Tiga Saudari di Brighton: Ziarah ke Danau Ibu, Lalu Akhiri Hidup di Laut
Baca dalam 60 detik
- Tiga kakak-beradik asal London ditemukan tewas tenggelam di Brighton setelah lebih dulu mengunjungi danau tempat ibu mereka meninggal 16 tahun silam.
- Koroner menyatakan ketiganya meninggal akibat bunuh diri, namun motif pasti di balik keputusan itu tidak pernah terungkap.
- Kasus ini menyoroti pentingnya deteksi dini gangguan kesehatan jiwa, terutama pada keluarga yang pernah kehilangan anggota karena kondisi serupa.

Jane Adetoro (36) dan dua adiknya, Christina Walters (32) serta Rebecca Walters (31), ditemukan tak bernyawa di perairan Brighton pada 13 Mei lalu, hanya berselang sehari setelah mereka bertiga mengunjungi Brookvale Park Lake di Birmingham—lokasi ibu mereka, Janice Adetoro, meninggal tenggelam 16 tahun sebelumnya. Sidang inquest di Woodvale Coroner’s Court, Brighton, pekan ini menyimpulkan ketiganya mengakhiri hidup sendiri dengan cara terjun ke laut.
Kepergian tiga perempuan yang disebut keluarga sebagai “saudari terdekat dan sahabat terbaik” itu menyisakan teka-teki mendalam. Koroner senior Penelope Schofield mengakui alasan di balik keputusan tersebut mungkin tidak akan pernah diketahui. “Ketiganya menjalani hidup yang sangat tertutup. Kami tidak tahu mengapa mereka memilih jalan ini, atau mengapa Brighton,” ujarnya di persidangan.
Yang berhasil direkonstruksi polisi adalah rangkaian perjalanan mereka di hari-hari terakhir. Malam 11 Mei, ketiganya berangkat dari kediaman mereka di Greenford, London barat, menuju Birmingham menggunakan Uber. Mereka tiba pukul 23.36 di Linton Walk—alamat yang pernah menjadi rumah Jane dan Rebecca saat ibunya menghilang pada 5 Januari 2010. Jenazah Janice ditemukan sebulan kemudian di danau yang membentang di ujung jalan itu. Ia berusia 43 tahun saat meninggal.
Kurang dari dua jam setelah tiba, sekitar pukul 01.28 dini hari, ketiganya kembali ke London dengan taksi. Keesokan malamnya, 12 Mei, mereka naik kereta ke Brighton, tiba pukul 22.20, lalu melanjutkan perjalanan ke kawasan pantai dekat marina. Pengemudi Uber yang mengantar mereka menyatakan terkejut karena ketiganya nyaris tidak berbicara sepanjang perjalanan.
Rekaman CCTV yang ditinjau ratusan jam memperlihatkan ketiganya mondar-mandir di tepi laut selama setidaknya empat jam dalam gelap. Mereka terakhir terlihat pukul 02.42. Malam itu angin kencang dan laut sedang bergelora. Sekitar pukul 05.45, seorang pesepeda melaporkan melihat sesosok tubuh di pantai. Tim RNLI mengevakuasi Jane dan Christina, sementara jenazah Rebecca terhempas ke bibir pantai. Semuanya dinyatakan meninggal di tempat.
“Tidak ada kata yang mampu menggambarkan rasa sakit kehilangan seorang anak. Kehilangan ketiga putriku sekaligus adalah patah hati yang melampaui apa pun yang bisa kubayangkan,” ujar Joseph Jacobson, ayah ketiga korban, dalam pernyataan yang dibacakan di persidangan.
Kepada koroner, DCI Mark Cullimore dari Kepolisian Sussex menegaskan pihaknya tetap membuka kemungkinan keterlibatan pihak lain, namun akhirnya menyimpulkan tidak ada unsur pidana. “Tidak ada bukti penggunaan zat terlarang atau kekerasan,” katanya. Koroner Schofield kemudian mencatat bahwa ketiganya memang berniat mengakhiri hidup.
Kisah ini bukan cerita yang dimulai pada Mei, melainkan akumulasi luka lama. Sepupu mereka, Natalie Walters-Daniel, menyebut kematian ibu mereka sebagai beban berat yang dipendam sendiri oleh ketiga saudari itu. Christina, yang baru lulus dari Brunel University dan bekerja sebagai akuntan, diketahui mengalami kecemasan dan depresi sejak ibunya wafat. Jane, juga akuntan, mengambil peran pengganti ibu bagi adik-adiknya. Rebecca, si bungsu yang bekerja di bidang SDM, dikenal sebagai pribadi ceria dan suka melontarkan lelucon.
Kasus ini menyoroti pentingnya intervensi kesehatan jiwa yang berkelanjutan, terutama bagi keluarga yang pernah kehilangan anggota karena gangguan mental. Di Indonesia, layanan konseling psikologis masih terbatas dan stigma terhadap gangguan jiwa membuat banyak orang enggan mencari bantuan. Padahal, deteksi dini dan pendampingan psikososial dapat mencegah tragedi serupa.
Pertanyaannya kini: seberapa siap sistem kesehatan jiwa—baik di Inggris maupun Indonesia—menangkap sinyal-sinyal sunyi dari mereka yang memilih menyimpan luka sendirian?



