Batas Deduksi SALT Naik ke US$40.400 pada 2026: Peluang Pajak yang Sempit bagi Kelas Menengah Atas
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah AS menetapkan plafon deduksi pajak negara bagian dan lokal (SALT) sebesar US$40.400 untuk tahun pajak 2026, naik tipis dari US$40.000 pada 2025.
- Kenaikan ini hanya relevan bagi wajib pajak yang memilih itemized deduction, sementara sekitar 90% pelapor justru memakai standar deduction.
- Kelompok berpenghasilan di atas US$505.000 menghadapi fase pengurangan manfaat yang menciptakan tarif pajak efektif lebih tinggi dari yang seharusnya.

Wajib pajak Amerika Serikat yang tinggal di negara bagian bertarif tinggi mendapat ruang lebih lega untuk menekan beban pajak tahun depan. Plafon deduksi State and Local Tax (SALT) resmi ditetapkan US$40.400 untuk tahun pajak 2026, naik US$400 dari batas tahun sebelumnya, dan akan terus bertambah 1% setiap tahun hingga 2029 sebelum kembali ke level US$10.000 pada 2030.
Kenaikan ini merupakan lanjutan dari paket fiskal besar yang diteken Presiden Donald Trump, yang pada 2025 menaikkan batas SALT dari US$10.000 menjadi US$40.000. Perubahan tersebut mengakhiri pembatasan yang diberlakukan sejak 2018 โ sebuah kebijakan yang selama ini menjadi keluhan utama penduduk di negara bagian berpenghasilan tinggi seperti California, New York, dan New Jersey.
Namun, manfaat ini tidak otomatis mengalir ke semua pembayar pajak. Deduksi SALT hanya bisa diklaim oleh mereka yang memilih jalur itemized deduction, bukan standar. Untuk 2026, standar deduction dipatok US$16.100 bagi lajang dan US$32.200 bagi pasangan menikah. Artinya, seseorang baru bisa merasakan keuntungan SALT jika total pengurangan itemized-nya melampaui ambang tersebut.
Karena sifatnya yang kondisional, SALT lebih banyak dinikmati kelompok berpenghasilan menengah atas hingga atas. Garrett Watson, Wakil Presiden Kebijakan Pajak Federal di Tax Foundation, menilai deduksi ini secara alami menyasar segmen tersebut karena adanya mekanisme phase-out. Senada, Heather Long, Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, menyebut data awal musim pajak 2026 menunjukkan wajib pajak di negara bagian bertarif tinggi menerima pengembalian lebih besar โ indikasi awal bahwa mereka mulai memanfaatkan plafon baru.
Bagi yang ingin memaksimalkan SALT, ada strategi yang bisa dipertimbangkan. Salah satunya adalah bunching, yakni mengumpulkan beberapa pengurangan dalam satu tahun agar totalnya melampaui standar deduction. Juan Hernandez-Ariano, perencana keuangan bersertifikat dari WealthCreate di Houston, mencontohkan pembayaran pajak properti tahun berikutnya yang bisa dipercepat sebelum 31 Desember. Langkah serupa berlaku untuk pembayaran estimasi pajak negara bagian kuartal terakhir, yang jatuh tempo federalnya baru 15 Januari 2027.
Namun, strategi ini tidak selalu mudah. Wajib pajak yang pajak propertinya dikelola melalui escrow oleh pemberi pinjaman memiliki ruang gerak lebih sempit. Penilaian pajak juga harus sudah keluar sebelum pembayaran dipercepat, dan waktunya berbeda-beda antar yurisdiksi.
Ada pula jebakan yang perlu diwaspadai: SALT torpedo. Ini adalah kondisi ketika tarif pajak efektif melonjak artifisial akibat fase pengurangan manfaat. Untuk 2026, deduksi penuh US$40.400 mulai menyusut begitu penghasilan bruto yang dimodifikasi melewati US$505.000, dan turun menjadi US$10.000 pada penghasilan sekitar US$606.333. Dalam rentang tersebut, setiap dolar tambahan penghasilan menghapus 30% manfaat SALT โ menciptakan tarif marginal yang jauh lebih tinggi dari yang tertera di bracket resmi.
Joon Um, pemilik Secure Tax and Accounting di Hayward, California, mengaku mencermati klien yang berada di ambang fase pengurangan. Ia meninjau langkah-langkah yang memicu penghasilan tahun berjalan, seperti konversi Roth, realisasi capital gain, atau bonus akhir tahun. "Plafon yang lebih tinggi membuka peluang, tetapi wajib pajak berpenghasilan tinggi bisa kehilangan manfaatnya seiring naiknya penghasilan," ujarnya.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini relevan sebagai cermin bagaimana kebijakan fiskal di negara maju menyeimbangkan insentif dan penerimaan negara. Indonesia sendiri tidak mengenal deduksi SALT, tetapi perdebatan serupa muncul dalam wacana insentif pajak daerah dan harmonisasi PPN. Arah kebijakan AS โ menaikkan plafon sambil mempertahankan phase-out โ menunjukkan bahwa keringanan pajak cenderung dirancang agar tetap terbatas pada kelompok tertentu.
Pertanyaannya, apakah kenaikan tahunan 1% hingga 2029 cukup mengimbangi inflasi dan kenaikan tarif pajak lokal? Jika tidak, gelombang keluhan dari negara bagian bertarif tinggi bisa kembali menguat menjelang 2030, saat plafon SALT diproyeksikan ambruk kembali ke US$10.000.



