Pasar Berjangka Bitcoin Ditinggalkan: Taruhan Bearish Justru Bayar untuk Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Open interest futures Bitcoin merosot ke 652.000 BTC, level terendah sepanjang tahun, menandakan eksodus modal dari instrumen leveraged.
- Funding rate perpetual kembali negatif rata-rata -0,3%, sinyal bahwa posisi short agresif dan bersedia menanggung biaya demi mempertahankan taruhan penurunan.
- Tekanan makro dari yield Treasury AS yang melampaui 5,2% dan penguatan dolar AS berpotensi mengalihkan minat investor dari aset kripto ke instrumen berbunga.

Minat terhadap kontrak berjangka Bitcoin (BTC) menyusut tajam. Jumlah posisi terbuka (open interest) di pasar futures BTC tercatat hanya 652.000 BTC—salah satu yang terendah pada 2026—setelah mencapai puncak 800.000 BTC di awal tahun. Data dari Coinglass ini mengonfirmasi bahwa modal sedang meninggalkan instrumen derivatif, meski harga Bitcoin masih mencatat kenaikan 40% sepanjang kuartal III.
Yang lebih menarik, para trader yang bertahan justru memilih untuk membayar demi mempertahankan posisi short. Rata-rata funding rate perpetual di bursa-bursa utama kembali negatif, yakni sekitar -0,3%. Dalam mekanisme perpetual, funding rate negatif menunjukkan bahwa pihak short—yang bertaruh pada penurunan harga—bersedia menanggung biaya kepada pemegang posisi long agar taruhan bearish mereka tetap terbuka. Ini adalah sinyal sentimen pesimistis yang jarang terjadi di tengah kinerja Bitcoin yang sebenarnya masih positif secara kuartalan.
Penurunan minat derivatif ini terjadi hanya 24 jam setelah harga Bitcoin turun 2% ke level US$82.800, sebagai reaksi atas pernyataan Presiden Donald Trump yang tidak menutup kemungkinan serangan lanjutan ke Iran sebelum pemilihan tengah periode AS. Meski demikian, Bitcoin masih berada lebih dari US$20.000 di atas titik terendah siklus musim panas dan tetap menjadi aset berkinerja terbaik pada kuartal III.
Tekanan tidak hanya dirasakan Bitcoin. Emas juga melemah 3% dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di sekitar US$4.150 per ons. Rasio Bitcoin terhadap emas—yang mengukur berapa ons emas yang bisa dibeli dengan satu Bitcoin—mendekati angka 20, ambang yang hampir positif secara year-to-date. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menembus level 101 seiring terus naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kenaikan yield ini membuat aset berbunga semakin menarik dibandingkan Bitcoin dan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Penguatan dolar dan yield yang tinggi diduga didukung oleh ketahanan ekonomi AS, meski kekhawatiran inflasi yang membandel turut mendorong biaya pinjaman. Dampaknya terlihat pada ETF obligasi jangka panjang AS (TLT) yang anjlok ke sekitar US$79, level terendah sepanjang masa. Bagi investor global, termasuk di Indonesia, pergeseran ini menciptakan dilema: apakah tetap memegang aset kripto yang volatil atau beralih ke instrumen pendapatan tetap yang kini menawarkan imbal hasil menarik.
"Funding rate negatif mengindikasikan bahwa pasar sedang dalam mode defensif. Para pelaku pasar berani membayar premi untuk tetap short, yang berarti mereka yakin penurunan lebih lanjut masih mungkin terjadi," ujar seorang analis derivatif di bursa kripto global, seperti dikutip dari laporan Coinglass.
Di Indonesia, sentimen ini dapat memengaruhi minat investor ritel terhadap produk derivatif kripto yang semakin marak di platform lokal. Dengan yield SUN (Surat Utang Negara) 10 tahun yang juga menanjak mendekati 7%, imbal hasil aset berbunga dalam negeri bisa menjadi pesaing berat bagi daya tarik kripto. Apalagi, Bappebti dan OJK terus memperketat pengawasan aset kripto, yang berpotensi menekan likuiditas pasar futures domestik.
Ke depan, arah Bitcoin akan sangat bergantung pada dua faktor: perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan suku bunga The Fed. Jika ketegangan dengan Iran mereda dan yield obligasi terkoreksi, arus modal ke aset berisiko bisa kembali mengalir. Sebaliknya, jika inflasi AS tetap tinggi dan The Fed mempertahankan sikap hawkish, tekanan jual di pasar kripto diperkirakan berlanjut. Pertanyaannya, apakah investor Indonesia akan tetap setia pada volatilitas kripto atau beralih ke instrumen yang lebih stabil?



