Viral Pesta Sabu di Rutan Depok: 22 Napi Diperiksa, Dua Petugas Diduga Terlibat
Baca dalam 60 detik
- Rutan Depok menyelidiki video viral yang memperlihatkan sejumlah pria berpesta sabu dan berjoget di dalam sebuah ruangan yang diduga kuat berada di lingkungan lapas.
- Sebanyak 22 warga binaan dan dua petugas keamanan menjalani pemeriksaan intensif; tim gabungan Kanwil Ditjenpas Jawa Barat dan Ditjenpas diterjunkan untuk mengusut dugaan keterlibatan oknum.
- Kasus ini menambah daftar panjang persoalan peredaran narkoba di lembaga pemasyarakatan, memicu pertanyaan tentang efektivitas pengawasan dan integritas petugas.

Rumah Tahanan Negara (Rutan) Depok tengah menjadi sorotan setelah beredar rekaman video yang menampilkan sejumlah pria asyik berjoget diiringi musik keras sambil diduga mengonsumsi sabu di dalam sebuah ruangan. Narasi yang menyertai video tersebut menyebut lokasi kejadian berada di lingkungan lembaga pemasyarakatan (lapas) di Depok, Jawa Barat. Kepala Rutan Depok, Ario Galih Maduseno, membenarkan peristiwa itu terjadi di wilayah kerjanya dan menyatakan penyelidikan sedang berjalan.
Dari cuplikan yang viral di media sosial, terlihat beberapa orang berada dalam satu ruangan. Salah satu di antaranya tampak menggenggam botol yang diduga merupakan alat isap sabu atau bong. Mereka tampak larut dalam dentuman musik. Publik pun mempertanyakan bagaimana aktivitas terlarang itu bisa terjadi di dalam institusi yang seharusnya menjadi tempat pembinaan dan pengawasan ketat.
Menindaklanjuti temuan tersebut, pihak Rutan Depok langsung bergerak. Ario mengungkapkan bahwa pihaknya telah memeriksa 22 warga binaan yang berada di kamar yang diduga menjadi lokasi kejadian. "Kami dalami lagi sekitar tiga sampai empat orang," ujarnya, menandakan ada sejumlah individu yang diduga berperan lebih besar dalam insiden itu.
Tak hanya narapidana, dua petugas Rutan Depok juga menjalani pemeriksaan. Keduanya berasal dari jajaran satuan pengamanan dan staf bimbingan kerja. Ario membenarkan bahwa pihaknya telah melaporkan dugaan keterlibatan oknum petugas yang memfasilitasi pelanggaran tersebut kepada kepolisian. Langkah ini diambil untuk memastikan proses hukum berjalan objektif dan transparan.
Untuk mengurai fakta secara menyeluruh, Rutan Depok menggandeng tim gabungan dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Barat dan Ditjenpas pusat. Ario menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen transparan dan responsif. "Siapa pun yang terbukti terlibat akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan," tegasnya. Ia juga menyatakan Rutan Depok berkomitmen memberantas peredaran gelap narkoba di dalam lapas.
"Kami juga berjanji untuk transparan dan responsif, siapa pun yang terbukti terlibat melanggar akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Dan kami Rutan Depok berkomitmen perang terhadap peredaran gelap narkoba." โ Ario Galih Maduseno, Karutan Depok
Insiden ini bukan kali pertama lapas di Indonesia diterpa kabar buruk soal narkoba. Selama bertahun-tahun, sejumlah lembaga pemasyarakatan dikenal sebagai tempat peredaran gelap narkotika, dengan sindikat yang kerap melibatkan oknum petugas. Kondisi overkapasitas, pengawasan yang lemah, serta minimnya sumber daya manusia menjadi faktor yang memperparah situasi. Kasus Rutan Depok seolah menjadi cermin bahwa persoalan ini belum terselesaikan secara sistemik.
Pengamat hukum pidana menilai bahwa pengungkapan kasus ini harus menjadi pintu masuk untuk membenahi tata kelola lapas secara menyeluruh. Menurut mereka, sanksi terhadap individu pelanggar tidak cukup jika tidak diikuti dengan perbaikan sistem pengawasan, rotasi petugas, dan pemanfaatan teknologi pemantauan. Tanpa itu, kejadian serupa berpotensi terulang di tempat lain.
Dari sisi kebijakan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan tengah mendorong program deteksi dini dan penguatan integritas petugas. Namun, ujian sesungguhnya terletak pada konsistensi implementasi di lapangan. Publik akan menantikan hasil pemeriksaan tim gabungan: apakah kasus ini berhenti pada 22 napi dan dua petugas, atau justru membuka tabir jaringan yang lebih luas? Transparansi menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan.



