Bitcoin Cetak Rekor September, Tembus Pola Sejak 2013 di Tengah Gejolak Makro Global
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 7% pada September 2026, mematahkan tren negatif setelah Agustus yang melonjak 25%.
- Kenaikan ini menjadi bulan positif ketiga beruntun dan mendorong kinerja kuartal ketiga di atas 40%, pertama sejak Q3 2025.
- Pasar kripto menghadapi ujian likuiditas dari IPO Anthropic dan pemilu sela AS, sementara yield obligasi global dan harga minyak masih menekan sentimen risiko.

Bitcoin menorehkan kinerja positif sepanjang September dengan penguatan sekitar 7%, mematahkan pola historis yang berlangsung lebih dari satu dekade. Sejak 2013, setiap Agustus yang ditutup menguat selalu diikuti oleh September yang melemah. Kini, dengan dua hari tersisa di kalender, aset kripto terbesar itu berpotensi mengakhiri bulan ini di zona hijau dan mencatatkan tiga bulan kenaikan beruntun sepanjang Juli–September.
Jika bertahan, torehan tersebut juga akan mengangkat kinerja kuartal ketiga 2026 ke level di atas 40%, menjadi kuartal positif pertama sejak Q3 2025. Data historis yang dihimpun CoinGlass menunjukkan kuartal keempat secara rata-rata menjadi periode terkuat bagi bitcoin, dengan kenaikan mencapai 77%. Namun, latar belakang makro saat ini jauh dari kata stabil.
Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$84.000, tertahan oleh berbagai tekanan eksternal. Yield obligasi global sedang menanjak, dengan yield US Treasury 10 tahun menembus 5,2%. Indeks MOVE, yang mengukur volatilitas pasar obligasi, berada di atas 100 dan mendekati level tertinggi sepanjang tahun. Harga minyak yang bertahan di atas US$90 per barel memperkuat kekhawatiran inflasi, sementara emas justru melemah sekitar 3% pada Senin ke level sedikit di atas US$4.000 per ons.
Kuartal keempat akan menghadirkan dua ujian likuiditas dan selera risiko. Rencana IPO Anthropic yang dilaporkan akan digelar November berpotensi menarik perhatian dan modal investor ke pasar ekuitas, meski jadwal dan ukurannya belum final. Selain itu, pemilihan sela AS pada November diperkirakan menambah volatilitas seiring investor menilai arah kebijakan ekonomi ke depan.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini tidak bisa diabaikan. Pasar kripto domestik semakin terhubung dengan likuiditas global, terutama melalui stablecoin dan platform perdagangan lintas negara. Seiring stablecoin memasuki ranah keuangan teregulasi, kawasan Asia Pasifik—termasuk Indonesia—menjadi medan uji penting. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia tengah menyiapkan kerangka regulasi aset digital yang lebih komprehensif, yang dapat memengaruhi arus modal dan adopsi institusional di dalam negeri.
Pengamat pasar menilai ketahanan bitcoin di September ini bisa menjadi sinyal positif bagi aset berisiko, tetapi mereka mengingatkan bahwa volatilitas makro masih tinggi. Kenaikan yield obligasi dan harga minyak dapat mengalihkan dana ke aset safe haven seperti obligasi dan emas, yang berpotensi menekan harga bitcoin dalam jangka pendek. Meski demikian, narasi lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan dolar AS tetap menjadi pendorong utama permintaan jangka panjang.
Dengan dua hari tersisa, pertanyaannya kini apakah bitcoin mampu mempertahankan momentum positif hingga penutupan September dan mengawali kuartal keempat yang secara historis gemilang. Jika pola musiman berulang, reli bisa berlanjut, tetapi bayang-bayang ketidakpastian global—dari kebijakan moneter hingga geopolitik—akan terus menguji ketangguhan pasar kripto.



