Arsenal Menang, Tapi Dua Bintang Mahal Ini Terancam Tergusur
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan 1-0 Arsenal atas Nottingham Forest kembali menegaskan pola pragmatis Mikel Arteta, namun menyisakan pertanyaan besar soal peran Eberechi Eze dan Martin Zubimendi.
- Eze ditarik keluar pada babak pertama karena dianggap tak cocok mengisi sayap kiri, sementara Zubimendi kehilangan tempat utama setelah kedatangan Bruno Guimaraes dan munculnya Myles Lewis-Skelly.
- Kedua pemain berharga mahal itu disebut berpotensi masuk daftar jual pada bursa transfer musim panas mendatang jika situasi tak berubah.

Arsenal memetik tiga poin dari Nottingham Forest lewat skor tipis 1-0, sebuah hasil yang kian identik dengan cara kerja Mikel Arteta sejak Desember 2019. Namun di balik kemenangan itu, dua nama mahal justru berada di persimpangan: Eberechi Eze dan Martin Zubimendi.
Sejak Arteta memegang kendali, Arsenal telah mengoleksi 32 kemenangan 1-0 di Premier League. Pendekatan berbasis pertahanan solid itu memang terbukti efektif, tetapi tuntutan untuk lebih tajam di sepertiga akhir lapangan semakin sulit diabaikan. Di sinilah masalah Eze mencuat.
Melawan Forest, Eze kembali dimainkan di sayap kiri—posisi yang secara alami bukan wilayahnya. Ia ditarik keluar saat jeda setelah tampil tanpa satu pun tembakan, umpan kunci, atau umpan silang, dengan akurasi passing hanya 69 persen. Penggantinya, Noni Madueke, justru menjadi penentu kemenangan.
"Saya menginginkan sesuatu yang berbeda, dan kami butuh profil lain di sisi kiri. Saya di sini untuk mengambil keputusan," kata Arteta usai laga, seperti dikutip dari Football FanCast.
Keputusan itu bukan yang pertama bagi Eze. Musim lalu, ia juga sempat ditarik keluar pada babak pertama saat Arsenal kalah 2-1 dari Aston Villa. Bedanya, kini harapan publik Emirates Stadium jauh lebih tinggi, terutama setelah performa impresifnya bersama Crystal Palace dan Timnas Inggris.
Persoalan Eze sebenarnya berakar pada perencanaan skuad. Arsenal melepas Gabriel Martinelli, Gabriel Jesus, dan Leandro Trossard tanpa mendatangkan pengganti sepadan, kecuali Christos Tzolis. Ketika Tzolis cedera, beban di sayap kiri otomatis jatuh ke Eze—sebuah peran yang jelas tidak ia kuasai.
Di lini tengah, situasi Zubimendi tak kalah pelik. Gelandang Spanyol itu sempat menjadi salah satu pembelian terbaik Andrea Berta, tampil mengesankan hampir sepanjang musim lalu. Hanya Declan Rice yang mencatat menit bermain lebih banyak di antara pemain outfield Arsenal pada 2025/26.
Namun, semakin panjang kompetisi berjalan, performa Zubimendi menurun. Myles Lewis-Skelly kemudian mengambil alih posisi tersebut dan menunjukkan kualitas progresif yang lebih menjanjikan—lincah menghindari pressing dan tajam mengirim umpan menembus lini lawan.
Kedatangan Bruno Guimaraes seharga 75 juta poundsterling dari Newcastle United makin mempersempit ruang Zubimendi. Bahkan Guimaraes, yang berstatus pemain bintang, harus puas lebih sering duduk di bangku cadangan. Jika pemain sekelas dia saja kesulitan menembus starting XI, peluang Zubimendi jelas semakin tipis.
Kritik terhadap bursa transfer 2025 mulai mengemuka. Tak satu pun pemain yang direkrut setahun lalu kini menjadi pilihan utama. Kai Havertz telah menyalip Viktor Gyokeres dalam hierarki, sementara Piero Hincapie dan Cristhian Mosquera masih dipandang sebagai pelapis.
Bagi Arsenal, dilema ini bukan sekadar soal menit bermain. Eze dan Zubimendi adalah aset bernilai tinggi yang dibeli untuk jangka panjang. Menjual mereka terlalu cepat berarti mengakui kesalahan perencanaan, tetapi mempertahankan keduanya tanpa peran jelas berisiko merusak harmoni skuad dan nilai jual.
Jika tren ini berlanjut hingga akhir musim, bukan tidak mungkin keduanya masuk daftar transfer pada jendela musim panas mendatang. Pertanyaannya, apakah Arsenal akan bergerak lebih agresif di pasar untuk menambal sayap kiri dan lini tengah, atau justru memberi Eze dan Zubimendi kesempatan terakhir membuktikan diri?



