SpaceX Uji Terbang Perdana Starship ke Orbit, Sinyal Baru Ambisi Bulan
Baca dalam 60 detik
- SpaceX sukses menerbangkan Starship ke orbit dalam misi tiga jam, meski satu mesin Raptor mati dini.
- Roket terkuat dunia ini juga meluncurkan 26 satelit Starlink generasi ketiga, menandai penggunaan operasional pertamanya.
- Keberhasilan ini membuka jalan bagi misi Artemis 2028, tetapi jadwal ambisius NASA masih diragukan pengamat.

SpaceX berhasil mengirim wahana Starship ke orbit untuk pertama kalinya dalam uji terbang pada Senin (waktu setempat), sebuah tonggak penting menuju operasionalisasi roket paling bertenaga yang pernah dibuat manusia. Misi singkat selama tiga jam itu juga menjadi yang pertama bagi Starship untuk menempatkan satelit operasional di orbit rendah Bumi, memperkuat ambisi perusahaan dalam layanan internet dan eksplorasi antariksa.
Peluncuran dari Starbase, Texas, berlangsung dramatis. Mesin Raptor tahap atas sempat mengalami mati dini, namun tim kendali penerbangan yang dipimpin Elon Musk memutuskan wahana dalam kondisi layak. Pembakaran ulang dengan satu mesin berhasil menuntaskan pendakian ke orbit. Tak lama setelah itu, dispenser di hidung roket melepaskan 26 satelit Starlink generasi ketiga yang diklaim berkapasitas sepuluh kali lipat dibanding generasi sebelumnya.
Keputusan untuk mempercepat kembalinya Starship ke Bumi diambil setelah satelit aman mengorbit. Wahana itu mendarat terkendali di Samudra Pasifik, utara Hawaii, sekitar pukul 11.57 EDT, mengakhiri misi yang semula dijadwalkan enam orbit. Bagi NASA, kemampuan Starship mencapai orbit dan kembali dengan selamat adalah prasyarat mutlak sebelum varian pendarat bulan dipakai dalam misi Artemis pada 2028.
Administrator NASA Jared Isaacman menyampaikan apresiasi melalui platform X. Ia menyebut peluncuran itu "memukau" dan menilai langkah SpaceX mengelola setiap tahap secara aman, bertanggung jawab, dan inspiratif. "NASA bersama publik antusias membantu dan berharap misi Starship menjadi rutin," tulisnya. Pernyataan ini menegaskan posisi Starship sebagai tulang punggung rencana eksplorasi bulan Amerika Serikat.
Meski demikian, jalan menuju Artemis IV tidak mulus. Untuk mengirim astronot ke permukaan bulan, SpaceX harus meluncurkan hingga 15 tanker Super Heavy-Starship guna mengisi bahan bakar pendarat di orbit. Proses ini menuntut keandalan luar biasa dan jadwal peluncuran yang padat. Sejumlah pengamat industri antariksa meragukan kemampuan SpaceX memenuhi target 2028. NASA pun mengambil langkah pengamanan dengan mendanai pengembangan pendarat alternatif buatan Blue Origin.
Dari sisi teknologi, misi Senin juga menguji kemampuan manuver tahap pertama. Setelah berpisah, booster Super Heavy berbalik arah dan mendarat vertikal di lepas pantai Texas. Satu mesin sempat mati dini saat pembakaran balik, namun pendaratan berjalan normal. SpaceX mengaku telah melakukan berbagai peningkatan perangkat lunak dan perangkat keras setelah insiden pendaratan keras pada uji sebelumnya. Perusahaan masih memilih pendaratan laut sebagai langkah hati-hati sebelum kembali menggunakan penangkapan oleh lengan mekanik di menara peluncuran.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar tontonan. Starship dan satelit Starlink generasi baru berpotensi memperluas jangkauan internet cepat ke daerah terpencil, termasuk wilayah maritim dan pulau-pulau kecil. Namun, ketergantungan pada penyedia asing juga memunculkan pertanyaan tentang kedaulatan data dan keamanan siber. Pemerintah perlu menyiapkan regulasi yang adaptif tanpa menghambat inovasi, sekaligus mendorong industri antariksa dalam negeri agar tidak sekadar menjadi pasar.
Ke depan, SpaceX berencana memperbanyak peluncuran dari Florida dan meningkatkan frekuensi uji terbang. Jika jadwal berjalan lancar, Starship tidak hanya menjadi alat transportasi antariksa, tetapi juga katalis bagi ekonomi orbit yang lebih luas. Pertanyaannya, akankah NASA dan mitra internasional mampu mengejar target 2028, atau justru menunda ambisi bulan demi keselamatan dan keandalan?



