Starship Dikejar Target 2028: Taruhan NASA dan SpaceX di Balik Misi Artemis IV
Baca dalam 60 detik
- NASA menargetkan pendaratan manusia kembali ke Bulan pada awal 2028 lewat Artemis IV, dengan Starship sebagai lander utama.
- SpaceX masih harus membuktikan penerbangan orbital andal, transfer bahan bakar kriogenik, docking, hingga pendaratan dan peluncuran dari permukaan Bulan.
- Jika Starship tak siap, NASA dapat mengalihkan misi ke Blue Origin, meski Blue Moon dan roket New Glenn juga belum teruji.

NASA menargetkan pendaratan manusia pertama di Bulan sejak Apollo 17 pada 1972 melalui misi Artemis IV yang dijadwalkan pada awal 2028. Namun, target ambisius itu bergantung pada kesiapan Starship milik SpaceX, yang hingga kini masih dalam tahap pengujian dan belum sepenuhnya operasional.
Dalam skema Artemis IV, NASA akan menerbangkan empat astronot ke orbit Bulan menggunakan roket Space Launch System (SLS) dan kapsul Orion. SpaceX bertanggung jawab menyiapkan Starship Human Landing System (HLS), versi modifikasi dari tahap atas Starship, untuk membawa dua astronot turun ke permukaan Bulan. Prosedur ini menuntut Orion dan Starship HLS bertemu dan berlabuh di orbit Bulan, sebelum dua astronot menghabiskan sekitar sepekan di permukaan dan kembali ke Orion untuk pulang ke Bumi.
Hingga September 2026, Starship telah menjalani 14 kali uji terbang. Penerbangan perdana pada 2023 berakhir dengan ledakan beberapa menit setelah lepas landas, tetapi kegagalan itu dinilai sebagai bagian dari pendekatan iteratif SpaceX. Pada uji ke-14, tahap atas Starship berhasil mencapai orbit untuk pertama kalinya. Meski demikian, sejumlah tonggak krusial masih harus dibuktikan sebelum roket ini mendapat lampu hijau untuk misi Bulan.
SpaceX perlu menunjukkan kemampuan penerbangan orbital yang andal, transfer bahan bakar kriogenik antar-Starship di orbit, serta docking dengan Orion. Kemampuan pengisian bahan bakar di orbit menjadi syarat mutlak agar Starship HLS memiliki cukup propelan menuju Bulan. Selain itu, Starship harus mampu mendarat dengan aman di permukaan Bulan dan lepas landas kembali ke orbit. Demonstrasi docking direncanakan pada misi Artemis III di orbit Bumi yang dijadwalkan pada 2027.
"Roket itu sulit," tulis CEO SpaceX, Elon Musk, di platform X setelah ledakan New Glenn, menggarisbawahi kompleksitas teknis yang dihadapi industri antariksa.
Jika Starship tidak memenuhi persyaratan, NASA memiliki opsi lain. Pada Maret 2026, NASA menyatakan bahwa kesiapan lander akan menentukan penyedia mana yang akan membawa awak ke permukaan Bulan dan kembali ke Orion. Pernyataan ini membuka peluang bagi Blue Origin dengan lander Blue Moon, meskipun Blue Moon juga masih dalam pengembangan dan roket New Glenn baru terbang tiga kali. Insiden ledakan New Glenn saat uji mesin pada Mei 2026 menambah tekanan pada Blue Origin yang juga berlomba dengan waktu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi tidak langsung terhadap pengembangan teknologi antariksa nasional. Program Artemis dapat mendorong transfer pengetahuan dan kerja sama internasional, termasuk dalam pengembangan satelit dan roket. Namun, tanpa kemitraan strategis, Indonesia berisiko hanya menjadi penonton dalam perlombaan eksplorasi Bulan yang melibatkan aktor swasta dan negara maju.
Pertanyaannya, apakah SpaceX mampu mengejar ketertinggalan dan memenuhi target 2028, atau NASA harus beralih ke Blue Origin yang juga belum terbukti? Yang jelas, persaingan menuju Bulan semakin ketat dan taruhannya adalah reputasi serta kepemimpinan teknologi antariksa global.



