Fred Lorenzen, Legenda NASCAR, Jadi Pembalap Pertama yang Terdiagnosis CTE
Baca dalam 60 detik
- Fred Lorenzen, pemenang Daytona 500 1965, meninggal pada Desember 2024 dan otaknya didonorkan untuk penelitian.
- Diagnosis CTE stadium 3 pada Lorenzen menandai pertama kalinya penyakit degeneratif otak dikonfirmasi pada pembalap NASCAR.
- Keluarga Lorenzen menyumbang $1 juta dan meluncurkan saluran bantuan untuk mendukung pembalap dengan cedera otak.

Fred Lorenzen, salah satu ikon awal NASCAR, secara anumerta terdiagnosis Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE) stadium 3, menjadikannya pembalap pertama yang dikonfirmasi mengidap penyakit degeneratif otak akibat benturan berulang. Pengumuman dari Concussion & CTE Foundation ini menandai momen penting dalam sejarah keselamatan motorsport, mengingat diagnosis CTE hanya bisa dipastikan setelah kematian.
Lorenzen meninggal pada Desember 2024 di usia 89 tahun. Pada 2016, ia memutuskan mendonasikan otaknya untuk riset, sebuah keputusan yang delapan tahun kemudian mengungkap dampak panjang karier balap profesional terhadap kesehatan otak. CTE sendiri selama ini lebih sering dikaitkan dengan atlet olahraga kontak seperti American football dan tinju, sehingga temuan ini memperluas pemahaman tentang risiko di dunia balap.
Keputusan Lorenzen mendonorkan otak bukan tanpa alasan. Ia menyadari pentingnya data ilmiah untuk memahami dampak cedera kepala berulang. Langkah serupa juga direncanakan Dale Earnhardt Jr., yang karier Cup-nya berakhir prematur akibat beberapa kali gegar otak. Kesadaran kolektif di kalangan pembalap soal risiko jangka panjang ini kian menguat, terutama setelah tiga kali juara Cup Series Darrell Waltrip mengumumkan mundur dari kehidupan publik karena didiagnosis Frontotemporal Degeneration (FTD) yang dikaitkan dengan cedera saat balapan.
"Kami berharap diagnosis ini menjadi titik balik bagi keselamatan pembalap, tidak hanya di NASCAR tetapi di seluruh cabang motorsport," ujar perwakilan Concussion & CTE Foundation dalam pernyataannya.
Sepanjang kariernya, Lorenzen dikenal sebagai sosok karismatik dengan julukan seperti "Fast Freddie" dan "Golden Boy". Ia dua kali terpilih sebagai Most Popular Driver dan masuk dalam daftar 50 Pembalap Terbaik NASCAR serta dilantik ke Hall of Fame pada 2015. Prestasi terbesarnya termasuk kemenangan di Daytona 500 1965 dan dua gelar World 600 (kini Coca-Cola 600) pada 1963 dan 1965. Meski tidak pernah mengikuti musim penuh, ia tetap kompetitif, bahkan finis ketiga di klasemen 1963.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya protokol keselamatan di ajang balap nasional, terutama setelah insiden cedera kepala yang menimpa pembalap muda. Meski belum ada studi serupa di Tanah Air, langkah Lorenzen dan keluarganya dapat memicu diskusi tentang perlunya pendataan cedera otak di kalangan atlet motorsport Indonesia, termasuk di ajang MotoGP dan Formula E yang digelar di sirkuit internasional.
Ke depan, diagnosis ini diharapkan mendorong regulasi lebih ketat terkait perlindungan kepala di semua level balap, serta mempercepat riset CTE yang masih minim. Pertanyaannya, akankah federasi motorsport dunia mengikuti jejak NASCAR dalam mengalokasikan dana riset dan mendukung mantan pembalap yang mengalami gejala neurologis?



