Riyadh Diguncang Serangan Bandara Beruntun, Houthi Ancam Perang Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Proyektil misterius menghantam Terminal 4 Bandara King Khalid, memicu kebakaran dan korban luka, sehari setelah serangan rudal menewaskan 13 orang.
- Houthi mengeluarkan peringatan keras kepada maskapai dan pelancong untuk menjauhi bandara serta wilayah udara Arab Saudi.
- Amerika Serikat tengah mempertimbangkan keterlibatan militer langsung, sementara Selat Bab al-Mandab menjadi taruhan ekonomi global.

Serangan terhadap infrastruktur penerbangan Arab Saudi kembali terjadi pada Minggu (11/10) ketika sebuah proyektil tak dikenal menghantam Terminal 4 Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Insiden ini hanya berselang sehari setelah serangan rudal yang diklaim dilakukan kelompok Houthi menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya—serangan paling mematikan terhadap negara Teluk sejak perang dengan Iran dimulai Maret lalu.
Otoritas Saudi melaporkan bahwa selain proyektil yang menghantam terminal, sistem pertahanan udara juga mencegat sebuah rudal jelajah di sekitar bandara. Kebakaran dan korban luka dilaporkan terjadi, meski jumlah pasti korban belum dirinci. Bandara King Fahd di Dammam juga dikonfirmasi menjadi sasaran serangan pada Minggu malam, memperluas jangkauan konflik di wilayah timur kerajaan.
Houthi, kelompok yang didukung Iran, mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan tersebut. Mereka mengeluarkan peringatan tegas kepada maskapai penerbangan, penumpang, dan staf bandara untuk menjauhi bandara serta wilayah udara Arab Saudi. "Peringatan kami perbarui kepada semua maskapai, pekerja, dan pelancong agar tidak menggunakan bandara dan wilayah udara Saudi, karena mereka rentan diserang dan telah menjadi teater operasi kekuatan kami," tulis Houthi melalui platform X. Mereka juga menegaskan "yang terburuk belum datang" jika operasi militer Saudi di Yaman berlanjut.
Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan untuk bergabung dengan kampanye militer Saudi di Yaman. "Kami akan menyelidikinya," ujarnya kepada wartawan. Langkah ini berpotensi mengubah peta konflik secara signifikan. Hingga kini, AS hanya membantu melalui kerja sama intelijen dan penargetan, dengan sekitar 200 penasihat militer di lapangan, tanpa terlibat langsung dalam pertempuran.
Keterlibatan langsung AS dikhawatirkan memicu Houthi untuk kembali menargetkan kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab—jalur vital yang mengangkut sekitar 10% barang maritim dunia. Eskalasi ini juga berisiko menyeret AS lebih dalam ke pusaran perang Timur Tengah, di tengah meningkatnya kejenuhan publik Amerika terhadap konflik Iran yang berkepanjangan. Trump menghadapi pemilihan sela November mendatang dengan tekanan perang yang tidak populer dan harga domestik yang melonjak.
Di sisi lain, Arab Saudi telah melancarkan serangan udara terhadap Houthi di Yaman. Kementerian Kesehatan pemerintahan Houthi mengklaim serangan koalisi dalam enam minggu terakhir menewaskan 91 warga Yaman dan melukai 168 orang, 60% di antaranya perempuan dan anak-anak. Pasukan pemerintah yang didukung Saudi meluncurkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, namun belum mampu menggoyahkan cengkeraman kelompok itu di area strategis seperti Pulau Perim, dekat Bab al-Mandab.
Serangan terhadap bandara Riyadh menuai kecaman internasional, termasuk dari Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. "Serangan oleh proksi Iran mendorong kawasan ke dalam spiral kekerasan. Mereka mendestabilisasi simpul transportasi dan energi global yang krusial," tulis von der Leyen di X. Kecaman juga datang dari berbagai negara yang kehilangan warganya dalam insiden tersebut, termasuk India yang mengonfirmasi satu warganya tewas akibat luka yang diderita.
"Kami akan menyelidikinya," kata Presiden AS Donald Trump, menanggapi kemungkinan keterlibatan militer langsung dalam konflik Yaman.
Meningkatnya intensitas serangan Houthi terhadap Riyadh dan infrastruktur energinya telah menarik keterlibatan lebih banyak negara. Pada Senin, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan akan mempercepat implementasi pakta pertahanan bersama, termasuk mempercepat penempatan pasukan militer di kerajaan. Inggris menyatakan akan membantu dukungan militer defensif dengan menyediakan pengisian bahan bakar bagi pesawat yang mencegat rudal Houthi. Arab Saudi juga meminta bantuan tambahan dari Prancis, Mesir, Inggris, dan Pakistan karena stok rudal pencegatnya menipis.
Houthi melancarkan kampanye militer untuk menguasai pantai Laut Merah Yaman pada awal September, setelah berbulan-bulan ketegangan dengan pemerintah Yaman dan patronnya, Arab Saudi. Kampanye ini mengakhiri ketenangan relatif yang bertahan sejak gencatan senjata yang ditengahi PBB pada 2022. Meski menghadapi serangan balik yang didukung Saudi, kelompok itu tampaknya masih mempertahankan keuntungan teritorialnya. Arab Saudi sendiri pernah memimpin koalisi internasional yang campur tangan di Yaman pada 2015 setelah Houthi menggulingkan pemerintah dan menguasai Sana'a.
Dengan stok rudal pencegat yang menipis dan tekanan ekonomi global yang meningkat, pertanyaan besarnya adalah seberapa jauh Arab Saudi dan sekutunya akan melangkah untuk membendung Houthi—dan apakah AS akan benar-benar terjun ke medan perang yang telah lama menghantui mereka. Sementara itu, ancaman Houthi terhadap bandara dan wilayah udara Saudi menempatkan keselamatan penerbangan sipil di kawasan itu dalam bahaya nyata, dengan implikasi langsung pada rute penerbangan internasional dan harga minyak dunia.



