Ledakan Ruko Pakuwon City: Tiga Korban Jalani Operasi, Polisi Ungkap Sumber Kebocoran Gas
Baca dalam 60 detik
- Tiga korban ledakan di Ruko San Antonio, Pakuwon City, Surabaya, menjalani operasi akibat luka bakar 20โ25 persen dan dugaan cedera inhalasi.
- Polisi memastikan ledakan bersumber dari kebocoran pipa pada tiga tabung LPG 50 kilogram yang sudah tercium bau gasnya oleh pekerja sebelum insiden.
- Sebanyak 58 bangunan rusak dan lima orang terluka; evaluasi keselamatan gas di kawasan komersial menjadi sorotan.

Tiga korban ledakan di Outlet Nasi Tempong Sri Dewi, Ruko San Antonio, Pakuwon City, Surabaya, menjalani operasi di RSUD Dr Soetomo akibat luka bakar yang tersebar di sejumlah bagian tubuh. Operasi dilakukan pada Selasa (6/10), sehari setelah insiden yang juga merusak puluhan bangunan dan kendaraan di sekitar lokasi.
Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa, mengungkapkan bahwa ketiga pasien terdiri dari satu perempuan dan dua laki-laki. Mereka dibawa ke rumah sakit tak lama setelah ledakan terjadi. Pemeriksaan awal menunjukkan luka bakar mencapai 20 hingga 25 persen, meliputi area wajah, kepala, leher atau dada, serta anggota gerak. "Ketiganya mengalami luka bakar sekitar 20 hingga 25 persen yang tersebar di area wajah, kepala, leher atau dada dan anggota gerak lainnya," ujar Cita, Rabu (7/10).
Tim medis juga mencurigai adanya inhalasi atau blast injuryโgangguan saluran napas akibat menghirup asap panas atau gas beracun, maupun cedera akibat efek ledakan. Kecurigaan ini memperkuat alasan dilakukannya tindakan operasi. Menurut Cita, ketiga pasien kini dirawat di Ruang Observasi Intensif (ROI) pascaoperasi untuk pemantauan ketat terhadap perkembangan luka bakar, fungsi pernapasan, dan kondisi umum. "Perawatan di ROI dilakukan untuk memastikan kondisi ketiga pasien dapat dipantau secara intensif setelah tindakan operasi," jelasnya.
Ledakan keras terjadi pada Selasa pagi di Depot Nasi Tempong Sri Dewi, kompleks Ruko San Antonio, Jalan Kalisari Utara, Mulyorejo. Lima orang dilaporkan luka-luka. Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan menegaskan bahwa pusat ledakan berasal dari tiga tabung gas LPG berkapasitas 50 kilogram yang mengalami kebocoran pada bagian pipa. Indikasi kebocoran itu, menurut Luthfie, sudah disadari oleh pekerja sesaat sebelum ledakan. "Tadi sekitar pukul 07.00 WIB, ketika koki sedang masak, memang sempat mencium bau gas. Kemudian dalam sekejap terjadi semacam ledakan," katanya.
Insiden ini menyoroti kembali pentingnya protokol keselamatan penggunaan gas di kawasan komersial, terutama rumah makan yang menyimpan tabung besar. Kebocoran pada pipa tabung 50 kilogram semestinya memicu prosedur evakuasi dan pelaporan sebelum aktivitas memasak dilanjutkan. Dalam konteks Indonesia, kejadian serupa beberapa kali terjadi di berbagai kota, menandakan perlunya pengawasan rutin dan pelatihan bagi pekerja. Pemerintah daerah dan pengelola kawasan komersial diharapkan meningkatkan inspeksi instalasi gas, sementara pelaku usaha didorong memiliki rencana tanggap darurat yang teruji.
"Tim medis akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi pasien serta menentukan langkah penanganan selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi klinis," ujar Cita.
Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami penyebab pasti kebocoran dan potensi kelalaian. Sementara itu, korban yang selamat dan pemilik bangunan terdampak menunggu kejelasan soal ganti rugi serta pemulihan lingkungan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan publik di ruang usaha tidak bisa ditawar. Akankah ada evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan gas di kawasan padat aktivitas ekonomi, atau kita kembali menunggu insiden berikutnya?



