Piala Asia 2027 Terancam Mundur, Keamanan Arab Saudi Jadi Taruhan
Baca dalam 60 detik
- AFC memberi tenggat November 2026 untuk menilai kelayakan Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Asia 2027.
- Opsi pengunduran ke 2028 berbenturan dengan jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2030 zona Asia yang mulai bergulir Maret 2027.
- Penggabungan Piala Asia 2028 dengan Piala Eropa disebut sebagai jalan tengah agar kualitas turnamen tetap terjaga.

Nasib Piala Asia 2027 berada di ujung tanduk. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memberi tenggat hingga November 2026 untuk menilai apakah Arab Saudi masih layak menjadi tuan rumah, menyusul eskalasi konflik bersenjata di kawasan tersebut yang dinilai mengancam keselamatan peserta.
Ketidakpastian ini muncul setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada akhir pekan lalu. Insiden itu menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi dari Yaman itu menjadi pukulan telak bagi kredibilitas Arab Saudi sebagai penyelenggara turnamen akbar.
Piala Asia 2027 semula dijadwalkan berlangsung 7 Januari hingga 5 Februari 2027. Namun, kondisi keamanan yang memburuk memaksa AFC mempertimbangkan dua skenario besar: menunda turnamen ke 2028 atau memindahkan venue ke negara Asia lain yang bersedia menjadi tuan rumah pengganti.
Dali Tahir, tokoh senior sepak bola Indonesia, menilai kedua opsi memiliki konsekuensi masing-masing. Menurutnya, jika Piala Asia diundur ke 2028, jadwal negara-negara peserta akan sangat padat karena pada tahun yang sama zona AFC mulai menggelar Kualifikasi Piala Dunia 2030.
"Jika Piala Asia mundur, konsekuensinya jadwal negara peserta akan cukup padat. Karena tahun 2028 Zona AFC akan mulai Kualifikasi Piala Dunia 2030," ujar Dali Tahir.
Beban kalender semakin rumit dengan program AFC yang sudah tersusun. Putaran pertama Kualifikasi Piala Dunia 2030 zona Asia diplot pada 22โ30 Maret 2027, disusul putaran kedua pada 20 September 2027 hingga 28 Maret 2028. Timnas Indonesia akan langsung berlaga di putaran kedua. Sementara putaran ketiga dijadwalkan Mei atau Juni 2028 hingga Juni 2029.
Dalam skenario seperti ini, Dali memperkirakan negara-negara Asia akan lebih memprioritaskan perjuangan lolos ke Piala Dunia 2030 ketimbang memaksakan diri tampil di Piala Asia. "Negara-negara Asia pasti memilih berjuang lolos ke Piala Dunia 2030 daripada ngotot di Piala Asia," tegasnya.
Sebagai mantan anggota Exco AFC dan FIFA, Dali menawarkan solusi berbasis kalender FIFA: menggabungkan Piala Asia 2028 dengan Piala Eropa pada periode 9 Juniโ9 Juli 2028. Jika ini ditempuh, jadwal putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2030 zona Asia harus dimajukan. Dari putaran ketiga itu pula akan diketahui negara Asia mana yang lolos ke Piala Dunia 2030.
"Bila Piala Asia tetap digelar di Arab Saudi pada 2028, sekalian diputar bareng dengan Piala Eropa 2028. Jadi jadwal putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2030 Zona Asia harus dimajukan," paparnya.
Solusi ini dinilai menguntungkan 24 negara peserta Piala Asia. Timnas masing-masing bisa diperkuat pemain terbaik yang berkarier di Liga Eropa. "Jika bareng Piala Eropa 2028, maka mutu Piala Asia 2028 tetap bagus, karena semua pemain terbaik bisa ambil bagian. Selain itu, bagi negara yang lolos ke Piala Dunia 2030, Piala Asia 2028 bisa sebagai sarana pemanasan tim," tuturnya.
Bagi Indonesia, ketidakpastian ini menjadi ujian tersendiri. Tim asuhan pelatih mana pun dituntut menyusun periodisasi yang adaptif, terutama karena putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030 sudah menanti pada September 2027. Jika Piala Asia benar-benar bergeser ke 2028, PSSI perlu memastikan tidak ada tumpang tindih agenda yang mengganggu persiapan Garuda.
Keputusan AFC pada November 2026 akan menjadi penentu arah sepak bola Asia dua tahun ke depan. Akankah Arab Saudi tetap dipercaya, atau akankah tuan rumah berpindah ke negara lain yang siap menampung 24 tim? Yang jelas, jadwal sepak bola Asia tidak bisa lagi berjalan seperti biasa.



