Tyler Dibling dan Bayang-Bayang Bolasie: Saatnya Moyes Beri Ruang untuk Everton
Baca dalam 60 detik
- Tyler Dibling mencatatkan performa terbaiknya bersama Everton saat melawan Wolves di Carabao Cup dengan statistik dribel dan penciptaan peluang yang menonjol.
- Manajer David Moyes dinilai perlu memberikan menit bermain lebih banyak kepada pemain muda tersebut agar potensinya tidak stagnan.
- Jika terus diabaikan, Dibling berisiko menyia-nyiakan bakatnya dan Everton kehilangan sosok kreatif yang bisa mengakhiri puasa gelar.

Penampilan impresif Tyler Dibling saat Everton menghadapi Wolverhampton Wanderers di ajang Carabao Cup beberapa waktu lalu membuka mata banyak pihak. Winger muda itu tampil penuh selama 90 menit dan menorehkan statistik mencolok: tiga dribel sukses terbanyak di laga tersebut, akurasi umpan mencapai 90 persen, serta menciptakan dua peluang. Sayangnya, performa apik itu belum berbuah kesempatan reguler di Premier League. Manajer David Moyes masih enggan memberinya panggung lebih besar, meski timnya tengah mencari sosok kreatif untuk mengakhiri paceklik trofi yang sudah berlangsung sejak 1995.
Everton memang bukan klub yang pelit dalam belanja pemain. Sejak awal milenium, lebih dari 1 miliar poundsterling telah diinvestasikan untuk mendatangkan talenta-talenta baru. Salah satu pembelian paling mencolok terjadi pada musim panas 2016 ketika manajemen menggelontorkan dana besar, termasuk merekrut Yannick Bolasie dari Crystal Palace dengan harga sekitar 25 juta poundsterling. Bolasie kala itu dianggap sebagai mesin serangan yang mampu membawa Everton kembali bersaing. Namun, cedera panjang membuatnya hanya mencatat 32 penampilan sebelum hengkang dua tahun kemudian.
Meski minim menit bermain, Bolasie kerap membuat penonton di Goodison Park—kini Hill Dickinson Stadium—berdiri dari kursi. Gaya dribelnya yang eksplosif dan tak terduga menjadi hiburan tersendiri. Konsistensinya memang sering dipertanyakan, tetapi momen-momen magisnya, seperti assist untuk Romelu Lukaku ke gawang Sunderland, tetap dikenang. Kini, Dibling hadir dengan karakter permainan yang mirip: berani menusuk, lihai melewati lawan, dan mampu menciptakan peluang dari situasi sempit.
Harga 30 juta poundsterling yang ditebus Everton untuk mendatangkan Dibling dari musim panas lalu sempat memicu euforia. Sayangnya, ekspektasi itu belum terwujud. Musim lalu, ia hanya empat kali menjadi starter di Premier League. Pada musim 2026/27, ia bahkan baru sekali tampil di liga. Moyes seolah belum melihatnya sebagai pilihan utama. Padahal, dengan gaya bermain yang atraktif, Dibling bisa menjadi pembeda di lini serang Everton yang kerap tumpul.
Dalam konteks persepakbolaan Indonesia, kisah Dibling menjadi cerminan bagaimana klub-klub besar sering kali terjebak dalam siklus belanja besar tanpa memberi kesempatan kepada pemain muda untuk berkembang. Liga Indonesia pun tak lepas dari fenomena serupa. Banyak klub mendatangkan pemain asing mahal, tetapi mengabaikan potensi lokal yang sebenarnya mampu bersaing. Everton, dengan tradisi akademi yang kuat, seharusnya bisa menjadi contoh bahwa investasi jangka panjang pada pemain muda seperti Dibling lebih berkelanjutan daripada terus-menerus menguras kas untuk pembelian instan.
"Dibling punya semua alat untuk sukses di Merseyside. Ia bisa menjadi kunci untuk mengakhiri penantian trofi yang tak terbayangkan," tulis analis Football FanCast, Ethan, dalam artikelnya.
Moyes sendiri menghadapi dilema. Di satu sisi, ia butuh hasil instan untuk menjaga posisinya. Di sisi lain, ia memiliki permata yang perlu dipoles. Pemain seperti James Garner dan Jarrad Branthwaite telah menunjukkan bahwa kepercayaan pada pemain muda bisa berbuah manis. Keduanya kini masuk skuad Inggris. Dibling berpotensi menyusul jika ia diberi kesempatan yang cukup. Namun, tanpa menit bermain reguler, bakatnya bisa layu sebelum berkembang.
Jika Moyes terus mengabaikan Dibling, bukan tidak mungkin Everton akan kembali menyesal seperti kasus Bolasie—seorang pemain berbakat yang akhirnya pergi tanpa jejak berarti. Sebaliknya, jika diberi kepercayaan, Dibling bisa menjadi sosok yang mengangkat performa tim dan mungkin, siapa tahu, mengakhiri puasa gelar yang sudah terlalu lama. Pertanyaannya, apakah Moyes berani mengambil risiko itu sebelum terlambat?



