Matsumoto Rebut Sabuk Interim WBO, Acosta Tumbang Angka
Baca dalam 60 detik
- Ryusei Matsumoto menaklukkan Russell Acosta lewat keputusan angka mutlak dan mengklaim gelar interim WBO kelas minimum.
- Kecepatan tangan dan mobilitas Matsumoto menjadi pembeda utama, sementara Acosta kesulitan menemukan sasaran.
- Kemenangan ini membuka jalan bagi Matsumoto menuju duel perebutan gelar dunia penuh, sekaligus memperkuat dominasi petinju Jepang di kelas terkecil.

Petinju Jepang tanpa kekalahan, Ryusei Matsumoto, resmi mengantongi sabuk interim WBO kelas minimum setelah mengalahkan Russell Acosta dari Meksiko melalui keputusan angka mutlak dalam duel dua belas ronde di Tokyo, Minggu. Tiga juri memberi skor 115-113, 116-112, dan 118-110 untuk kemenangan Matsumoto, mematahkan rekor tak terkalahkan Acosta yang sebelumnya mencatat 17 kemenangan.
Pertarungan berlangsung cepat dengan Matsumoto, seorang southpaw, tampil dominan lewat kombinasi pukulan rapat ke arah wajah dan tubuh Acosta. Meski sesekali melepaskan pukulan bertenaga, Acosta kesulitan mendaratkan pukulan bersih karena kelincahan lawan. Hanya di ronde keempat dan ketujuh Acosta mampu memberi perlawanan berarti. Wasit Roberto Ramirez Jr. dari Puerto Rico memimpin jalannya laga.
Kemenangan ini mempertegas reputasi Matsumoto sebagai salah satu prospek paling menjanjikan di kelas 105 pon. Dengan rekor 9-0 (4 KO), ia kini menantikan peluang bertarung memperebutkan gelar dunia penuh, kemungkinan melawan juara bertahan atau petinju peringkat atas lainnya. Sementara bagi Acosta, kekalahan ini menjadi pukulan telak setelah sebelumnya tak terkalahkan, dan ia harus menata ulang kariernya untuk kembali ke jalur perebutan gelar.
Bagi publik Indonesia, pertarungan ini menambah panjang daftar petinju Asia yang bersinar di panggung dunia, khususnya di kelas berat ringan. Meski Indonesia belum memiliki representasi di kelas minimum putra, prestasi Matsumoto dapat menjadi inspirasi bagi petinju Tanah Air untuk menembus kompetisi internasional. Selain itu, kemenangan ini memperkuat posisi Jepang sebagai kiblat tinju profesional di Asia, yang kerap menjadi batu loncatan menuju panggung global.
"Matsumoto menunjukkan kelasnya dengan kecepatan dan kecerdasan bertinju. Acosta tidak pernah benar-benar menemukan ritme," ujar seorang pengamat tinju yang menyaksikan langsung pertarungan.
Ke depan, Matsumoto diprediksi akan segera dijadwalkan menghadapi juara dunia reguler WBO atau petinju peringkat satu. Jika berhasil, ia bisa menyatukan sabuk dan menjadi ancaman serius di divisi minimum. Sementara Acosta perlu bangkit dan mungkin menempuh jalur kualifikasi ulang untuk mendapatkan kesempatan kedua. Pertanyaannya, mampukah Matsumoto mempertahankan momentum dan menjadi juara dunia penuh dalam waktu dekat?



