Lima Merek Proyektor Global Ternyata Dikuasai Perusahaan China, Termasuk XGIMI hingga Hisense
Baca dalam 60 detik
- XGIMI, Hisense, Vankyo, JMGO, dan Dangbei adalah lima produsen proyektor asal China yang mendominasi pasar global dengan strategi berbeda.
- Dominasi ini menandai pergeseran industri dari perakitan komponen menjadi inovasi desain, optik, dan perangkat lunak.
- Konsumen Indonesia perlu mencermati asal merek dan dukungan purna jual sebelum membeli proyektor untuk bioskop rumahan.

Pasar proyektor rumahan kini dikuasai oleh merek-merek yang mungkin tidak dikenal sebagai perusahaan China. XGIMI, Hisense, Vankyo, JMGO, dan Dangbei adalah lima nama besar yang produknya banyak beredar di toko daring internasional, namun sebagian konsumen tidak menyadari bahwa kelimanya berbasis di China. Fenomena ini menandai babak baru industri elektronik konsumen, di mana China tidak lagi sekadar menjadi tempat perakitan komponen, melainkan pusat inovasi desain, optik, dan perangkat lunak.
Perubahan lanskap ini terlihat dari maraknya proyektor portabel bergaya minimalis yang dijual di Amazon dan Best Buy. Nama-nama seperti XGIMI dan JMGO mungkin terdengar internasional, tetapi jejak kepemilikan mereka dapat dilacak hingga ke perusahaan teknologi di Shenzhen, Chengdu, dan Hangzhou. Sebagian dari mereka memulai sebagai pengembang perangkat lunak, sementara yang lain adalah raksasa elektronik dengan rantai pasok global. Bagi konsumen, memahami asal merek menjadi penting karena berkaitan dengan kualitas, garansi, dan ketersediaan suku cadang di pasar domestik.
XGIMI, yang berbasis di Chengdu, memulai dengan filosofi desain yang mengutamakan estetika dan kemudahan. Alih-alih memproduksi kotak plastik besar, perusahaan ini menawarkan proyektor kompak berbahan logam dan kain dengan fitur auto-focus serta Android TV bawaan. Kemitraan dengan Harman Kardon untuk audio membuat model Halo dan Horizon memiliki kualitas suara yang jauh di atas proyektor murah. Kemampuan penyesuaian layar otomatis yang mendeteksi penghalang seperti sakelar lampu atau bingkai foto mempercepat proses instalasi. Langkah ini berhasil menarik konsumen kasual yang menginginkan layar besar tanpa repot.
Sementara itu, Hisense yang dikenal sebagai produsen televisi terjangkau, memilih jalur berbeda dengan proyektor ultra-short throw. Perangkat ini ditempatkan hanya beberapa inci dari dinding dan memancarkan laser untuk menghasilkan gambar lebih dari 100 inci. Hisense mengendalikan sendiri manufaktur perangkat keras dan rekayasa optik, sehingga mampu menekan harga mesin laser tri-color. Strategi ini meniru pendekatan mereka di pasar TV: mengambil teknologi mahal, meningkatkan skala produksi, lalu menjualnya dengan harga yang bersaing. Hasilnya, proyektor Hisense dapat digunakan bahkan di ruangan terang.
Vankyo, yang didirikan di Shenzhen pada 2017, menargetkan segmen berbeda. Merek ini tidak mengejar kualitas sinematik, melainkan menyediakan proyektor fungsional dengan harga sangat terjangkau. Seri Leisure mereka menggunakan panel LCD tunggal dan lampu LED murah, tanpa laser atau kemitraan audio mewah. Kualitas gambar memang tidak setara dengan bioskop 4K, tetapi Vankyo berhasil menjangkau mahasiswa dan pengguna yang ingin menonton film di halaman belakang. Strategi ini membuka akses bagi konsumen yang sebelumnya menganggap proyektor sebagai barang mewah.
JMGO, yang berbasis di Shenzhen dan berdiri pada 2011, menawarkan solusi atas masalah penyetelan proyektor portabel. Mereka bereksperimen dengan desain silinder, bola, dan bahkan selubung bermotor. Seri N1 menempatkan proyektor dalam dudukan gimbal dua sumbu, sehingga pengguna dapat mengarahkan sinar ke langit-langit atau dinding hanya dengan satu tangan. Perangkat lunaknya otomatis menyesuaikan gambar, termasuk menghindari penghalang. Di balik desain tersebut, JMGO menggunakan mesin laser tri-color proprietary yang menghasilkan gamut warna luas dan kontras tajam, biasanya hanya ditemukan pada proyektor kelas komersial.
Dangbei, yang berbasis di Hangzhou, memulai sebagai pengembang perangkat lunak untuk sistem operasi smart TV pada 2013. Latar belakang ini memberi mereka keunggulan dalam merancang antarmuka yang responsif dan bersih. Proyektor andalan mereka, Mars Pro, dipuji karena menggabungkan mesin laser terang dengan antarmuka tanpa lag. Untuk pasar internasional, Dangbei memperkenalkan sub-merek Emotn yang menyasar pembeli dengan anggaran terbatas. Kombinasi perangkat lunak internal dan akses ke komponen laser membuat Dangbei menjadi pesaing yang lengkap.
"Kemampuan China menguasai pasar proyektor global menunjukkan bahwa inovasi tidak lagi terpusat di Jepang atau Korea Selatan," ujar seorang analis industri elektronik yang tidak ingin disebutkan namanya. "Merek-merek ini berhasil menggabungkan efisiensi produksi dengan desain yang menarik bagi konsumen modern."
Bagi konsumen Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi langsung. Produk-produk XGIMI, Hisense, dan lainnya sudah banyak dijual di marketplace lokal, namun tidak semua memiliki jaringan layanan purna jual resmi. Calon pembeli perlu memeriksa ketersediaan garansi, pusat servis, dan ketersediaan suku cadang sebelum memutuskan. Selain itu, harga proyektor laser yang terus turun dapat mendorong adopsi bioskop rumahan di kota-kota besar, terutama di tengah meningkatnya konsumsi konten streaming.
Ke depan, persaingan di segmen proyektor rumahan diprediksi semakin ketat. Merek-merek China ini tidak hanya bersaing satu sama lain, tetapi juga menantang pemain mapan seperti Epson dan Sony. Pertanyaannya, apakah mereka mampu mempertahankan keunggulan inovasi sekaligus membangun kepercayaan jangka panjang di pasar global, termasuk Indonesia? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: lanskap proyektor telah berubah secara permanen.



