Citrini: Pemenang Besar Tokenisasi Wall Street Bukan Bitcoin atau Ether
Baca dalam 60 detik
- Citrini Research menilai gelombang tokenisasi aset Wall Street membuka peluang investasi yang lebih spesifik dibanding sekadar memegang BTC dan ETH.
- Laporan 79 halaman bertajuk Breaking the Wall memetakan dua keranjang investasi: saham publik dan token kripto yang meraup fee dari aktivitas onchain.
- Risiko tetap membayangi, mulai dari likuiditas yang terpecah antar-blockchain hingga ketidakpastian hukum saham token sintetis.

Adopsi blockchain oleh institusi keuangan Wall Street diprediksi melahirkan pasar baru yang jauh lebih luas daripada sekadar perdagangan kripto. Namun menurut Citrini Research, investor yang ingin meraup cuan dari tren tokenisasi aset justru tidak harus menaruh taruhan pada bitcoin (BTC) atau ether (ETH).
Dalam laporan setebal 79 halaman berjudul Breaking the Wall yang dirilis Kamis, firma riset yang dikenal lewat riset teknologi dan kecerdasan buatan itu berargumen bahwa pemindahan saham, obligasi, dan instrumen keuangan lain ke jaringan blockchain akan memunculkan lini bisnis baru di sektor perdagangan, pinjaman, hingga pembayaran. Tokenisasi mengubah aset konvensional menjadi token digital yang bisa berpindah antarplatform dan berpotensi diperdagangkan sepanjang waktu. Sebuah saham yang ditokenisasi, misalnya, dapat dijadikan jaminan pinjaman langsung dari dompet digital investor tanpa melewati perantara broker tradisional.
Citrini bukan nama asing di kalangan pelaku pasar. Newsletter Substack-nya disebut sebagai yang paling banyak diikuti dengan lebih dari 263.000 pelanggan, dan riset mereka soal AI sempat viral serta memicu gejolak pasar singkat pada awal tahun ini. Reputasi itulah yang membuat kesimpulan laporan terbaru mereka layak dicermati, terutama karena nada rekomendasinya menyimpang dari kebiasaan investor kripto arus utama.
"Kita tidak bisa mengasumsikan bahwa koin utama, terutama BTC dan ETH, akan mencetak rekor tertinggi baru karena tren ini," tulis laporan tersebut. "Bahkan jika itu terjadi, ada ekspresi investasi yang lebih baik."
Alih-alih berfokus pada aset besar, Citrini menyusun dua keranjang investasi: satu berisi saham perusahaan publik, satu lagi berisi token kripto. Perhatian utama laporan tertuju pada entitas yang berpotensi mengantongi pendapatan berbasis biaya (fee) seiring makin banyaknya aktivitas Wall Street yang berjalan onchain.
Di keranjang saham, Citrini menyoroti Securitize (SECZ), firma tokenisasi yang menjaga keterkaitan hukum antara token blockchain dan efek yang diwakilinya. Bursa kripto Coinbase (COIN) dan broker digital Robinhood (HOOD) dinilai memberi eksposur lewat platform perdagangan dan infrastruktur blockchain mereka. Penerbit stablecoin Circle (CRCL) berpotensi diuntungkan oleh permintaan USDC yang lebih besar untuk menyelesaikan transaksi. Nama lain yang disebut meliputi Figure Technology Solutions (FIGR) untuk pinjaman tokenisasi, SoFi (SOFI) untuk pembayaran stablecoin, serta operator bursa aset digital Bullish (BLSH) yang tengah mengakuisisi pencatat saham Equiniti.
Menariknya, Citrini mengaku justru lebih antusias pada keranjang token kripto karena cakupannya dinilai lebih luas ketimbang semesta saham publik yang terbatas. "Jika kami benar bahwa saham, komoditas, dan aset keuangan lain bergerak onchain, maka pada akhirnya seluruh produk keuangan yang dibangun di atas aset-aset itu akan mengikuti," demikian bunyi laporan tersebut.
Di keranjang ini, Aerodrome (AERO) disebut berpotensi memungut biaya dari transaksi saham tokenisasi, sementara Maple (SYRUP) mengelola produk pinjaman berbasis blockchain untuk investor institusional. Ada pula Pendle (PENDLE) yang memungkinkan perdagangan pendapatan masa depan dari aset berbunga, Ondo Finance (ONDO) dengan produk Treasury dan saham tokenisasi, Aave (AAVE) untuk infrastruktur pinjaman, Uniswap (UNI) sebagai pasar terdesentralisasi, serta Ethena (ENA) yang menerbitkan stablecoin dan merambah layanan keuangan digital. Nama lain mencakup ether.fi (ETHFI), Chainlink (LINK) untuk data pasar, LayerZero (ZRO) untuk konektivitas antar-blockchain, dan Derive (DRV) di segmen opsi terdesentralisasi.
Laporan itu juga menyoroti bursa kontrak berjangka perpetual pendatang baru, Lighter (LIT) dan Variational (VAR), yang disebut berpeluang menandingi dominasi Hyperliquid (HYPE) seiring pertumbuhan pasar perps. Eksposur ke Hyperliquid juga disertakan lewat Bitwise Hyperliquid ETF (BHYP) di keranjang saham.
Meski optimistis, Citrini tidak menutup mata pada risiko. Volume perdagangan dan aktivitas jaringan yang meningkat tidak selalu berbanding lurus dengan kenaikan harga token. Investor diminta mencermati bagaimana protokol menghasilkan uang, siapa yang memungut biaya, dan apakah pemegang token mendapat bagian dari pendapatan tersebut. Laporan itu juga menandai likuiditas yang tersebar di berbagai blockchain yang bersaing, risiko keamanan yang bisa memperlambat adopsi, serta hambatan hukum saham token sintetis yang memberi eksposur harga tanpa hak suara atau kepemilikan langsung.
Bagi pasar Indonesia, gelombang tokenisasi ini berpotensi menjadi ujian bagi kesiapan regulasi dan infrastruktur pasar modal domestik. Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia masih mengkaji kerangka aset kripto dan sekuritas digital, sementara pelaku pasar dalam negeri baru mulai menjajaki produk berbasis blockchain. Jika tren global ini berlanjut, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah aset tradisional akan berpindah ke blockchain, melainkan siapa yang akan menguasai lapisan biaya di sepanjang rantai pasok keuangan digital tersebut.



