Kudus Jadi Kunci Tottenham, De Zerbi Puji Performa dan Sebut Mirip Dembele
Baca dalam 60 detik
- Mohammed Kudus tampil impresif saat Tottenham menang 3-1 atas Coventry City, menyumbang satu assist dan akurasi umpan 97 persen.
- Pelatih Roberto De Zerbi memuji Kudus dan mengaku tak ingin menariknya, tetapi memberi kesempatan kepada Kulusevski yang baru pulih dari cedera.
- Perbandingan Kudus dengan Mousa Dembele mencuat berkat kekuatan fisik dan kemampuan membawa bola, menjadikannya andalan baru Spurs.

Kemenangan 3-1 Tottenham Hotspur atas Coventry City pada laga lanjutan Premier League, Selasa (20/10/2026) dini hari WIB, bukan sekadar tiga poin. Performa Mohammed Kudus di lini depan menjadi sorotan utama, bahkan pelatih Roberto De Zerbi secara terbuka melontarkan pujian khusus untuk pemain asal Ghana tersebut.
Kudus, yang didatangkan dengan harga 55 juta poundsterling, tampil sebagai motor serangan Spurs sepanjang pertandingan. Ia menyumbang satu assist untuk gol pembuka James Maddison dan mencatatkan akurasi umpan mencapai 97 persen—angka yang luar biasa untuk seorang penyerang. Dua umpan kunci dan empat progressive carries menunjukkan peran sentralnya dalam membangun transisi cepat dari bertahan ke menyerang.
De Zerbi mengakui bahwa ia sebenarnya tidak berencana menarik Kudus keluar lapangan. Namun, ia ingin memberikan kesempatan kepada Dejan Kulusevski yang baru pulih dari cedera untuk merasakan atmosfer pertandingan di hadapan pendukung sendiri. "Saya pikir Kudus bisa menyelesaikan pertandingan, tetapi saya memikirkan Kulusevski karena para penggemar sudah menantinya," ujar De Zerbi dalam konferensi pers usai laga.
Perbandingan dengan legenda Tottenham, Mousa Dembele, pun mencuat. Pengamat sepak bola John Wenham menyebut Kudus sebagai pemain yang paling mendekati sosok Dembele dari segi kekuatan fisik dan kemampuan menahan bola. "Kudus seperti dua pemain dalam satu tubuh. Di satu sisi ia adalah winger kanan yang lincah dan produktif, di sisi lain ia punya kekuatan seperti gelandang tengah," kata Wenham.
"Dia adalah padanan terdekat dengan Mousa Dembele yang pernah kami miliki, dalam hal kekuatan dan cara ia menahan pemain lawan, meskipun mereka tipe pemain yang sangat berbeda," ujar Wenham.
Senada dengan itu, jurnalis Alasdair Gold menilai Kudus memiliki "getaran Dembele yang lebih maju dan berbahaya dalam mencetak gol". Fleksibilitas peran—sebagai winger yang mengancam maupun gelandang yang kuat dalam duel—membuatnya menjadi ancaman ganda bagi pertahanan lawan.
Bagi Tottenham, konsistensi Kudus menjadi krusial. Musim lalu, Spurs sempat kehilangan momentum setelah start menjanjikan. Kini, dengan De Zerbi di kursi pelatih, tim berharap dapat menghindari pola serupa. Kudus, yang masih berusia 26 tahun, berpotensi menjadi tumpuan jangka panjang jika mampu menjaga kebugaran dan performa.
Pertanyaan ke depan: mampukah Kudus mempertahankan level permainan ini ketika Tottenham menghadapi lawan-lawan yang lebih berat? De Zerbi tampaknya sudah menemukan jawabannya, tetapi ujian sesungguhnya baru akan dimulai.



