Saat Wall Street Tidur, Taruhan Chip di Kripto Hangus Rp800 Miliar dalam 10 Menit
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak $51,6 juta posisi leveraged pada kontrak berjangka saham chip dan semikonduktor dilikuidasi dalam sepuluh menit pada Sabtu malam, saat bursa AS tutup.
- Pemicunya adalah gelombang order jual di Binance yang merembet ke Hyperliquid, memicu aksi jual paksa beruntun karena tidak ada harga acuan saham sesungguhnya.
- Kejadian ini memperlihatkan risiko kontrak perpetual saham yang berdagang 24/7: harga bisa lepas dari nilai fundamental hingga pasar reguler buka Senin.

Sedikitnya $51,6 juta (sekitar Rp800 miliar) taruhan leveraged pada saham-saham chip dan dana semikonduktor lenyap dalam sepuluh menit pada Sabtu malam, ketika bursa Wall Street tutup dan tidak ada harga saham sesungguhnya yang bisa dijadikan patokan. Data CoinGlass mencatat posisi yang terpaksa ditutup antara pukul 21.22 dan 21.32 UTC itu didominasi oleh trader yang bertaruh pada kenaikan harga, dengan nilai sekitar $38 juta.
Perdagangan berlangsung melalui kontrak perpetual yang melacak harga saham dan diperdagangkan sepanjang waktu di bursa kripto. Instrumen ini memungkinkan siapa pun membeli dan menjual eksposur saham chip pada Sabtu malam, bahkan ketika pasar reguler Amerika Serikat sedang tutup. Karena tidak ada harga acuan resmi, harga kontrak bergerak semata-mata mengikuti arus order antar-trader di platform.
Menurut penelusuran David Jeong, CEO firma perdagangan Tread.fi, gelombang jual dimulai di Binance. Ia menempatkan order jual besar pertama untuk kontrak SanDisk dan Micron pada pukul 21.21.59 UTC. Kurang dari satu detik kemudian, order serupa menghantam Hyperliquid—bursa kripto tempat Trade XYZ mencatatkan kontrak saham—dan sekitar sepuluh alamat membuka posisi melawan enam kontrak terkait chip dalam waktu 1,8 detik. Pada menit pertama, Binance menangani sekitar $21,9 juta perdagangan SanDisk, jauh di atas $3,1 juta di Trade XYZ.
SOXL, dana yang mengerek tiga kali lipat pergerakan harian saham chip, menjadi korban terbesar dengan likuidasi sekitar $12,7 juta. Kontrak SanDisk dan SK Hynix menyusul dengan masing-masing sekitar $10,8 juta. Sebelumnya, saham produsen memori sudah melemah sepanjang pekan akibat kekhawatiran investor terhadap persaingan baru dari produsen chip China, CXMT.
Yang membuat insiden ini berbeda dari aksi jual biasa adalah ketiadaan jangkar harga. Trade XYZ memiliki aturan yang membiarkan perdagangan di platformnya menentukan harga referensi sendiri sampai kutipan saham eksternal kembali tersedia. Akibatnya, pada Sabtu malam para trader tidak bereaksi terhadap berita fundamental, melainkan terhadap posisi satu sama lain. Ketika satu posisi besar dilikuidasi, tekanan jual merembet ke posisi berikutnya, menciptakan spiral yang sulit dibendung.
"Dengan pasar saham tutup, tidak ada harga riil yang bisa diikuti kontrak ini, sehingga trader hanya bereaksi terhadap satu sama lain," demikian inti temuan Jeong seperti dikutip CoinDesk.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini relevan sebagai cermin risiko produk derivatif yang kian mudah diakses lewat platform digital. Kontrak perpetual saham menawarkan ilusi likuiditas 24 jam, tetapi tanpa mekanisme penghentian perdagangan (trading halt) atau batas pergerakan harga seperti di bursa reguler. Regulator dalam negeri, termasuk Bappebti dan OJK, berulang kali mengingatkan bahwa produk berleverage tinggi memiliki risiko likuidasi total, terutama ketika pasar acuan sedang tutup.
Pertanyaan besarnya: ketika kutipan saham AS kembali muncul pada pembukaan Senin, seberapa jauh harga kontrak Sabtu malam menyimpang dari nilai sebenarnya? Selisih itu akan menjadi ukuran kerugian riil bagi trader yang terlikuidasi, sekaligus ujian bagi klaim bahwa kontrak perpetual saham adalah cara sah memperdagangkan ekuitas di luar jam bursa. Jika selisihnya lebar, tekanan akan meningkat bagi platform kripto untuk memperketat aturan margin dan transparansi harga referensi.



