Koloni Penguin Terbesar Dunia Runtuh: Populasi Anjlok Dua Pertiga dalam 14 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Populasi penguin chinstrap di Pulau Zavodovski, Antartika, menyusut sekitar 66 persen sejak 2011 โ setara hilangnya setengah juta individu pengembangbiak.
- Pemanasan laut mendorong krill, makanan utama chinstrap, bermigrasi ke selatan; sementara penguin macaroni yang lebih fleksibel justru naik 30 persen.
- Para ilmuwan mendesak status endangered untuk chinstrap dan memperingatkan risiko keruntuhan ekosistem yang lebih luas jika tren ini berlanjut.

Populasi penguin chinstrap di Pulau Zavodovski, Antartika, anjlok hingga dua pertiga sejak 2011 โ sebuah keruntuhan yang oleh para peneliti disebut sebagai salah satu yang tercepat yang pernah tercatat pada spesies satwa liar. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Current Biology dan langsung memicu kekhawatiran tentang stabilitas ekosistem laut di kawasan kutub.
Profesor Norman Ratcliffe, ekolog penguin dari British Antarctic Survey yang memimpin riset, menggambarkan skala kehilangan itu secara gamblang. "Ini adalah keruntuhan populasi yang sangat besar, setara dengan hilangnya setengah juta individu pengembangbiak dari pulau tersebut," ujarnya. Angka itu menjadikan Zavodovski โ yang sebelumnya menyandang status koloni penguin terbesar di dunia โ kemungkinan besar kehilangan gelarnya ke Cape Adare di Laut Ross.
Yang membuat temuan ini kian mendesak adalah kecepatan perubahan yang tidak linier. Data lapangan dari 2011 hingga 2025 menunjukkan penurunan yang konsisten, bukan fluktuasi musiman. Para ilmuwan menilai laju keruntuhan ini cukup cepat untuk mendorong chinstrap โ burung yang mudah dikenali dari garis hitam di bawah paruh โ masuk ke kategori spesies terancam punah.
Penyebab utama yang diidentifikasi para peneliti adalah gangguan iklim. Pemanasan yang didorong aktivitas manusia telah menaikkan suhu musim dingin di sekitar Semenanjung Antartika secara drastis. Chinstrap, yang memiliki preferensi makanan dan suhu laut yang spesifik, kesulitan beradaptasi. Data pelacakan menunjukkan mereka mencari makan di perairan lebih dingin di barat laut pulau, tempat mereka biasanya menemukan krill Antartika โ komponen utama diet mereka. Namun, seiring menghangatnya laut, krill bergeser ke selatan menuju Laut Weddell, di luar jangkauan koloni.
Sebaliknya, penguin macaroni yang lebih fleksibel dalam memilih makanan justru mencatat kenaikan populasi 30 persen. Meski demikian, Ratcliffe menilai hal itu bukanlah kabar baik. Jika tren saat ini berlanjut, kata dia, semua penguin akan kehabisan ruang. Ia juga memperingatkan bahwa hilangnya chinstrap akan berdampak luas pada jaring makanan. "Setiap ekosistem bisa diibaratkan seperti set Jenga raksasa, dan setiap komponen yang diambil meningkatkan risiko ekosistem runtuh sepenuhnya," ujarnya.
Tim peneliti secara sistematis menyingkirkan kemungkinan penyebab lain. Tidak ada bukti kompetisi makanan antara chinstrap dan macaroni. Jarak dengan pemukiman manusia terdekat mencapai ribuan mil. Meskipun pulau itu vulkanik dan mengalami erupsi besar pada 2016 โ yang memunculkan hipotesis "Pompeii Penguin" tentang penurunan populasi mendadak โ data justru menunjukkan penurunan linear yang stabil. Pengamatan lapangan juga menemukan bahwa chinstrap menghindari area "dataran asfiksia" tempat abu dan lava mengendap.
Bagi Indonesia, temuan ini bukan sekadar berita lingkungan yang jauh. Sebagai negara kepulauan yang berada di jalur arus laut global, perubahan di Antartika dapat memengaruhi pola arus dan produktivitas perikanan di perairan selatan Indonesia. Krill Antartika adalah fondasi rantai makanan laut yang menopang populasi ikan komersial, termasuk tuna yang menjadi komoditas ekspor utama Indonesia. Gangguan pada rantai makanan ini berpotensi merambat ke sektor perikanan nasional dalam jangka panjang.
Pertanyaannya kini: apakah komunitas internasional akan mempercepat langkah konservasi di kawasan Antartika, atau menunggu hingga keruntuhan ekosistem tak lagi bisa dibalikkan?



