Tottenham Ulangi Kesalahan Perisic: Robertson Harus Segera Didepak
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur kembali merekrut pemain veteran gratis, Andy Robertson, yang dinilai sudah melewati masa jayanya.
- Keputusan itu mengulang blunder Ivan Perisic pada 2022, yang hanya mencetak satu gol di musim perdananya.
- Kekalahan dari Aston Villa memperlihatkan kelemahan Robertson, dan Spurs disarankan beralih ke pemain muda seperti Destiny Udogie.

Keputusan Tottenham Hotspur mendatangkan Andy Robertson secara gratis pada bursa transfer musim panas lalu kembali memicu kritik tajam. Bek kiri berusia 32 tahun itu dinilai sudah kehilangan performa puncaknya, dan kegagalan The Lilywhites mengantisipasi hal tersebut membuat langkah tersebut terasa seperti pengulangan kesalahan masa lalu.
Robertson, yang menghabiskan delapan musim di Liverpool, kehilangan tempat utama di Anfield pada musim lalu setelah kedatangan Milos Kerkez. Meski begitu, Spurs tetap merekrutnya dengan harapan pengalaman Robertson bisa menjadi nilai tambah. Harapan itu tampaknya belum membuahkan hasil.
Dalam laga melawan Aston Villa awal musim ini, Robertson membuat kesalahan fatal yang berujung pada gol lawan. Ia gagal mengantisipasi bola dan membiarkan Johan Manzambi mencetak gol pembuka. Tottenham akhirnya kalah 3-2 dalam pertandingan tersebut. Insiden itu menjadi sorotan utama para pengamat, yang menilai Robertson sudah tidak lagi memiliki kecepatan dan ketepatan yang dibutuhkan di level Premier League.
Kritik terhadap Robertson sebenarnya bukan sekadar soal satu kesalahan. Ia dianggap sebagai simbol dari pola perekrutan Tottenham yang terlalu sering mengandalkan pemain berpengalaman yang sudah menua. Sebelumnya, Spurs mendatangkan Perisic dari Inter Milan pada 2022. Saat itu, Perisic masih tampil impresif dengan catatan 10 gol dan 9 assist di musim terakhirnya bersama Inter. Namun, di Tottenham, performanya menurun drastis dan hanya mencetak satu gol di musim pertamanya.
Perisic kemudian hengkang, dan Tottenham tampaknya tidak belajar dari kesalahan tersebut. Alih-alih mencari pemain muda yang bisa berkembang, mereka kembali mengambil jalan pintas dengan merekrut Robertson. Padahal, bek kiri muda Destiny Udogie menunjukkan performa menjanjikan, termasuk saat melawan Manchester United di Old Trafford. Udogie tampil solid dan memberikan dimensi baru dalam serangan Spurs dari sisi kiri.
"Robertson seperti Perisic: pengalaman memang penting, tetapi jika hanya menjadi cerita masa lalu di ruang ganti, itu tidak cukup. Tottenham perlu fokus pada pemain muda yang masih punya motivasi dan kapasitas untuk berkembang," ujar seorang pengamat sepak bola Inggris.
Keputusan ENIC dan tim rekrutmen Tottenham untuk mendatangkan pemain veteran secara gratis memang terlihat menggoda secara finansial. Namun, dampaknya terhadap performa tim di lapangan tidak bisa diabaikan. Saat ini, Spurs berada di zona degradasi setelah enam pertandingan, dan tekanan terhadap pelatih Roberto De Zerbi semakin besar. Kekalahan dari Coventry City pada laga berikutnya bisa memicu alarm yang lebih keras.
Dalam konteks yang lebih luas, kasus Robertson mencerminkan tantangan yang dihadapi klub-klub Premier League dalam menyeimbangkan antara kebutuhan jangka pendek dan pembangunan jangka panjang. Perekrutan pemain gratis memang menghemat biaya transfer, tetapi sering kali mengorbankan kualitas dan kesempatan bagi pemain muda. Tottenham, dengan sumber daya finansial yang besar, seharusnya mampu mengambil pendekatan yang lebih berkelanjutan.
Jika Tottenham ingin keluar dari keterpurukan, mereka perlu segera mengakhiri eksperimen dengan pemain veteran yang sudah melewati masa jayanya. Memberi kepercayaan kepada pemain seperti Udogie adalah langkah yang lebih masuk akal. Robertson sendiri mungkin hanya akan menjadi episode singkat di North London, seperti Perisic sebelumnya. Pertanyaannya, akankah manajemen Spurs belajar dari pola yang terus berulang ini?



