Horner: Antonelli Sudah 'Pantas' Jadi Nomor Satu Mercedes, Peringatan bagi Russell
Baca dalam 60 detik
- Christian Horner menilai Kimi Antonelli telah membuktikan diri sebagai pembalap utama Mercedes lewat performa dominan di musim 2026.
- Pendekatan Red Bull yang mengutamakan satu pembalap dianggap Horner sebagai kunci menghindari konflik internal dan memenangkan gelar.
- Jika persaingan memanas, Mercedes berisiko kehilangan gelar jika tidak segera menentukan prioritas antara Antonelli dan Russell.

Mantan bos Red Bull Racing, Christian Horner, menegaskan bahwa Kimi Antonelli telah mengukuhkan posisinya sebagai pembalap nomor satu di Mercedes untuk sisa musim Formula 1 2026. Penilaian itu muncul setelah pembalap berusia 20 tahun tersebut unggul 102 poin atas rekan setimnya, George Russell, dengan enam seri tersisa. Antonelli berpeluang memastikan gelar juara dunia pada seri berikutnya di Austin, Amerika Serikat.
Dominasi Antonelli di musim keduanya di F1 terbilang luar biasa. Ia telah mengoleksi 14 podium, termasuk delapan kemenangan, dan secara konsisten mengungguli Russell yang sempat dijagokan sebagai favorit juara sebelum musim dimulai. Menurut Horner, capaian tersebut menjadi dasar kuat bagi Mercedes untuk memberikan status prioritas kepada Antonelli, terutama jika tekanan dari tim rival mulai meningkat.
“Pada akhirnya, tim adalah yang utama dan pembalap pada dasarnya adalah kontraktor. Tidak realistis menjanjikan kepada kedua pembalap bahwa mereka bisa memenangkan gelar dunia,” ujar Horner kepada Autosport, seperti dikutip Motorsport.com. Ia menambahkan bahwa superioritas di lintasan akan menentukan siapa yang berhak mendapatkan status nomor satu. “Seperti Antonelli saat ini. Ia mendapatkan posisi itu di tim melalui apa yang dilakukannya di sirkuit. Jika terjadi pertarungan ketat dengan rival dari tim lain, tim harus mengambil sikap,” tegasnya.
Pernyataan Horner ini menyoroti dilema klasik dalam manajemen tim F1: antara memberikan kesempatan setara kepada kedua pembalap atau menetapkan prioritas demi kepentingan gelar. Selama 20 tahun memimpin Red Bull (2005–2025), Horner dikenal kerap mengambil pendekatan pragmatis dengan mengutamakan satu pembalap, seperti yang dilakukannya terhadap Sebastian Vettel dan Max Verstappen—keduanya sama-sama meraih empat gelar dunia.
Sebagai pembanding, McLaren pada musim lalu menerapkan strategi berbeda dengan memberikan perlakuan setara kepada Oscar Piastri dan Lando Norris. Meski Norris akhirnya keluar sebagai juara, Verstappen hampir menggagalkan dominasi mereka. Horner juga merujuk pada insiden legendaris tahun 1986 ketika Williams membiarkan Nigel Mansell dan Nelson Piquet bersaing bebas, yang berujung pada kegagalan meraih gelar pembalap setelah Alain Prost dari McLaren tampil sebagai juara.
“Anda tidak bisa menyenangkan semua orang sepanjang waktu. Anda harus jujur dan berpegang pada prinsip: apa tujuan di sini? Itu yang terbaik untuk tim,” kata Horner menegaskan filosofinya.
Pelajaran dari masa awal Horner di Red Bull, terutama persaingan sengit antara Vettel dan Mark Webber pada 2010 yang nyaris membuyarkan gelar, menjadi landasan mengapa ia kemudian menerapkan hierarki yang jelas. Sejak 2011, Vettel mendominasi Webber, dan pola serupa diulang Verstappen terhadap rekan-rekan setimnya. Horner menilai tekanan media dan ekspektasi yang meningkat setelah tim mulai menang justru menuntut ketegasan sikap.
Bagi Mercedes, keputusan untuk mendukung Antonelli secara penuh bisa menjadi kunci mempertahankan momentum juara. Namun, langkah tersebut berisiko menimbulkan ketegangan internal, terutama jika Russell merasa diperlakukan tidak adil. Dengan selisih poin yang masih memungkinkan secara matematis, manajemen tim berada di persimpangan: mempertahankan kesetaraan atau mengamankan gelar lebih cepat. Keputusan apa pun akan menjadi ujian bagi kepemimpinan Toto Wolff dan staf Mercedes dalam mengelola ambisi dua pembalap muda berbakat.



