Okafor Terancam Jadi Rodrigo 2.0: Leeds Waspadai Penurunan Performa Winger Swiss
Baca dalam 60 detik
- Noah Okafor hanya mencetak satu gol dari delapan pertandingan Liga Premier musim ini, jauh menurun dibandingkan torehan delapan gol pada musim debutnya.
- Statistik underlyingsangat memprihatinkan: 0,2 tembakan tepat sasaran per 90 menit dan 0,4 peluang tercipta per 90, menempatkannya di persentil terbawah di antara para penyerang.
- Leeds United berisiko mengulangi kesalahan Rodrigo, yang dibeli mahal £30 juta tetapi dilepas hanya dengan £3 juta, jika Okafor tidak segera menemukan kembali ketajamannya.

Leeds United tengah menghadapi dilema klasik di bursa transfer: mahalnya harga pemain tidak selalu berbanding lurus dengan konsistensi performa. Noah Okafor, yang didatangkan dari AC Milan dengan mahar £18 juta pada musim panas lalu, kini menjadi sorotan setelah menunjukkan penurunan tajam di musim keduanya. Winger asal Swiss itu baru mencetak satu gol dari delapan pertandingan Liga Premier musim ini, meski hampir selalu menjadi pilihan utama Daniel Farke.
Penurunan ini mengingatkan publik Elland Road pada kasus Rodrigo Moreno. Pada 2020, Leeds menggelontorkan £30 juta untuk mendatangkan Rodrigo dari Valencia. Musim pertamanya terbilang sukses dengan tujuh gol, tetapi performanya merosot di musim kedua sebelum akhirnya dilepas ke Al-Rayyan dengan harga hanya £3 juta—kerugian £27 juta bagi klub. Kini, Okafor berada di jalur yang sama jika tidak segera bangkit.
Data menunjukkan masalah yang lebih dalam. Okafor hanya mencatatkan 0,2 tembakan tepat sasaran per 90 menit, menempatkannya di 14% terbawah di antara para penyerang Liga Premier. Ia juga hanya menciptakan 0,4 peluang per 90 menit, dengan 90% pemain di posisinya memiliki catatan lebih baik. Kemampuan dribel langsung yang menjadi andalannya pun menurun, dengan tingkat keberhasilan hanya 41%—di bawah 70% winger lain di liga.
Meski demikian, Leeds secara keseluruhan telah berinvestasi besar untuk bertahan di Liga Premier. Sejak promosi pada 2025, klub menghabiskan lebih dari £180 juta untuk memperkuat skuad. Hasilnya, mereka finis di papan tengah musim lalu dengan hanya kalah lima kali dari 20 pertandingan terakhir. Namun, performa individu Okafor menjadi catatan tersendiri bagi Farke, yang mulai mempertimbangkan opsi lain di lini depan.
"Penurunan Okafor sangat mengkhawatirkan. Jika tidak segera diatasi, ia bisa kehilangan tempat di starting XI," ujar seorang pengamat taktis yang dikutip Football FanCast.
Dalam konteks Indonesia, kasus Okafor menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Liga 1 yang kerap tergoda membeli pemain asing mahal tanpa mempertimbangkan konsistensi jangka panjang. Seperti halnya Leeds, tim seperti Persija atau Persib pernah mendatangkan pemain bintang dengan harga tinggi, tetapi gagal tampil gemilang di musim berikutnya. Manajemen berbasis data dan evaluasi berkala menjadi kunci untuk menghindari kerugian besar.
Ke depan, Okafor masih memiliki waktu untuk membalikkan keadaan. Namun, jika tren negatif ini berlanjut, Leeds tidak akan ragu melepasnya dengan harga murah—seperti yang terjadi pada Rodrigo. Pertanyaannya, akankah Farke memberikan kesempatan lebih atau justru mencoretnya dari rencana jangka panjang?



