Ketua Fraksi Gerindra DPRD DIY Meninggal Mendadak, Diduga Serangan Jantung
Baca dalam 60 detik
- Muhammad Lisman Puja Kesuma, politikus muda Gerindra, tutup usia di Jakarta saat menjalani perawatan sinus.
- Kabar duka dikonfirmasi Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman yang mengaku terkejut menerima informasi pada Sabtu sore.
- Partai masih menimbang lokasi pemakaman, apakah di Sumatra atau Jakarta, sambil mengatur rencana kepulangan jenazah.

Muhammad Lisman Puja Kesuma, Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, menghembuskan napas terakhir pada Sabtu (3/10) di Jakarta. Kabar duka ini mencuat setelah politikus kelahiran Medan, 24 Januari 1992, itu diduga mengalami serangan jantung saat menjalani perawatan medis untuk penyakit sinus.
Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman membenarkan informasi tersebut. Ia mengaku baru mengetahui peristiwa itu sekitar pukul 16.00 WIB dan langsung menyatakan keterkejutannya. "Saya juga kaget, baru menerima kabar sore ini," ujarnya menirukan reaksi awal saat dihubungi awak media.
Menurut Budi, Lisman tengah berada di sebuah rumah sakit di Jakarta untuk pengobatan rutin terkait gangguan sinus. Namun, kondisi kesehatannya tiba-tiba memburuk dan diduga kuat terkena serangan jantung. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak rumah sakit mengenai penyebab pasti kematian.
Kepergian Lisman menambah daftar panjang politikus muda yang berpulang di usia produktif. Bagi Gerindra DIY, ini bukan sekadar kehilangan satu kursi di parlemen, melainkan sosok yang dianggap konsisten mengawal garis perjuangan partai. Budi menyebut almarhum sebagai pribadi yang peduli sesama dan memiliki komitmen tinggi terhadap agenda partai.
"Almarhum sangat konsisten dan komit dengan arah perjuangan partai," kata Budi Waljiman.
Di sisi lain, prosesi pemakaman masih menimbulkan tanda tanya. Pengurus Gerindra DIY tengah menggelar rapat untuk menentukan apakah jenazah akan diterbangkan ke kampung halaman di Sumatra atau dimakamkan di Jakarta. Budi mengakui informasi mengenai hal ini masih simpang siur dan akan diputuskan setelah koordinasi dengan keluarga.
Kepergian mendadak ini juga menyoroti pentingnya kesadaran kesehatan di kalangan elite politik. Beban kerja tinggi, jadwal padat, dan tekanan politik sering membuat para wakil rakyat mengabaikan gejala awal penyakit serius. Serangan jantung, yang kerap datang tanpa peringatan, menjadi ancaman nyata bagi mereka yang kurang istirahat dan jarang melakukan pemeriksaan rutin.
Dari kacamata politik lokal Yogyakarta, kekosongan kursi Ketua Fraksi Gerindra berpotensi memengaruhi dinamika di DPRD DIY. Partai harus segera menunjuk pengganti untuk memastikan fungsi legislasi dan pengawasan tetap berjalan, terutama menjelang pembahasan anggaran dan kebijakan strategis daerah. Figur pengganti diharapkan mampu meneruskan gaya kepemimpinan Lisman yang dikenal vokal namun santun.
Hingga berita ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari DPP Partai Gerindra maupun keluarga almarhum terkait penyebab pasti dan rencana selanjutnya. Publik menanti kejelasan, sementara kolega di DPRD DIY terus berkoordinasi untuk memberikan penghormatan terakhir.
Akankah kepergian Lisman menjadi pemicu evaluasi pola kerja dan kesehatan para politikus muda? Ataukah ini sekadar duka yang cepat berlalu tanpa perubahan berarti?



