Aave Pimpin DeFi Menguat, Bitcoin Bertahan di Atas US$84 Ribu Meski Imbal Hasil Treasury Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin kembali ke level US$84.170 setelah sempat tertekan, sementara 72 dari 100 konstituen CoinDesk 100 ditutup hijau.
- Sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) menjadi motor penggerak dengan indeks DFX naik 5%, dipimpin token Aave yang melesat 11%.
- Kenaikan terjadi di tengah lonjakan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke 5,234%, level tertinggi sejak 2007, yang biasanya menekan aset berisiko.

Bitcoin berhasil bangkit dari tekanan jual yang sempat menekannya pada awal pekan. Pada perdagangan Selasa, aset kripto utama itu diperdagangkan di kisaran US$84.170, naik 0,82% sejak tengah malam UTC dan menguat 1,4% dalam 24 jam terakhir. Penguatan ini mengangkat 72 dari 100 konstituen indeks CoinDesk 100 ke zona positif, dengan indeks acuan tersebut bertambah 0,89% menjadi 1.904,49.
Pemulihan terjadi di tengah kondisi makro yang seharusnya kurang bersahabat bagi aset berisiko. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertengger di level 5,234% setelah penutupan Senin di atas 5,2%โlevel tertinggi sejak 2007. Sementara itu, yield tenor 30 tahun berada di 5,549%, setelah sempat menembus 5,56% pada Senin, mendekati puncak era 2004. Lonjakan imbal hasil ini biasanya menjadi sinyal negatif bagi pasar saham dan kripto karena meningkatkan biaya peluang memegang aset non-bunga.
Hal itu tercermin dari aksi jual di Wall Street. Indeks Dow Jones turun lebih dari 300 poin pada Senin, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 0,8% dan 0,9%. Kontrak berjangka saham AS bergerak campuran pada Selasa pagi. Namun, pasar kripto justru menunjukkan ketahanan yang jarang terlihat belakangan ini.
Yang menarik, penggerak utama bukanlah Bitcoin, melainkan sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi). Indeks DeFi Select (DFX) melonjak 5% sejak tengah malam, dipimpin token protokol pinjaman Aave (AAVE) yang melesat 11% ke US$166,39, disusul Curve DAO Token (CRV) yang naik 5,2% ke US$0,3923. Indeks CoinDesk 80, yang melacak kapitalisasi menengah, naik 2,0%, mengalahkan CoinDesk 5 (berisi aset utama) yang hanya naik 1,3%. Namun, dalam periode 24 jam, posisi terbalik: CD5 menguat 1,7% sementara CD80 hanya 0,44%.
Di sisi lain, token privasi justru menjadi pengecualian dan mencatat penurunan terdalam. Zcash (ZEC) merosot 4,1% ke US$1.422,35, memperpanjang penurunan 8,4% dalam 24 jam dan sekitar 13% di bawah level Jumat lalu. Dash (DASH) juga tertekan 6,4% ke US$61,38. Aksi jual ini menunjukkan rotasi modal dari aset yang dianggap kurang likuid atau memiliki risiko regulasi lebih tinggi.
Pasar komoditas dan mata uang juga bergerak. Minyak mentah Brent melemah 0,85% ke US$97,92, tetap di bawah US$100 setelah lonjakan Senin. Emas naik 0,68% ke US$4.140, sedangkan indeks dolar AS menguat 0,18% ke 101,36. Kombinasi yield tinggi dan dolar kuat biasanya menekan harga kripto, tetapi korelasi itu tampak longgar dalam beberapa hari terakhir.
"Kenaikan DeFi yang dipimpin Aave menunjukkan bahwa likuiditas masih mencari imbal hasil di dalam ekosistem kripto, bahkan ketika pasar tradisional bergolak," ujar seorang analis pasar yang memantau pergerakan ini.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini memiliki beberapa implikasi. Pertama, penguatan DeFi dapat mendorong minat pada protokol pinjaman terdesentralisasi yang menawarkan bunga lebih tinggi dibandingkan instrumen konvensional, meskipun risiko smart contract dan volatilitas tetap tinggi. Kedua, lonjakan yield Treasury AS berpotensi menarik modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang bisa menekan nilai tukar rupiah dan obligasi domestik. Ketiga, regulator dalam negeri seperti Bappebti dan OJK perlu mencermati arus modal ke aset kripto, terutama token DeFi, yang belum sepenuhnya diatur dalam kerangka hukum yang ada.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah reli DeFi ini berkelanjutan atau hanya lonjakan jangka pendek. Jika yield obligasi AS terus naik, tekanan pada aset berisiko akan meningkat, dan kripto mungkin tidak selalu mampu mengabaikannya. Sebaliknya, jika The Fed memberi sinyal pelonggaran, ruang bagi DeFi untuk terus tumbuh akan lebih terbuka. Investor disarankan mencermati data inflasi dan pernyataan pejabat bank sentral dalam beberapa pekan mendatang.



