Erick Thohir: Indonesia Women's League Jadi Kunci Dongkrak Prestasi Timnas Putri
Baca dalam 60 detik
- PSSI resmi membuka Indonesia Women's League 2026/2027 di Stadion Madya, Jakarta, sebagai upaya memperbanyak jam terbang pesepak bola wanita Tanah Air.
- Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai kompetisi klub menjadi instrumen penting untuk memantau talenta baru dan memperkuat fondasi tim nasional putri.
- Target jangka pendek adalah membangun daya saing di Asia Tenggara sebelum mengejar prestasi yang lebih tinggi di kancah internasional.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa Indonesia Women's League bukan sekadar kompetisi rutin, melainkan fondasi untuk memperbaiki performa Timnas Putri Indonesia. Saat membuka ajang 2026/2027 di Stadion Madya, Jakarta, Minggu (18/10/2026), ia menyatakan harapan agar liga ini memperbanyak menit bermain pesepak bola wanita dan mempercepat munculnya talenta baru.
Menurut Erick, kualitas tim nasional tidak bisa dibangun secara instan. Diperlukan kompetisi klub yang berjalan reguler agar para pemain terbiasa menghadapi tekanan pertandingan sesungguhnya. Ia menilai pengalaman bertanding di level klub akan menjadi bekal berharga ketika pemain dipanggil memperkuat timnas. "Kesempatan bermain secara reguler penting agar pemain terus mengembangkan kemampuan dan mendapatkan pengalaman kompetitif," ujar Erick seperti dikutip dari pernyataannya usai pembukaan liga.
Lebih jauh, Erick menyoroti peran liga sebagai alat pemantauan bagi PSSI. Dengan semakin banyak pemain tampil di level klub, federasi memiliki basis data lebih luas untuk menilai performa dan memilih pemain yang layak masuk skuad timnas. Ia juga menyebut penampilan Timnas Indonesia U-17 dan senior saat ini sudah menunjukkan tanda-tanda positif, dan berharap kompetisi ini membuka jalan bagi lebih banyak pemain untuk masuk radar tim nasional.
Dalam konteks yang lebih luas, pembentukan liga wanita ini merupakan langkah strategis untuk mengatasi kesenjangan jam terbang antara pemain putra dan putri. Selama ini, pesepak bola wanita Indonesia kerap kesulitan mendapatkan kompetisi berkelanjutan, sehingga perkembangan mereka terhambat. Dengan adanya liga, para pemain memiliki panggung tetap untuk unjuk kemampuan, sekaligus menarik perhatian klub dan pelatih timnas.
Erick juga menegaskan bahwa mimpi membawa Timnas Putri berprestasi di tingkat internasional harus diimbangi dengan kerja keras. "Boleh dong mimpi? Kerja kerasnya kita mulai," tuturnya. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan realistis: target jangka pendek adalah membangun daya saing di kawasan Asia Tenggara, sebelum membidik pencapaian yang lebih tinggi. Menurutnya, proses menuju prestasi harus dimulai dari langkah-langkah konkret, salah satunya melalui kompetisi domestik yang sehat.
Keberadaan Indonesia Women's League juga diharapkan memacu profesionalisme klub-klub peserta. Dengan kompetisi yang terstruktur, klub dituntut menyediakan fasilitas latihan, pelatih berkualitas, dan manajemen yang baik. Hal ini pada gilirannya akan menciptakan ekosistem sepak bola wanita yang lebih berkelanjutan, mulai dari pembinaan usia muda hingga tim senior.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi penyelenggaraan liga dan memastikan kesejahteraan pemain. Jika liga mampu berjalan rutin dan diminati sponsor, bukan tidak mungkin Timnas Putri Indonesia akan semakin kompetitif di pentas regional. Pertanyaannya, mampukah Indonesia Women's League menjadi katalis yang mengubah lanskap sepak bola wanita nasional dalam beberapa tahun mendatang?



