Bitcoin Anjlok ke Level Terendah Sebulan, Bayang-Bayang Flash Crash 2025 Kembali Menghantui
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin merosot ke sekitar US$80.000, level terendah dalam sebulan, memicu aksi jual di seluruh pasar kripto.
- Kekhawatiran investor dipicu oleh lonjakan harga minyak dan suku bunga, serta ketidakpastian regulasi pasca kegagalan Clarity Act.
- Survei State Street justru menunjukkan optimisme institusi terhadap aset digital, dengan 51% responden memperkirakan adopsi mainstream dalam lima tahun.

Harga Bitcoin (BTC) merosot tajam ke level terendah dalam sebulan, tepat di atas US$80.000 pada Kamis (8/10), setelah sebelumnya hanya mengalami penurunan moderat. Dalam 24 jam terakhir, mata uang kripto utama ini tercatat turun 4%, dan telah kehilangan lebih dari 8% sejak nyaris menyentuh US$87.000 empat hari lalu. Pelemahan ini bukan hanya menimpa Bitcoin, tetapi juga seluruh pasar aset digital, dengan Ether (ETH) dan XRP masing-masing turun sekitar 6% dalam sehari, sementara Solana (SOL) terpangkas 9%. Semua aset utama tersebut mencatat penurunan dua digit dalam sepekan terakhir.
Penurunan cepat ini terjadi menjelang peringatan satu tahun peristiwa flash crash 10 Oktober 2025. Saat itu, Bitcoin yang baru saja mencetak rekor di atas US$126.000 tiba-tiba ambruk dari sekitar US$122.000 ke US$105.000—bahkan lebih rendah di beberapa bursa—dalam hitungan menit pada perdagangan tipis Jumat malam waktu AS. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma bagi pelaku pasar dan kini menjadi bayang-bayang yang memperkuat sentimen negatif.
Selain faktor psikologis, investor kripto memiliki sejumlah alasan lain untuk cemas. Harga minyak dan suku bunga yang terus melonjak berpotensi mengalihkan dana dari aset berisiko seperti Bitcoin. Ketidakpastian regulasi juga membayangi setelah kegagalan Clarity Act, ditambah pemilihan tengah periode (midterm) yang dapat mengubah konfigurasi kekuatan politik di Washington. Kombinasi ini menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi aset spekulatif dalam jangka pendek.
Meski harga sedang tertekan, minat institusi terhadap aset digital justru menunjukkan tren positif. Survei State Street terhadap 300 manajer aset, pemilik aset, dan manajer kekayaan yang dipublikasikan Selasa lalu mengungkapkan bahwa sekitar 51% responden meyakini aset digital akan menjadi arus utama dalam lima tahun ke depan, melonjak dari hanya 11% pada 2024. Temuan ini mengindikasikan bahwa adopsi institusional terus tumbuh meskipun harga belum mampu menembus level tertinggi.
Survei tersebut juga mencatat bahwa institusi rata-rata menempatkan 11% dari portofolio mereka di aset digital dan memperkirakan porsi itu akan meningkat dalam tiga tahun mendatang. Hal ini menunjukkan kepercayaan jangka panjang yang tetap kuat di tengah volatilitas jangka pendek. Bagi investor ritel, sinyal dari institusi ini bisa menjadi pertimbangan penting untuk tidak panik dan tetap melihat prospek jangka panjang.
“Meskipun terjadi aksi jual dan berbagai titik lemah, investor institusional tampak semakin percaya diri terhadap prospek jangka panjang aset digital,” demikian kesimpulan survei State Street.
Di kawasan Asia Pasifik, perkembangan stablecoin yang mulai masuk ke sistem keuangan teregulasi menjadi ujian penting. Laporan terbaru memetakan aturan, kasus penggunaan, dan peran RLUSD di kawasan ini, menyoroti bagaimana adopsi aset digital bergerak dari spekulasi menuju infrastruktur keuangan yang lebih mapan. Bagi Indonesia, tren ini bisa menjadi cermin bahwa adopsi kripto tidak hanya soal harga, tetapi juga integrasi dengan sistem pembayaran dan regulasi domestik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah penurunan kali ini akan menjadi koreksi sehat sebelum reli berikutnya, atau awal dari badai yang lebih besar menjelang pemilu AS dan keputusan regulasi. Dengan tekanan makro yang masih kuat, pelaku pasar perlu mencermati setiap sinyal dari kebijakan moneter dan politik yang dapat mengubah arah arus modal ke aset digital.



