Yield Treasury 10 Tahun Diprediksi Sentuh 6%, Bitcoin Justru Diyakini Tak Panik
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah analis memperkirakan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun menuju 6%, level terakhir kali terlihat pada 2000.
- Kenaikan yield akibat kekhawatiran fiskal dan premi jangka panjang justru dinilai menguntungkan aset alternatif seperti bitcoin dan emas.
- Risiko utama tetap ada: jika Fed kembali menaikkan suku bunga secara agresif, pola tekanan 2022 bisa terulang.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun diproyeksikan menembus 6% dalam beberapa bulan ke depan, level yang terakhir kali tercatat pada 2000. Proyeksi ini muncul setelah yield surat utang acuan global tersebut menanjak selama berbulan-bulan, memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
Namun, bagi pasar kripto, kenaikan yield tidak otomatis menjadi kabar buruk. Efeknya terhadap bitcoin dan aset tanpa arus kas seperti emas sangat bergantung pada pemicu di balik lonjakan tersebut. Jika investor menuntut imbal hasil lebih tinggi karena khawatir terhadap defisit fiskal yang membengkak, bukan karena ekonomi yang memanas atau kenaikan suku bunga Fed, maka sinyal yang muncul adalah ketidakpercayaan terhadap keuangan pemerintah AS.
Markus Thielen, pendiri 10x Research, dalam catatannya kepada klien menyatakan bahwa ketika yield naik karena Fed memperketat kebijakan, bitcoin tertekan. Sebaliknya, ketika yield naik karena kekhawatiran fiskal dan premi jangka panjang, situasinya berbalik. Ia memperkirakan yield 10 tahun akan mencapai 6% dalam beberapa bulan mendatang.
Rekam jejak pasar sejak 2022 mendukung tesis Thielen. Saat itu, yield 10 tahun lebih dari dua kali lipat menjadi 3,88% akibat serangkaian kenaikan suku bunga Fed, termasuk beberapa langkah 50 dan 75 basis poin. Bitcoin pun merosot 64% pada tahun tersebut, diperparah oleh skandal dan kebangkrutan di industri kripto.
Sejak akhir 2023, korelasinya berubah. Meski yield terus menanjak ke 5,23%, bitcoin justru mencatat kenaikan sekitar dua kali lipat. Thielen dan sejumlah analis lain menilai kenaikan yield belakangan ini lebih didorong oleh kekhawatiran fiskal dan premi jangka panjang yang lebih tinggi, bukan oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Strategic Analytics, firma riset berbasis di Chicago, mengamati pola serupa pada emas. Sejak 2022, emas lebih mencerminkan persepsi risiko fiskal, premi jangka panjang, defisit, dan keberlanjutan utang, ketimbang jalur kebijakan Fed. Emas tidak lagi sekadar bereaksi terhadap yield riil, melainkan memberi harga pada risiko keberlanjutan fiskal dan pelemahan mata uang.
"Ketika yield naik karena Fed memperketat, bitcoin menderita. Ketika yield naik karena kekhawatiran fiskal dan premi jangka panjang, gambarannya berbalik," ujar Markus Thielen, pendiri 10x Research.
Proyeksi yield 6% juga disampaikan Dan Niles, pendiri Niles Investment Management, dalam wawancara dengan CNBC. Ia menyoroti defisit yang mencapai sekitar 6% dari PDB dan meningkatnya persaingan antara pemerintah dan perusahaan teknologi besar yang sama-sama mencari dana di pasar obligasi. Pemerintah terus menerbitkan surat utang untuk membiayai defisit, sementara perusahaan AI hyperscaler juga menggalang dana besar di pasar yang sama. Persaingan memperebutkan modal ini dapat mendorong yield lebih tinggi dan membuat biaya pinjaman semakin mahal bagi semua pihak.
Thielen menambahkan bahwa yield saat ini masih berada di bawah pertumbuhan PDB nominal (5,24% vs 6,56%) dan jauh di bawah laju pertumbuhan utang federal sekitar 8,5% per tahun sejak 2020. Artinya, pemegang obligasi belum sepenuhnya dikompensasi atas ekspansi ekonomi nominal dan stok utang yang terus membengkak.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Kenaikan yield Treasury AS biasanya menarik modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dan memberi tekanan pada nilai tukar rupiah serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Namun, jika kenaikan yield didorong oleh kekhawatiran fiskal AS, sebagian investor global mungkin mulai mencari aset alternatif, termasuk emas dan aset kripto, yang dapat menguntungkan pasar kripto domestik yang sedang tumbuh.
Peringatan bagi para pemegang bitcoin tetap ada. Jika yield melonjak karena Fed kembali menaikkan suku bunga secara agresif, pola 2022 bisa terulang. Pertanyaannya kini, apakah kenaikan yield kali ini benar-benar mencerminkan kekhawatiran fiskal yang struktural, atau justru sinyal bahwa bank sentral AS akan kembali memperketat kebijakan moneter lebih cepat dari perkiraan pasar?



