David Ellison Rekrut Ynon Kreiz sebagai Co-CEO, Skydance Hadapi Merger Raksasa dan Utang Rp1.200 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Ynon Kreiz resmi ditunjuk sebagai co-CEO Paramount Skydance, mendampingi David Ellison memimpin perusahaan gabungan dengan Warner Bros. Discovery.
- Kreiz dikenal sebagai arsitek kebangkitan Mattel, namun sejumlah analis meragukan kemampuannya menangani integrasi dua raksasa media dan beban utang US$79 miliar.
- Merger ini diprediksi memakan waktu 2โ3 tahun, menargetkan penghematan US$6 miliar, dan berpotensi mengancam ribuan lapangan kerja di sektor film dan televisi.

David Ellison resmi menunjuk Ynon Kreiz sebagai co-CEO Paramount Skydance, perusahaan hasil merger dengan Warner Bros. Discovery yang akan mulai beroperasi Selasa (7/10/2026). Langkah ini menjawab pertanyaan tata kelola yang lama menghantui ambisi Ellison: apakah putra miliarder Larry Ellison itu mampu memimpin kerajaan media yang ia bangun lewat serangkaian akuisisi agresif?
Kreiz, veteran 30 tahun di industri hiburan, akan mendampingi Ellison dengan pembagian tugas yang jelas. Ellison fokus pada strategi jangka panjang, visi kreatif, teknologi, dan alokasi modal, sementara Kreiz mengurus operasional harian serta integrasi bisnis. Perusahaan gabungan ini menyatukan studio legendaris Paramount dan Warner Bros., jaringan CBS, portofolio saluran berbayar seperti CNN, TNT, MTV, dan BET, serta layanan streaming Paramount+ dan HBO Max.
Penunjukan Kreiz bukan tanpa alasan. Ia dianggap berhasil membalikkan kondisi Mattel selama delapan tahun memimpin, meski sejumlah analis menilai warisannya di perusahaan mainan itu tidak secemerlang yang dibayangkan. Di bawah Kreiz, Mattel memangkas sekitar US$1 miliar biaya, menutup beberapa fasilitas produksi, dan mengurangi 2.200 karyawan. Ia juga meluncurkan divisi film internal yang melahirkan "Barbie" (2023) dengan pendapatan global US$1,4 miliarโmeski Mattel hanya menerima tambahan pendapatan US$150 juta.
"Kami memandang positif penunjukan Ynon Kreiz, karena pengalaman operasional dan fokusnya pada IP uniknya memposisikannya untuk memimpin integrasi Paramount Skydance dan WBD," ujar Matthew Condon, analis di Citizens Bank, dalam catatan risetnya.
Namun, tidak semua pihak optimistis. Matthew Dolgin, analis senior di Morningstar, menilai Kreiz bukan pilihan terbaik untuk tugas ini. "Meskipun gelarnya co-CEO, kami melihat Kreiz sebagai chief operating officer," tulisnya. Skeptisisme juga datang dari Gerrick Johnson, analis di Seaport Research Partners, yang menyoroti stagnasi inovasi mainan Mattel selama era Kreiz. "Pasca-Covid, laba sangat stagnan. Pertumbuhan margin terhenti, inovasi terhenti," katanya.
Tantangan terbesar bagi duet Ellison-Kreiz adalah integrasi dua perusahaan media raksasa yang diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun. Laura Martin, analis di Needham, memperkirakan penghematan biaya bisa melebihi target US$6 miliar. Namun, ia juga mengingatkan bahwa sumber penghematan masih belum jelas, terutama karena sebagian besar dijanjikan berasal dari non-tenaga kerja. Rencana penggabungan Paramount+ dan HBO Max menjadi satu platform berlangganan akan memangkas infrastruktur, tetapi berisiko mengurangi keragaman konten.
Di sisi lain, kesepakatan dengan para jaksa agung negara bagian untuk mengizinkan merger mensyaratkan Paramount Skydance merilis puluhan film per tahun hingga 2031. Sementara itu, laporan dari Department of Economic Opportunity Los Angeles memperkirakan 4.500 pekerjaan di industri film dan TV di wilayah tersebut terancam dalam tiga tahun ke depan. CBS juga setuju untuk tidak melakukan PHK terhadap penulis selama minimal lima tahun.
Bagi Indonesia, merger ini bisa berdampak pada industri kreatif dan distribusi konten. Perusahaan gabungan berpotensi memperkuat posisi tawar dalam negosiasi lisensi konten dengan platform lokal, yang dapat memengaruhi biaya akuisisi siaran dan streaming. Selain itu, dominasi pemain global dapat mempersempit ruang bagi produksi dalam negeri untuk bersaing di pasar internasional. Meski demikian, peluang kerja sama produksi dan alih pengetahuan tetap terbuka jika Indonesia mampu menawarkan insentif dan ekosistem yang kompetitif.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah Kreiz mampu mengulang kesuksesan transformasi Mattel dalam skala yang jauh lebih kompleks. Dengan beban utang yang membengkak dan tekanan untuk berinovasi di tengah disrupsi streaming, keputusan strategis dalam 18 bulan pertama akan menentukan arah perusahaan. Apakah duet ini akan menciptakan sinergi yang solid, atau justru memperbesar risiko eksekusi yang sudah terlihat di depan mata?



