Isman Jasulmei, Asisten Pelatih di Balik Juara Persija 2001, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Isman Jasulmei, mantan asisten pelatih Persija Jakarta, meninggal dunia pada usia 61 tahun.
- Ia berperan penting saat Persija menjuarai Liga Indonesia 2001 dan pernah menangani sejumlah klub.
- Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar sepak bola nasional.

Kabar duka datang dari dunia sepak bola Indonesia. Isman Jasulmei, mantan asisten pelatih Persija Jakarta, menghembuskan napas terakhir pada Selasa (29/9/2026) di usia 61 tahun. Pria kelahiran 22 Mei 1965 itu dikenal sebagai sosok di balik kesuksesan Macan Kemayoran meraih gelar Liga Indonesia pada 2001.
Persija menyampaikan rasa kehilangan melalui akun Instagram resminya. "Selamat jalan coach Isman Jasulmei," tulis klub. "Satu nama yang akan selalu menjadi bagian dari cerita Macan Kemayoran, yang turut berperan penting sebagai asisten pelatih Persija saat menjuarai Liga Indonesia 2001."
Peran Isman di Persija tidak sekadar catatan sejarah. Ia mendampingi tim pada periode 2003-2009, masa transisi penting bagi klub ibu kota. Kiprahnya sebagai asisten menunjukkan loyalitas dan kemampuan taktis yang diakui oleh pelatih kepala silih berganti.
Sebelum beralih ke dunia kepelatihan, Isman aktif sebagai pemain. Ia pernah memperkuat Persija Jakarta, Arseto Solo, dan Timnas Indonesia level usia. Pengalaman sebagai pemain inilah yang kemudian memperkaya pendekatannya dalam membina pemain muda dan meracik strategi.
Kepergian Isman menambah daftar kehilangan tokoh sepak bola nasional dalam beberapa tahun terakhir. Generasi pelatih yang tumbuh di era 1990-an dan 2000-an perlahan berkurang, meninggalkan warisan yang perlu dilanjutkan oleh pelatih muda. Figur seperti Isman berperan sebagai jembatan antara tradisi dan modernisasi taktik di sepak bola Indonesia.
"Terima kasih untuk setiap langkah dan dedikasi yang pernah diberikan untuk Persija," tulis manajemen Persija.
Bagi Persija, sosok Isman adalah bagian dari fondasi yang membentuk identitas klub sebagai salah satu kekuatan utama di kancah nasional. Gelar 2001 menjadi titik balik yang mengangkat pamor Macan Kemayoran, dan Isman berada di garis depan saat itu. Dedikasinya juga tercermin dari kesediaannya menerima peran di berbagai klub, dari Jawa hingga Maluku.
Kabar duka ini pun menjadi pengingat akan pentingnya regenerasi kepelatihan di Indonesia. Banyak pelatih lokal yang memiliki pengalaman berharga, namun kurang mendapat panggung untuk mengembangkan ilmu. Ke depan, PSSI dan klub-klub diharapkan dapat lebih serius membangun sistem pembinaan pelatih agar warisan seperti yang ditinggalkan Isman tidak putus.
Sepak bola Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaiknya. Namun, jejak Isman Jasulmei akan tetap hidup melalui cerita juara dan pemain yang pernah dibimbingnya. Akankah generasi berikutnya mampu meneruskan semangat dan dedikasi yang ia tunjukkan?



