Trump Tunda Serangan ke Iran demi Pilkada AS, Harga Minyak Global Terancam
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump berjanji tidak menyerang Iran sebelum pemilu sela AS 3 November, menghentikan sementara perang yang telah berlangsung hampir delapan bulan.
- Harga minyak dunia berpotensi bergejolak karena Selat Hormuz masih belum normal, meski Trump mengklaim 22 juta barel minyak mengalir dalam semalam.
- Keputusan ini dinilai sarat kepentingan elektoral, sementara mayoritas warga AS tidak menyetujui serangan dan Partai Demokrat unggul sembilan poin.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan militer terhadap Iran hingga setelah pemilihan sela (midterm) pada 3 November mendatang. Pernyataan yang disampaikan melalui platform Truth Social pada Kamis (8/10/2026) itu menandai jeda dalam konflik bersenjata yang telah berlangsung hampir delapan bulan dan sulit diakhiri.
Dalam unggahannya, Trump mengklaim Washington sedang menjalin "diskusi produktif" dengan Republik Islam Iran, yang menurutnya berada dalam "kondisi sangat buruk, baik secara ekonomi maupun militer". Ia menegaskan tidak akan melancarkan serangan sebelum hari pemungutan suara. "Kami tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum Pemilu Sela yang akan digelar di Amerika Serikat pada 3 November," tulisnya. "IRAN TIDAK AKAN MEMILIKI SENJATA NUKLIR!"
Pernyataan tersebut muncul di tengah gejolak harga minyak global. Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, sempat nyaris tertutup setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari. Namun, Trump mengklaim bahwa minyak kini mengalir melalui selat itu dalam volume rekor, yakni "22 juta barel, hanya dalam semalam", tanpa satu barel pun berasal dari atau menuju Iran. Angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Jalan diplomasi antara AS dan Iran sendiri penuh liku. Blokade Selat Hormuz pertama kali diberlakukan pada April setelah perundingan di Islamabad gagal, lalu diberlakukan kembali pada Juli setelah kesepakatan gencatan senjata Juni yang berumur pendek. Pertempuran kembali memanas pada awal September, ketika pasukan AS menghantam peluncur roket di Pulau Larak, Iran, dan Teheran membalas dengan rudal yang diarahkan ke pangkalan militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab.
Posisi publik Trump terkait pemilu sela berubah dalam sebulan terakhir. Pada 2 September, saat AS dan Iran kembali baku tembak, ia mengatakan tidak terpengaruh oleh pemilu karena namanya tidak ada di surat suara, namun ia berniat membantu partainya. Sepekan kemudian, sebelum menghadiri konvensi nasional Partai Republik di Dallas, ia memperkirakan perang akan berakhir begitu pemungutan suara usai, dan menuduh Teheran menunggu perubahan kekuasaan di Kongres agar bebas mengejar senjata nuklir. Ia juga mengakui harga minyak AS kemungkinan tidak akan turun sebelum hari pemilihan.
"Kami tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum Pemilu Sela... IRAN TIDAK AKAN MEMILIKI SENJATA NUKLIR!" โ Donald Trump, Truth Social
Tekanan politik domestik tampaknya menjadi faktor krusial. Survei Reuters/Ipsos pada akhir September menunjukkan hanya sekitar sepertiga warga Amerika menyetujui serangan terhadap Iran, sementara lebih dari empat dari lima responden memperkirakan konflik akan berlangsung lama. Dukungan terhadap Trump di kalangan Republikan pun merosot dari 82% menjadi 73% hanya dalam sepekan. Rata-rata jajak pendapat kini menempatkan Partai Demokrat unggul sekitar sembilan poin atas Partai Republik pada pemilihan kongresional generik, menurut peramal Nate Silver, margin terlebar pada siklus pemilu ini.
Kekhawatiran juga datang dari dalam pemerintahan. The Wall Street Journal pada September melaporkan bahwa Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio secara privat memperingatkan Trump bahwa konflik dapat berlanjut hingga sisa masa jabatannya. Namun, unggahan Trump tidak menyebutkan langkah apa yang akan diambil AS setelah 3 November.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz dan fluktuasi harga minyak dunia berdampak langsung pada APBN. Sebagai importir minyak bersih, Indonesia rentan terhadap lonjakan harga minyak mentah yang dapat melebarkan defisit anggaran dan melemahkan rupiah. Pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan eskalasi pasca-pemilu AS yang bisa mengganggu pasokan energi global. Selain itu, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah sering memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, yang dapat menekan pasar keuangan domestik.
Dengan jeda sementara ini, pasar energi global akan mencermati apakah ketenangan benar-benar bertahan hingga November, atau hanya menjadi jeda taktis menjelang pemilu. Jika konflik kembali memanas setelah pemungutan suara, harga minyak bisa melonjak dan memukul negara-negara importir seperti Indonesia. Pertanyaannya, apakah AS akan kembali menempuh jalur militer begitu kepentingan elektoralnya usai?



