Imbal Hasil Treasury Tembus Level 2002, Wall Street Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Tiga indeks utama AS kompak melemah setelah S&P 500 mencetak rekor penutupan di atas 7.800 pada sesi sebelumnya.
- Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kenaikan harga minyak mentah menjadi pemicu utama aksi jual.
- Pelaku pasar menanti risalah rapat The Fed untuk mengukur arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Bursa saham Amerika Serikat kembali tertekan pada perdagangan Rabu (waktu setempat), sehari setelah indeks S&P 500 menorehkan rekor penutupan perdana di atas level 7.800. Aksi jual dipicu oleh lonjakan imbal hasil surat utang pemerintah AS ke titik tertinggi dalam lebih dari dua dekade, bersamaan dengan naiknya harga minyak mentah dunia.
Dow Jones Industrial Average turun sekitar 340 poin atau 0,7% tak lama setelah pembukaan, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 0,4% dan 0,5%. Tekanan ini muncul setelah reli yang mengantar S&P 500 ke rekor baru, ditopang penguatan saham produsen cip dan meredanya imbal hasil obligasi pada sesi sebelumnya.
Pasar obligasi menjadi pusat perhatian. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun melonjak lebih dari 8 basis poin ke level 5,356%, tertinggi sejak April 2002. Adapun tenor 30 tahun naik ke 5,725%, level puncak sejak Mei 2002. Kenaikan ini terjadi menjelang lelang surat utang senilai US$39 miliar yang direncanakan pemerintah AS pada hari yang sama.
Di pasar komoditas, minyak mentah Amerika Serikat kembali menembus US$90 per barel setelah naik 1%, sedangkan Brent internasional diperdagangkan hampir 1% lebih tinggi di kisaran US$102 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, yang memunculkan kekhawatiran atas pasokan dari Timur Tengah. Menurut analis senior XS.com, Samer Hasn, kemampuan Houthi menargetkan fasilitas minyak yang berjarak ratusan kilometer dari perbatasan membuat risiko gangguan pasokan besar tetap tinggi.
CEO Chevron, Mike Wirth, dalam wawancara dengan CNBC memperingatkan bahwa larangan ekspor diesel yang dipertimbangkan pemerintahan Trump berpotensi memperburuk situasi pasokan. Ia menilai AS telah menjadi pemasok yang dapat diandalkan bagi dunia, dan kebijakan semacam itu dapat menimbulkan keraguan di antara sekutu.
Sementara itu, investor menanti risalah rapat The Fed bulan September yang akan dirilis pada Rabu sore waktu setempat. Rapat tersebut menandai kenaikan suku bunga pertama sejak 2023. Pasar berjangka memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini, lalu menaikkannya seperempat poin pada pertemuan Desember. Analis Deutsche Bank, Amy Yang, mencatat bahwa mayoritas anggota komite mendukung kenaikan lanjutan, namun berbeda pendapat soal laju dan besaran totalnya.
"Saham menjadi lebih murah sejak Januari, yang ironis karena kita mencetak rekor tertinggi. Kompresi multiple justru menandakan bull market ini berkelanjutan," ujar Nancy Tengler, CEO dan CIO Laffer Tengler.
Di kawasan Asia-Pasifik, mayoritas bursa ditutup melemah. Nikkei 225 Jepang turun 0,92% ke 70.035,71, Kospi Korea Selatan merosot hampir 2% ke 6.803,90, dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,50%. Bursa China daratan masih tutup karena libur Golden Week. Di Eropa, indeks saham utama dibuka turun 0,4%, dengan DAX Jerman memimpin pelemahan sebesar 0,9%.
Dari India, Reserve Bank of India menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023 sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%, merespons inflasi ritel yang telah naik sepuluh bulan berturut-turut dan mencapai 4,8% pada Agustus. Gubernur RBI, Sanjay Malhotra, menyatakan sikap kebijakan diubah menjadi pengetatan terukur.
Bagi investor Indonesia, lonjakan imbal hasil Treasury AS berpotensi memperlebar selisih imbal hasil dengan Surat Berharga Negara (SBN), yang dapat memicu arus modal keluar dari pasar domestik. Tekanan terhadap rupiah dan obligasi negara patut dicermati, terutama jika The Fed mengisyaratkan pengetatan lebih agresif melalui risalah rapatnya. Otoritas fiskal dan moneter dalam negeri menghadapi ujian untuk menjaga stabilitas di tengah gejolak global.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada sinyal dari risalah The Fed dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Jika ketegangan pasokan minyak berlanjut dan imbal hasil terus merangkak naik, apakah reli saham global mampu bertahan, atau koreksi lebih dalam akan menjadi keniscayaan?



