Ten Hag Buka Suara Soal Ronaldo, Piers Morgan: Itu Distorsi Kebenaran
Baca dalam 60 detik
- Erik ten Hag mengklaim Cristiano Ronaldo tidak disiplin dalam latihan dan merusak tim sebelum hengkang dari Manchester United pada 2022.
- Piers Morgan membalas tuduhan itu sebagai 'distorsi kebenaran yang menjijikkan' dan menyebut Ten Hag sebagai pelatih gagal.
- Kontroversi ini kembali memanaskan perdebatan lama, sementara Ronaldo sendiri tengah menjalani sanksi dari Federasi Sepak Bola Portugal.

Mantan pelatih Manchester United, Erik ten Hag, membuka kembali luka lama dengan mengungkap detail keretakan hubungannya bersama Cristiano Ronaldo. Dalam wawancara eksklusif dengan The Athletic, pria asal Belanda itu menuding Ronaldo tidak profesional dalam menjaga kondisi fisik dan disiplin latihan selama periode keduanya di Old Trafford. Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari jurnalis sekaligus pengagum Ronaldo, Piers Morgan, yang menilai narasi Ten Hag sebagai bentuk pemutarbalikan fakta.
Ronaldo meninggalkan United pada November 2022 melalui kesepakatan bersama, beberapa hari setelah wawancara kontroversialnya bersama Morgan. Kini, hampir dua tahun berselang, Ten Hag mencoba memberikan pembelaan diri. Ia mengklaim telah terbang ke Portugal untuk membicarakan rencana tim sebelum resmi menangani United. Namun, keputusan untuk menyingkirkan Ronaldo dianggapnya sebagai langkah rasional demi kepentingan kolektif. "Dia mengecewakan tim, dan dia mengecewakan saya, karena kami sudah merencanakan segalanya bersamanya," ujar Ten Hag dalam wawancara tersebut.
Lebih jauh, Ten Hag menyoroti kebiasaan latihan Ronaldo yang dianggapnya kontraproduktif. Menurutnya, penyerang berusia 41 tahun itu kerap meminta rekan setimnya menghemat tenaga saat sesi latihan, sehingga menurunkan standar intensitas tim. "Dia tidak berlari baik saat menguasai bola maupun tidak. Alasannya karena dia tidak mempersiapkan diri dengan benar," tambahnya. Ten Hag menegaskan bahwa pemain bintang sekalipun wajib bekerja untuk tim, bukan sebaliknya.
Piers Morgan, yang dikenal sebagai pembela setia Ronaldo, tidak tinggal diam. Melalui akun X, ia menyebut pernyataan Ten Hag sebagai "distorsi kebenaran yang menjijikkan". Morgan bahkan menyerang kredibilitas Ten Hag dengan menyebutnya sebagai pelatih "tidak berguna" dan menyinggung kegagalan pria itu di Bayer Leverkusen, di mana ia hanya bertahan 62 hari sebelum diberhentikan. Bagi Morgan, narasi Ten Hag jelas bertentangan dengan fakta yang ia ketahui langsung dari sumber utama.
"Itu adalah distorsi kebenaran yang menjijikkan. Ten Hag tidak berguna, dan tidak ada klub besar yang mendekatinya setelah dipecat Bayer Leverkusen," tulis Morgan di platform X.
Kontroversi ini bukan sekadar perang kata-kata antara dua tokoh. Bagi Manchester United, bayang-bayang Ronaldo seakan sulit dihapus dari ruang ganti. Sejak kepergiannya, klub terus mencari identitas permainan yang stabil, sementara Ten Hag sendiri kini menghadapi tekanan besar setelah serangkaian hasil buruk. Pernyataan sang pelatih bisa dibaca sebagai upaya untuk menegaskan otoritasnya, tetapi sekaligus membuka kembali perdebatan tentang manajemen bintang besar di Old Trafford.
Di sisi lain, Ronaldo tengah menghadapi masalah disiplin di level internasional. Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) menjatuhkan sanksi 30 hari serta denda sekitar ยฃ220 setelah ia meninggalkan pemusatan latihan timnas di Kopenhagen awal bulan ini. Keputusan itu diambil setelah Ronaldo tidak dimainkan sebagai starter dalam laga Nations League melawan Denmark, yang memicu ketegangan dengan pelatih Jorge Jesus. Ronaldo mengklaim ada janji soal menit bermain yang tidak ditepati, sementara Jesus membantah adanya kesepakatan semacam itu.
Meski demikian, Ronaldo telah menyampaikan permintaan maaf kepada rekan setim dan pendukung Portugal. Ia juga menyatakan tetap tersedia untuk dipanggil kembali setelah masa sanksi berakhir. FPF sendiri belum merinci laga mana saja yang tercakup dalam hukuman tersebut, atau apakah masa skorsing sementara yang sudah dijalani akan dihitung. Ketidakjelasan ini menambah kompleksitas situasi yang dihadapi sang kapten.
Bagi publik Indonesia, polemik Ronaldo-Ten Hag mungkin terasa jauh dari lapangan hijau domestik. Namun, cara United mengelola konflik dengan pemain sekaliber Ronaldo menawarkan pelajaran berharga tentang manajemen ego dan komunikasi di ruang ganti. Timnas Indonesia yang tengah membangun fondasi dengan pemain naturalisasi juga perlu memastikan bahwa hierarki dan disiplin internal tidak menjadi bumerang ketika bintang besar masuk ke dalam tim.
Ke depan, pernyataan Ten Hag berpotensi memperpanjang stigma negatif terhadap Ronaldo, meski warisan sang pemain di United sudah terukir. Sebaliknya, Morgan akan terus memainkan perannya sebagai pembela utama. Pertanyaannya, akankah Ten Hag membuktikan bahwa keputusannya memang rasional dengan prestasi bersama United, atau justru memperkuat anggapan bahwa ia gagal mengelola salah satu pemain terbaik dalam sejarah?



