Wali Kota Reform UK di Hull Terjerat Investigasi Polisi soal Foto Telanjang, Desakan Mundur Menguat
Baca dalam 60 detik
- Luke Campbell, wali kota terpilih Hull and East Yorkshire dari Partai Reform UK, sedang diselidiki polisi atas tuduhan membagikan foto telanjang dirinya kepada staf perempuan.
- Rekan koalisi dan oposisi menuntut Campbell mundur sementara selama proses hukum, sementara partainya menepis tuduhan sebagai upaya pemerasan dari karyawan yang tidak puas.
- Kasus ini menguji integritas Reform UK yang tengah menanjak, sekaligus mempertaruhkan kepercayaan publik terhadap otoritas gabungan yang baru dibentuk.

Investigasi kepolisian terhadap Luke Campbell, wali kota terpilih wilayah Hull and East Yorkshire dari Partai Reform UK, mencuat setelah laporan dugaan penyebaran foto tanpa busana kepada seorang staf perempuan. Campbell, yang juga peraih medali emas Olimpiade cabang tinju, membantah keras tuduhan tersebut, namun tekanan politik agar ia mundur sementara terus menguat dari berbagai kubu.
Kantor Otoritas Gabungan Hull and East Yorkshire (HEYCA) menyatakan menghormati proses hukum yang berjalan. Juru bicara lembaga itu menegaskan bahwa pihaknya memiliki prosedur penanganan pengaduan terhadap pejabat dan staf yang harus dijalankan secara adil dan independen. Meski demikian, mereka menolak berspekulasi lebih jauh tentang hasil investigasi.
Desakan mundur datang dari dua arah. Mike Ross, pemimpin Partai Liberal Demokrat di Dewan Kota Hull yang menjadi pesaing terdekat Campbell pada pemilihan tahun lalu, menilai bahwa dalam situasi investigasi seperti ini, seorang pejabat publik semestinya menyingkir dari jabatannya untuk sementara. Senada, Anne Handley dari Partai Konservatif yang memimpin Dewan East Riding of Yorkshire menilai bahwa langkah itu juga demi melindungi Campbell sendiri hingga proses hukum tuntas.
Partai Reform UK sendiri bergerak cepat membela kadernya. Dalam pernyataan resmi, partai menegaskan bahwa Campbell membantah seluruh tuduhan dan menuding laporan itu berasal dari karyawan yang tidak puas yang berupaya memanfaatkan sengketa ketenagakerjaan tanpa dasar untuk mendapatkan kompensasi. Narasi ini menunjukkan bahwa pertarungan hukum akan berlangsung alot, bukan sekadar soal benar atau salah di mata publik.
Kasus ini menjadi ujian berat bagi Reform UK, partai yang belakangan menikmati lonjakan dukungan di Inggris. Keterlibatan seorang figur publik yang juga ikon olahraga nasional menambah dimensi sensitif: publik menuntut transparansi, sementara partai berusaha menjaga solidaritas internal. Di sisi lain, otoritas gabungan yang baru terbentuk menghadapi risiko krisis kepercayaan jika proses investigasi dianggap tidak independen.
Bagi Indonesia, dinamika ini bisa menjadi cermin tentang bagaimana pejabat publik yang tersandung kasus etik atau hukum diperlakukan. Di banyak negara, termasuk Indonesia, desakan untuk menonaktifkan pejabat selama pemeriksaan kerap muncul sebagai bentuk akuntabilitas politik. Namun praktiknya sering bergantung pada kekuatan tekanan publik dan keberanian partai untuk mengambil jarak dari kadernya.
Yang paling dinantikan sekarang adalah hasil penyelidikan polisi. Jika tuduhan terbukti, posisi Campbell bisa berakhir di tengah jalan dan Reform UK harus menanggung konsekuensi elektoral. Sebaliknya, jika tuduhan tidak terbukti, partai justru bisa mengklaim sebagai korban kampanye kotor. Pertanyaannya, akankah proses hukum berjalan transparan dan cepat, atau justru tenggelam dalam tarik-menarik politik menjelang agenda pemilu berikutnya?



