Studi Ungkap 'Lingkaran Setan' Kebakaran Hutan Australia Berakar dari Kolonisasi 1788
Baca dalam 60 detik
- Riset Nature mengungkap perubahan tata guna lahan pasca-1788 memicu siklus kebakaran ekstrem di Australia tenggara.
- Praktik pembakaran budaya Suku Gunaikurnai yang hilang membuat hutan eukaliptus tumbuh lebat dan mudah terbakar.
- Temuan ini mendorong integrasi pengetahuan adat dalam strategi mitigasi kebakaran modern di tengah krisis iklim.

Perubahan drastis tata guna lahan yang dipicu kolonisasi Eropa pada 1788 menciptakan "lingkaran setan kebakaran hutan katastropik" yang membuat Australia tenggara jauh lebih rentan terhadap kebakaran dahsyat yang diperparah perubahan iklim. Kesimpulan itu muncul dari studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature, hasil kolaborasi peneliti Universitas Melbourne dengan Gunaikurnai Land and Waters Aboriginal Corporation, organisasi yang mewakili pemilik tradisional tanah.
Tim merekonstruksi sejarah vegetasi dan kebakaran selama 1.000 tahun di Purghagoolah, sebuah danau yang dikelilingi hutan di Taman Nasional Croajingolong, Gippsland, Victoria. Mereka menganalisis partikel serbuk sari dan arang yang terendap dalam inti sedimen sepanjang satu meter, mengungkap interaksi antara cuaca, tutupan eukaliptus, serta frekuensi dan intensitas api dari masa ke masa.
Hasilnya menunjukkan pergeseran dari hutan terbuka menjadi hutan lebat setelah kolonisasi berkorelasi dengan kebakaran yang lebih ganas. Pola ini konsisten dengan hilangnya praktik pembakaran budaya dan pengusiran Suku Gunaikurnai dari tanah leluhur mereka. Michael-Shawn Fletcher, profesor di Universitas Melbourne dan penulis utama studi, menegaskan bahwa sebelum kolonisasi, lanskap tersebut merupakan wilayah yang terkelola dengan baik.
"Gunaikurnai disingkirkan dari Country dan Anda melihat perubahan jumlah pohon serta semak di lanskap, dan itu memicu lebih banyak kebakaran," ujar Fletcher. "Perubahan tata guna lahan, lebih dari satu abad sebelum perubahan iklim, telah membuat semak bertambah, api semakin panas. Api panas itu kemudian memicu pertumbuhan eukaliptus. Eukaliptus lalu meningkat, mendorong kebakaran lebih lanjut."
Fletcher berharap riset ini membuka diskusi tentang masa depan pengendalian masalah kebakaran katastropik. Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan pengetahuan masyarakat adat ke dalam strategi manajemen kebakaran modern. Pembakaran budaya sendiri merujuk pada praktik masyarakat First Nations menggunakan api bersuhu rendah untuk menjaga lanskap tetap aman dan produktif, dengan pendekatan responsif "waktu tepat, tempat tepat" yang berbeda dari pembakaran terkendali yang dilakukan instansi pemerintah untuk pengurangan bahaya.
Prof David Bowman, ilmuwan kebakaran dari Universitas Tasmania yang tidak terlibat dalam studi, menilai riset ini signifikan dan berkontribusi pada "kesadaran yang tumbuh" tentang warisan perubahan lanskap akibat hilangnya manajemen api adat. Ia menyebut faktor lain seperti introduksi hewan dan tanaman non-pribumi turut memperparah, namun penghapusan praktik pembakaran tradisional tetap menjadi faktor utama. Menurutnya, catatan jangka panjang sangat penting untuk merangkai perubahan rezim kebakaran dan responsnya terhadap pendorong iklim. "Salah satu pertanyaan besar dalam ilmu kebakaran hutan adalah seberapa anomali atau belum pernah terjadi sebelumnya fenomena yang sedang berlangsung?" ujarnya. Bowman menyebut riset ini sebagai "pembuka pipa" yang diharapkan memicu percakapan mendesak tentang pengelolaan lanskap di tengah krisis kebakaran yang memburuk.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat negeri ini juga menghadapi kebakaran hutan dan lahan tahunan, terutama di Kalimantan dan Sumatra, yang sering dipicu alih fungsi lahan dan praktik tebang-bakar. Pendekatan berbasis kearifan lokal—seperti pembakaran terkendali yang dilakukan masyarakat adat di beberapa daerah—dapat menjadi pelajaran berharga. Integrasi pengetahuan tradisional dengan teknologi modern dan kebijakan tata ruang yang ketat menjadi kunci mencegah siklus kebakaran yang merugikan kesehatan, ekonomi, dan ekologi lintas negara.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana memadamkan api yang lebih besar, tetapi bagaimana mengembalikan keseimbangan lanskap yang telah terganggu selama berabad-abad. Apakah pemerintah dan pemangku kepentingan bersedia mengadopsi pendekatan kolaboratif dengan masyarakat adat untuk memutus lingkaran setan ini sebelum musim kebakaran berikutnya tiba?



