Mercedes Ungkap Kru Pit 'Darurat' di Singapura: Ada yang Baru Kembali ke Pit Stop Setelah 15 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Mercedes mengungkap beberapa anggota kru pitnya di GP Singapura menjalani pit stop F1 pertama setelah 15 tahun akibat cedera yang memaksa pergantian personel.
- Meski komposisi kru berubah, Mercedes tetap menjadi tim tercepat di pit lane dan mencatatkan pit stop tercepat untuk kedua kalinya secara beruntun.
- Dengan performa pit stop terbaik sepanjang musim, Mercedes berupaya menjaga konsistensi operasional menghadapi rangkaian balapan akhir yang melelahkan.

Mercedes mengungkap fakta mengejutkan dari kemenangan operasionalnya di Grand Prix Singapura: sejumlah anggota kru pit yang bertugas merupakan personel pengganti yang sudah lebih dari 15 tahun tidak menjalani pit stop langsung di ajang Formula 1. Pergantian itu terjadi karena cedera yang menimpa beberapa mekanik reguler, memaksa tim melakukan rotasi darurat di tengah jadwal balapan yang padat.
Pengungkapan ini disampaikan Wakil Kepala Tim Mercedes, Bradley Lord, dalam wawancara dengan Nu Silver Arrows Radio Show. Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi cermin kekuatan operasional tim. "Di Singapura, bahkan dengan perubahan di kru pit—kami memiliki orang-orang yang belum melakukan pit stop langsung selama 15 tahun, yang masuk sebagai pengganti karena cedera dan hal serupa—kami menjadi tim tercepat di pit lane dan mencatatkan pit stop tercepat untuk kedua kalinya secara beruntun," ujar Lord seperti dikutip Motorsport.com.
Prestasi itu bukan kebetulan. Sepanjang 17 grand prix yang telah berlangsung, Mercedes delapan kali mencatatkan waktu penggantian ban tercepat jika diukur dari durasi total di pit lane. Ferrari dan Audi berbagi posisi kedua dengan masing-masing tiga kali, sementara tim pendatang Cadillac baru menembus 10 besar sekali di Kanada (pit stop tercepat keenam) dan di Italia yang hanya menggelar sembilan pit stop.
Lord menambahkan bahwa tantangan sesungguhnya baru akan datang. Rangkaian tiga balapan berturut-turut di Azerbaijan, Malaysia, dan Singapura disebutnya sebagai periode paling menuntut dari sisi suhu, kelembapan, dan kondisi garasi. "Itu menunjukkan level operasional tim, dan sangat menggembirakan menjelang bagian tersulit musim ini—perjalanan panjang jauh dari rumah dan keluarga. Benar-benar beroperasi di level yang sangat tinggi," katanya.
Di klasemen pembalap, Kimi Antonelli masih memimpin dengan keunggulan 102 poin atas rekan setimnya, George Russell, yang naik dari sebelumnya 81 poin. Meski demikian, Mercedes kehilangan sedikit ground di klasemen konstruktor dari Red Bull dan Ferrari. Ferrari memang sedikit mencetak poin lebih banyak dalam tiga balapan terakhir, tetapi masih tertinggal 134 poin dari Mercedes. Lord menegaskan keunggulan itu belum aman dan tim harus fokus membawa kedua mobil finis setinggi mungkin.
Bagi Mercedes, konsistensi pit stop menjadi modal berharga di sisa musim. Dengan personel yang sempat terseok-seok akibat cedera, kemampuan mempertahankan standar tinggi di pit lane menunjukkan kedalaman skuad dan sistem kerja yang mapan. Namun, jadwal padat dan tekanan dari rival diprediksi akan terus menguji ketahanan tim. Apakah Mercedes mampu mempertahankan rekor pit stop tercepat hingga balapan penutup, atau justru kelelahan personel menjadi titik lemah yang dimanfaatkan Ferrari dan Red Bull?



