Asap Karhutla Menjauh dari Jabodetabek, tapi Ancaman Polusi Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- BMKG mencatat sebaran asap karhutla mulai meninggalkan wilayah Jabodetabek sejak Sabtu (17/10), meski sisa partikel masih terdeteksi di ketinggian 3-5,4 km di atas Banten.
- Kualitas udara permukaan di Jakarta tetap bervariasi, dengan PM2.5 di Kemayoran mencapai 109,7 ยตg/mยณ dan ISPU di Kebon Jeruk masuk kategori tidak sehat.
- Titik panas masih tersebar di Sumatera Selatan dan Jawa Timur, sementara cuaca kering diperkirakan bertahan hingga 24 Oktober, memperpanjang risiko karhutla.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat menyelimuti langit Jabodetabek kini bergerak menjauh. Namun, masyarakat diminta tidak serta-merta mengabaikan kualitas udara di permukaan, karena konsentrasi partikel halus PM2.5 di sejumlah titik Jakarta masih berada pada level mengkhawatirkan.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengungkapkan bahwa pantauan citra satelit pada Sabtu (17/10) menunjukkan asap karhutla telah meninggalkan wilayah Jawa bagian barat. Meski demikian, sisa sebaran asap masih terdeteksi di Pesisir Barat Banten pada ketinggian sekitar 10.000โ18.000 kaki atau 3โ5,4 kilometer. "Asap yang terdeteksi di lapisan atas atmosfer tidak otomatis mencerminkan peningkatan polutan di permukaan," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (17/10).
Sebelumnya, pada Jumat (16/10), asap karhutla sempat masuk ke wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Menurut Guswanto, keberadaan asap saat itu hanya sesaat dan tidak berdampak signifikan terhadap kualitas udara di permukaan. Perubahan arah angin serta melemahnya kecepatan angin di lapisan atmosfer menjadi faktor utama yang membuat sebaran asap bergerak menjauh dari Jabodetabek.
Meskipun asap telah menjauh, data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kualitas udara di Jakarta belum sepenuhnya aman. Di Kebon Jeruk, ISPU mencapai 120 (tidak sehat), sementara Menteng 116 dan Kelapa Gading 103. Parameter PM2.5 menjadi penyumbang utama buruknya kualitas udara di kawasan padat tersebut. Angka ini menempatkan Jakarta pada posisi rentan bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
Di luar Jawa, BMKG melaporkan asap karhutla masih menyelimuti sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, serta Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, dan sebagian besar Papua. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyatakan bahwa sebaran asap bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Kondisi ini berkaitan erat dengan masih ditemukannya titik panas di berbagai daerah. Pada 16 Oktober 2026, BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan titik panas terbanyak (189 titik), diikuti Jawa Timur (89), Papua Selatan (63), serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing 26 titik.
"Jumlah titik panas harian di Kalimantan Tengah menurun signifikan dari 485 titik pada 15 Oktober menjadi 26 titik pada 16 Oktober. Meski demikian, potensi karhutla tetap perlu diwaspadai," kata Andri.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi cuaca di Indonesia masih beragam. Wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan masih mengalami cuaca relatif kering. Potensi pertumbuhan awan hujan rendah diperkirakan bertahan pada 17โ24 Oktober 2026, sehingga dapat memperpanjang risiko karhutla di wilayah rawan. Sebaliknya, peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih terbuka di Sumatera bagian utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua, dengan potensi hujan lebat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Papua Pegunungan.
Pola angin pada lapisan atmosfer 925โ500 hPa yang didominasi dari timur hingga tenggara dengan kecepatan 5โ34 knot turut memengaruhi pergerakan asap dan proses pembentukan awan hujan. Kombinasi antara angin dan kelembapan udara menjadi kunci dalam memprediksi penyebaran polutan lintas wilayah.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan sekadar bencana lingkungan musiman, melainkan juga ancaman kesehatan publik dan stabilitas ekonomi. Sektor pariwisata dan aktivitas luar ruang di Jakarta dan sekitarnya berpotensi terganggu jika kualitas udara kembali memburuk. Pemerintah daerah didorong untuk memperkuat sistem peringatan dini dan menyiapkan langkah mitigasi, termasuk pembatasan aktivitas luar ruang bagi kelompok rentan ketika ISPU memasuki kategori tidak sehat.
Ke depan, tantangan terbesarnya adalah memastikan penurunan titik panas tidak hanya bersifat sementara. Tanpa penegakan hukum yang konsisten terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar, asap karhutla akan terus menjadi langganan tahunan. Mampukah Indonesia memutus siklus ini sebelum musim kering berikutnya tiba?



