Enam Kata Bradbury yang Ramalkan Krisis Literasi dan AI Masa Kini
Baca dalam 60 detik
- Kalimat pembuka Fahrenheit 451, 'It was a pleasure to burn', dinilai makin relevan karena menggambarkan budaya yang kehilangan minat pada buku, bukan rezim yang membakarnya.
- Data National Endowment for the Arts menunjukkan hanya 48,5% orang dewasa AS membaca buku pada 2022, turun dari 54,6% pada 2012, sementara waktu membaca untuk kesenangan anjlok dari 28% (2004) menjadi 16% (2023).
- Praktik perusahaan AI seperti Anthropic yang membeli jutaan buku fisik, memindai, lalu menghancurkannya, memunculkan bayangan bahwa pengetahuan manusia diperlakukan sebagai komoditas sekali pakai.

Ray Bradbury hanya butuh enam kata untuk meramalkan abad ke-21: It was a pleasure to burn. Kalimat itu tidak sekadar pembuka novel distopia Fahrenheit 451 yang terbit 1953, melainkan semacam diagnosis atas peradaban yang perlahan membakar warisan intelektualnya sendiri. Tujuh dekade kemudian, ketika buku fisik dipindai dan dihancurkan untuk melatih kecerdasan buatan, sementara manusia menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari menatap layar, kalimat itu terasa seperti ramalan yang tak terbantahkan.
Bradbury menulis di tengah bayang-bayang Perang Dunia II, kebangkitan McCarthyisme, dan meledaknya popularitas televisi. Ia sendiri menegaskan bahwa Fahrenheit 451 bukanlah peringatan tentang pemerintah yang melarang buku, melainkan tentang masyarakat yang dengan sukarela meninggalkan bacaan demi hiburan yang lebih mudah. Dalam wawancara 2009, ia menyatakan bahwa fiksi ilmiahnya dimaksudkan untuk membaca masa kini, bukan meramal masa depan. Namun justru karena itulah ramalannya menjadi presisi: ia tidak membayangkan api, ia membayangkan ketidakpedulian.
Data kontemporer membenarkan ketakutan Bradbury. Menurut National Endowment for the Arts, hanya 48,5% orang dewasa Amerika yang membaca buku pada 2022, turun dari 54,6% pada 2012. Angka pembaca fiksi bahkan lebih memprihatinkan, merosot dari 45,2% menjadi 37,6% pada periode yang sama. Analisis terhadap dua dekade data American Time Use Survey menunjukkan bahwa proporsi orang Amerika yang membaca untuk kesenangan pada hari biasa anjlok dari 28% pada 2004 menjadi 16% pada 2023. Tidak ada rezim totaliter yang memaksa mereka berhenti membaca; mereka hanya kehilangan minat.
Yang membuat Fahrenheit 451 kian relevan bukanlah sensor negara, melainkan bagaimana teknologi mengambil alih perhatian yang dulu diberikan kepada halaman cetak. Bradbury membenci televisi karena ia melihatnya sebagai ancaman terhadap kedalaman berpikir. Hari ini, kita memiliki layar yang jauh lebih invasif: ponsel pintar, media sosial, dan algoritma yang dirancang untuk memikat. Waktu yang dulu dipakai untuk membaca kini diserap oleh konsumsi konten yang cepat dan dangkal. Dalam masyarakat seperti ini, buku tidak perlu dibakar; ia cukup diabaikan.
Lebih jauh, perkembangan kecerdasan buatan menambah lapisan ironi baru. Dokumen pengadilan dan laporan media mengungkap bagaimana perusahaan teknologi seperti Anthropic mengakuisisi jutaan buku cetak, memindai setiap halaman, lalu menghancurkan kertasnya. Pengetahuan manusia diperlakukan sebagai bahan mentah untuk melatih model AI, tanpa memedulikan nilai intrinsiknya. Bradbury tidak mungkin meramalkan mekanisme pelatihan AI, tetapi inti peringatannya tetap sama: ketika kata-kata kehilangan nilai sakralnya, peradaban kehilangan fondasi berpikir kritis.
Di Indonesia, tantangan serupa tidak kalah nyata. Survei UNESCO pada 2019 menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Meskipun berbagai program literasi digalakkan, godaan layar tetap kuat. Platform digital lokal dan global bersaing memperebutkan waktu luang masyarakat, sementara buku fisik semakin terpinggirkan oleh harga dan akses. Namun, seperti halnya di AS, persoalan utama bukanlah larangan, melainkan kemalasan kolektif untuk merawat kebiasaan membaca. Bradbury mengingatkan bahwa kebebasan membaca tidak cukup; yang lebih penting adalah keinginan untuk membacanya.
Pertanyaan yang tersisa: akankah generasi mendatang melihat buku sebagai artefak kuno yang hanya layak dipindai mesin, atau masih ada cukup orang yang menolak membiarkan api ketidakpedulian membakar habis warisan intelektual? Bradbury telah menyalakan peringatan lewat enam kata sederhana. Kini tinggal apakah kita memilih mendengarkan atau ikut menikmati pembakarannya.



