnah (Tanzania). Tahun lalu, László Krasznahorkai dari Hungaria membawa pulang hadiah. Apakah tahun ini akademi akan kembali menyeberang ke Asia, atau memberi ruang bagi suara avant-garde Barat? Publik sastra Indonesia dapat menyaksikan langsung pengumuman melalui kanal resmi Nobel Prize, dan hasilnya akan segera memicu diskusi tentang penerjemahan, kanon sastra, dan pasar buku tanah air.



