Lima Orang Ditangkap di Dekat Pangkalan RAF Fairford, Polisi Antiteror Selidiki Kemungkinan Keterlibatan Iran
Baca dalam 60 detik
- Lima pria diamankan setelah tiga van yang membawa bahan peledak dihentikan di dekat RAF Fairford, pangkalan yang dipakai AS untuk operasi terhadap Iran.
- Penyelidikan mengarah pada kemungkinan motif Iran, meski otoritas belum menutup opsi lain; tingkat ancaman Inggris tetap di level severe.
- Insiden ini mencuatkan pertanyaan soal efektivitas intelijen karena penggerebekan justru dipicu laporan warga, bukan operasi yang direncanakan.

Lima pria ditangkap di dekat Pangkalan Udara RAF Fairford, Gloucestershire, Inggris, setelah polisi menemukan bahan peledak di tiga kendaraan yang melintas ke arah pangkalan yang selama ini digunakan militer Amerika Serikat untuk misi terhadap Iran. Penangkapan berlangsung sekitar pukul 00.45 waktu setempat, Minggu (27/9), setelah warga melaporkan keberadaan tiga van mencurigakan.
Polisi antiteror menyatakan kelima pria mula-mula ditahan karena dugaan pelanggaran Undang-Undang Bahan Peledak, lalu dijerat lagi dengan tuduhan persiapan tindak terorisme berdasarkan Pasal 5 Undang-Undang Terorisme. Seorang sumber menyebut materi yang ditemukan di dalam van konsisten dengan indikasi alat peledak rakitan, meski uji kelayakan masih berlangsung. Tim penjinak bom mengerahkan robot untuk memeriksa isi kendaraan di area pedesaan itu.
Penangkapan ini membuka pertanyaan besar: apakah otoritas Inggris benar-benar mengetahui rencana tersebut sebelumnya? Seorang warga yang sedang dalam perjalanan pulang melihat gerak-gerik tidak biasa sekelompok pria pada dini hari dan menelepon 999. Dari laporan itulah polisi bergerak. Sejumlah sumber menyebut operasi itu tidak berbasis intelijen, yang berarti aparat tidak memiliki informasi awal tentang potensi serangan.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, yang sedang berada di Liverpool untuk konferensi Partai Buruh, membatalkan agenda pertandingan sepak bola antara jurnalis dan politikus demi menerima pembaruan. Ia menyebut situasi ini "sangat mengkhawatirkan" dan menegaskan pemerintah akan "mengambil setiap langkah yang diperlukan" untuk melindungi warga. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengklaim para tersangka telah diawasi "untuk waktu yang lama" dan diduga "ingin menimbulkan kerusakan besar"—klaim yang tidak sejalan dengan pemahaman bahwa operasi tidak dipandu intelijen.
Perhatian utama penyidik tertuju pada kemungkinan keterlibatan Iran. Pada Juli lalu, Korps Garda Revolusi Islam Iran secara eksplisit menyoroti penggunaan RAF Fairford oleh pembom AS dan memperingatkan bahwa "pangkalan apa pun yang digunakan untuk agresi terhadap wilayah Iran merupakan target sah bagi pasukan kami." Peringatan itu muncul di tengah perang yang masih berlangsung antara AS dan Iran. Meski demikian, penyidik belum mengesampingkan motif lain, termasuk kemungkinan jaringan jihadis. Keterlibatan asing masih menjadi salah satu fokus investigasi, mengingat Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran pernah merancang serangan di luar negeri.
"Kami menghargai gangguan yang timbul dan ingin meyakinkan warga bahwa kami bekerja secepat mungkin agar mereka dapat kembali ke rumah," ujar Richard Ocone, asisten kepala kepolisian Gloucestershire.
Jika keterkaitan dengan Iran terbukti, ini akan menjadi eskalasi tajam dalam ketegangan London–Teheran. Beberapa insiden sebelumnya di Inggris memang dikaitkan dengan negara Timur Tengah itu, termasuk pembakaran empat ambulans Hatzola di Golders Green yang bermotif antisemit. Namun, dugaan plot di RAF Fairford jauh lebih serius karena menyasar instalasi militer yang menjadi tulang punggung operasi udara AS.
RAF Fairford memiliki landasan yang sangat panjang—hampir 3 kilometer—dan diperkuat untuk mendukung pengebom berat seperti B-1 dan B-52, yang mampu membawa muatan besar termasuk bom penghancur bunker. Pada Maret tahun ini, setelah Perdana Menteri Keir Starmer memberi izin bagi "tindakan defensif" AS terhadap situs rudal Iran dari pangkalan Inggris, empat pembom Amerika mendarat di Fairford. Sejak itu, pangkalan tersebut digunakan untuk operasi defensif spesifik. Keputusan itu memicu protes di dalam negeri Inggris, terutama karena serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.
Warga Whelford yang dievakuasi mengaku merasakan ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. "Ada ketegangan belakangan ini di sekitar pangkalan, kami tahu itu digunakan USAF. Rasanya selalu aman, tapi beberapa warga melihat patroli polisi lebih sering," kata Jason, seorang penduduk yang enggan menyebut nama belakangnya. Otoritas belum memastikan kapan warga bisa kembali ke rumah; mereka yang berada di pusat rekreasi Cirencester diminta mencari tempat menginap untuk Minggu malam.
Bagi Indonesia, insiden ini bukan sekadar peristiwa jauh di Eropa. Ketegangan AS–Iran yang memanas dapat memengaruhi stabilitas harga minyak dunia dan arus pelayaran di Selat Hormuz—jalur yang krusial bagi impor energi Indonesia. Pemerintah perlu mencermati potensi lonjakan harga BBM dan gangguan rantai pasok jika konflik meluas. Selain itu, keberhasilan atau kegagalan pengamanan pangkalan militer menjadi cermin bagi pengamanan objek vital nasional, termasuk pangkalan udara dan instalasi strategis lainnya, dari ancaman terorisme dan sabotase.
Ke depan, penyelidikan akan menentukan apakah ini benar-benar serangan yang direncanakan atau sekadar kebetulan yang berhasil digagalkan. Yang jelas, insiden ini menempatkan pertanyaan besar di depan dinas keamanan Inggris: bagaimana sebuah ancaman bisa lolos dari radar intelijen hingga hanya terdeteksi oleh warga sipil? Jika keterlibatan Iran terkonfirmasi, akankah London dan Washington memperketat operasi militer di pangkalan-pangkalan Eropa, dan seberapa besar risiko eskalasi di kawasan?



