RAF Kirim Jet Typhoon ke Arab Saudi, Batasi Diri pada Misi Defensif
Baca dalam 60 detik
- London mengerahkan pesawat tempur Typhoon untuk membantu Riyadh menghadapi serangan rudal dan drone Houthi yang kian intensif.
- Menteri Pertahanan Wes Streeting menegaskan aturan keterlibatan: hanya bertahan, tanpa serangan ofensif ke Yaman.
- Dukungan udara Inggris membebaskan aset Arab Saudi untuk operasi serangan, sementara pengisian bahan bakar di udara diperpanjang 90 hari.

Inggris memutuskan mengirim jet tempur Typhoon milik Royal Air Force (RAF) ke Arab Saudi guna menghadapi eskalasi serangan rudal dan drone kelompok Houthi yang didukung Iran. Keputusan ini diumumkan pemerintah pada Selasa, dengan penekanan bahwa misi tersebut murni defensif dan tidak akan melakukan serangan ofensif ke wilayah Yaman.
Langkah London itu menyusul serangkaian serangan Houthi terhadap kota-kota dan infrastruktur vital Arab Saudi, termasuk ibu kota Riyadh dan fasilitas energi di pesisir. Perdana Menteri Andy Burnham memberikan otorisasi langsung untuk pengerahan skuadron Typhoon, yang akan beroperasi bersama penasihat militer dan pesawat angkut A400M guna mendukung pergerakan peralatan pertahanan di dalam negeri Saudi.
Menteri Pertahanan Wes Streeting, dalam pernyataan tertulis, menegaskan pesawat-pesawat itu "akan beroperasi dalam peran defensif dan tidak akan melakukan serangan ofensif terhadap Houthi". Ia menambahkan bahwa serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh pada 10 Oktober lalu—yang menewaskan 13 orang dan melukai 308 lainnya—menunjukkan keseriusan eskalasi Houthi. "Itulah sebabnya hari ini saya menyetujui dukungan militer Inggris lebih lanjut," ujarnya.
Sejak September, Arab Saudi memang kewalahan mempertahankan wilayah udaranya setelah gencatan senjata di Yaman runtuh. Houthi melancarkan ofensif baru terhadap pemerintah Yaman yang diakui internasional, merebut kendali efektif Selat Bab al-Mandab, lalu menggempur sasaran-sasaran strategis di jantung Saudi. Bandara King Khalid, fasilitas energi, dan pelabuhan utama menjadi bukti bahwa sistem pertahanan udara Riyadh tidak sepenuhnya efektif. Otoritas Saudi mencatat 19 orang tewas dalam serangan terhadap bandara sepanjang pekan lalu.
Keterbatasan pertahanan udara Saudi menjadi akar masalah. Sebagian besar kapabilitas sistem pertahanan mereka terkuras untuk menghadapi serangan Iran pada awal tahun ini, sementara luasnya wilayah negara menyulitkan cakupan perlindungan menyeluruh. Kehadiran Typhoon RAF diharapkan tidak hanya memperkuat layar pertahanan, tetapi juga membebaskan jet-jet Saudi untuk beralih ke operasi ofensif terhadap Houthi. Dukungan Inggris sebelumnya telah mencakup peralatan pertahanan dan pengisian bahan bakar di udara, yang kini diperpanjang 90 hari.
"Penargetan Bandara Riyadh menunjukkan sejauh mana Houthi berupaya meningkatkan eskalasi di kawasan," kata Streeting, seraya menyinggung gangguan pasokan energi di Teluk yang menaikkan biaya bagi keluarga dan dunia usaha.
Di Yaman, korban terus berjatuhan. Sebuah serangan rudal Houthi terhadap kamp al-Alam di Provinsi Shabwa awal pekan ini menewaskan lebih dari 70 personel keamanan. Juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, bersumpah melanjutkan "operasi eskalasi di jantung Arab Saudi". Sementara itu, kementerian kesehatan Yaman yang didukung Saudi melaporkan sedikitnya 1.282 orang tewas sejak 6 Agustus, angka yang menggambarkan betapa luas dampak konflik.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Bab al-Mandab dan serangan terhadap fasilitas energi Saudi merupakan peringatan langsung. Sebagai negara pengimpor minyak dan gas, lonjakan harga energi global akibat gangguan pasokan dari Teluk akan menekan anggaran subsidi, biaya logistik, dan daya beli masyarakat. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini, terutama jika eskalasi mengganggu jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi perdagangan ekspor-impor Indonesia.
Ke depan, pengerahan Typhoon RAF dapat memperpanjang keterlibatan militer Inggris di kawasan, meski dibingkai sebagai misi defensif. Pertanyaannya, sampai kapan batas antara "defensif" dan "ofensif" bisa dipertahankan jika Houthi terus meningkatkan serangan? Dan akankah langkah London ini memicu respons lebih keras dari Teheran, yang selama ini dituding berada di belakang Houthi?



