Menanti Ballon d'Or ke-70: Kane dan Bayangan Kejayaan Bundesliga di London
Baca dalam 60 detik
- Upacara Ballon d'Or 2025 di London Palladium menjadi panggung bagi Harry Kane dan tiga rekannya dari Bayern Munich yang masuk nominasi.
- Bundesliga memiliki sejarah panjang sebagai pemasok peraih trofi, dengan enam nama yang pernah mengangkatnya sebelum era dominasi La Liga dan Premier League.
- Tidak ada pemain Bundesliga yang menang sejak Matthias Sammer pada 1996, memicu pertanyaan apakah hegemoni liga Jerman bisa kembali.

London Palladium akan menjadi saksi bisu upacara Ballon d'Or ke-70 pada 26 Oktober mendatang, dan sorotan utama tertuju pada Harry Kane. Penyerang Bayern Munich itu masuk dalam deretan favorit, bersama tiga rekannya—Luis Díaz, Michael Olise, dan Dayot Upamecano—yang juga menerima nominasi. Bagi Bundesliga, momen ini bukan sekadar perayaan individu, melainkan ujian atas klaim liga sebagai kawah candradimuka talenta kelas dunia.
Sejarah mencatat, Bundesliga pernah menjadi rumah bagi para peraih trofi paling bergengsi dalam sepak bola dunia. Enam nama telah mengukir prestasi itu, dimulai dari Gerd Müller pada 1970 hingga Matthias Sammer pada 1996. Namun, lebih dari dua dekade berlalu tanpa satu pun pemain yang berlaga di Jerman mampu mengulangi capaian tersebut. Dominasi kemudian bergeser ke Spanyol dan Inggris, meninggalkan Bundesliga dengan kenangan manis yang perlahan memudar.
Gerd Müller adalah pionir. Pada 1970, ia menjadi orang Jerman pertama sekaligus wakil Bundesliga pertama yang meraih Ballon d'Or. Dengan 38 gol liga untuk Bayern pada musim 1969/70, ia tak hanya mengamankan Torjägerkanone kedua, tetapi juga menyumbang 10 gol bagi Jerman Barat di Piala Dunia 1970, yang mengantarkannya meraih Sepatu Emas. Meski Jerman Barat gagal juara—kalah dramatis 4-3 dari Italia di semifinal—prestasi Müller diakui secara luas, dan ia finis di atas Bobby Moore dalam pemungutan suara.
Franz Beckenbauer kemudian meneruskan estafet. Dua gelar Ballon d'Or (1972 dan 1976) menempatkannya sebagai bek pertama yang meraih trofi itu dua kali. Pada 1972, kemenangannya sangat tipis—hanya selisih dua poin dari rekan setimnya Müller dan Günter Netzer dari Borussia Mönchengladbach—menandai pertama kalinya tiga pemain dari liga yang sama menduduki posisi teratas. Empat tahun berselang, setelah membawa Bayern meraih Piala Eropa ketiga berturut-turut, Beckenbauer menang dengan margin lebih nyaman.
Allan Simonsen (1977) dan Kevin Keegan (1978, 1979) memperluas cakrawala. Simonsen, pemain Denmark pertama yang menang, membawa Gladbach meraih gelar liga ketiga beruntun dan mencapai final Piala Eropa. Keegan, yang bergabung dengan Hamburg dari Liverpool, menjadi orang Inggris pertama yang meraih Ballon d'Or dua kali—sebuah rekor yang masih bertahan hingga kini. Karl-Heinz Rummenigge (1980, 1981) melanjutkan tradisi dengan dua gelar beruntun, menjadikannya pemain Bundesliga keenam yang menang dan menutup dekade emas liga Jerman.
Matthias Sammer menjadi yang terakhir pada 1996. Sebagai kapten Borussia Dortmund, ia membawa klub meraih dua gelar liga beruntun dan tampil impresif di Euro 1996, di mana ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik turnamen. Kemenangannya atas Ronaldo dalam pemungutan suara menandai puncak terakhir kejayaan Bundesliga di panggung individu global.
Kegagalan Bundesliga melahirkan peraih Ballon d'Or dalam 28 tahun terakhir bukan tanpa alasan. Liga Jerman kerap dianggap sebagai kompetisi transisi bagi talenta muda sebelum mereka pindah ke klub-klub raksasa Eropa. Robert Lewandowski, yang nyaris menang pada 2021, dan Sadio Mané yang menjadi runner-up 2022, adalah contoh bagaimana pemain Bundesliga mampu bersaing tetapi sering kali kalah pamor oleh bintang La Liga atau Premier League. Dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo selama lebih dari satu dekade turut mempersempit peluang.
Kini, dengan Kane yang sedang dalam performa puncak, harapan itu kembali menyala. Namun, ia harus bersaing dengan nama-nama besar dari liga yang lebih mediagenik. Jika Kane berhasil, itu akan menjadi pukulan telak bagi narasi bahwa Bundesliga hanyalah liga pengembangan, sekaligus membuktikan bahwa kejayaan masa lalu bisa terulang. Sebaliknya, kegagalan akan mempertegas bahwa Ballon d'Or telah menjadi milik liga-liga dengan eksposur global lebih besar.
Pertanyaannya, apakah Bundesliga mampu mengakhiri puasa gelar individu paling bergengsi ini, ataukah sejarah akan terus mencatat Sammer sebagai peraih terakhir hingga beberapa dekade mendatang? Upacara di London nanti akan memberikan jawabannya, tetapi satu hal pasti: tekanan kini berada di pundak Kane dan rekan-rekannya untuk membuktikan bahwa Jerman masih layak diperhitungkan.



