Bayern Hadapi Arsenal Tanpa Olise, Tapi Rekor Kandang dan Ketajaman Kane Jadi Alarm
Baca dalam 60 detik
- Bayern Munich akan menjamu Arsenal di Liga Champions tanpa Michael Olise yang menjalani skorsing, namun lini serang tetap bertabur bintang.
- Rekor kandang Bayern sangat dominan: hanya satu kekalahan dari 31 laga kandang terakhir di Liga Champions, dengan Harry Kane mencetak rekor usia 30+.
- Kedalaman skuad dan pengalaman Kompany melawan Arsenal menjadi modal, tetapi Arsenal bukan lawan mudah di bawah Arteta.

Bayern Munich memasuki laga krusial Liga Champions melawan Arsenal dengan satu absen penting: Michael Olise diskors. Meski demikian, catatan kandang Bayern di kompetisi ini nyaris tanpa cela, dan hal itu menjadi alasan kuat mengapa tuan rumah tetap diunggulkan pada pertemuan di Allianz Arena, Rabu (waktu setempat).
Data menunjukkan Bayern hanya sekali kalah dalam 31 pertandingan kandang terakhir di Liga Champions. Kekalahan terakhir di fase liga/grup terjadi pada Desember 2013. Musim lalu, mereka mengalahkan Real Madrid 4-3 dan menahan imbang Paris Saint-Germain di Munich pada babak gugur. Pada laga pembuka musim ini, Bayern menghancurkan Bodø/Glimt 5-0. Rekor ini menegaskan dominasi Bayern di hadapan pendukung sendiri, dan Arsenal diprediksi akan menghadapi tekanan besar.
Kendati kehilangan Olise, lini depan Bayern tetap berbahaya. Vincent Kompany memiliki stok penyerang melimpah: Luis Díaz, Lennart Karl, Harry Kane, dan Ismael Saibari yang direkrut musim panas. Serge Gnabry juga sudah pulih dan siap mengisi posisi sayap kanan. Jamal Musiala masih cedera, tetapi kedalaman skuad memungkinkan Bayern tampil tanpa penurunan kualitas berarti.
Harry Kane menjadi sorotan utama. Penyerang Inggris itu mencetak dua gol saat Bayern bermain imbang 3-3 melawan Viking Stavanger, memperpanjang rekor golnya menjadi sembilan laga beruntun di Liga Champions. Ia juga melampaui rekor Messi untuk gol terbanyak setelah usia 30 tahun dan menyamai posisi kedelapan dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa kompetisi. Menghadapi Arsenal, klub yang merupakan rival lokal Tottenham Hotspur semasa Kane di London, laga ini memiliki makna emosional tersendiri. Rekor 15 gol dalam 22 penampilan melawan The Gunners memperkuat statusnya sebagai ancaman utama.
Kompany telah 18 kali menghadapi Arsenal sebagai pemain bersama Hamburg dan Manchester City, termasuk mencetak gol dan menjadi kapten saat City menang di final Piala EFL 2018. Pengalaman itu memberinya pemahaman mendalam tentang kekuatan tim asuhan Mikel Arteta.
Selain Kane, Luis Díaz juga punya catatan apik melawan Arsenal: dua gol dan tiga assist dalam tujuh pertemuan saat masih di Liverpool. Gnabry, yang menghabiskan empat musim di akademi Arsenal sejak usia 16, juga tahu betul karakter The Gunners. Kombinasi pengalaman dan kualitas individu ini membuat Bayern percaya diri meski tanpa Olise.
Arsenal sendiri datang sebagai juara bertahan Premier League dan bukan lawan sembarangan. Di bawah Arteta, mereka tumbuh menjadi tim yang solid dan sulit dikalahkan. Namun, rekor kandang Bayern dan ketajaman Kane menjadi tembok yang harus ditembus. Pertanyaan besarnya: mampukah Arsenal mengakhiri dominasi Bayern di Allianz Arena, atau justru Kane dan kawan-kawan yang kembali mempertegas status sebagai raja kandang di Eropa?



