Daniel James di Ambang Nasib Gnonto: Leeds United Hadapi Dilema Lini Depan
Baca dalam 60 detik
- Daniel James belum mencetak gol di Liga Premier selama 23 pertandingan, memicu spekulasi masa depannya di Leeds United.
- Manajer Daniel Farke disebut tengah mempertimbangkan opsi serupa dengan Wilfried Gnonto yang dipinjamkan ke Fiorentina.
- Jika tren negatif berlanjut hingga Januari, Leeds berpotensi mencari pengganti di bursa transfer.

Leeds United tengah menikmati awal musim yang solid di Liga Premier dengan catatan tak terkalahkan dalam lima pertandingan pertama, tetapi di balik performa tim yang menjanjikan, bayang-bayang masalah lini depan mulai muncul. Daniel James, penyerang sayap asal Wales, menjadi sorotan utama setelah puasa golnya di kompetisi liga mencapai 23 pertandingan. Terakhir kali ia mencetak gol di liga adalah saat melawan Middlesbrough di Championship pada April 2025, yang berarti sudah 17 bulan ia tidak menorehkan namanya di papan skor untuk pertandingan liga.
James didatangkan ke Elland Road dengan ekspektasi tinggi setelah tampil produktif di divisi kedua. Selama dua musim di Championship, ia mencatatkan 25 gol dan 16 assist di semua kompetisi, angka yang membuatnya menjadi andalan Daniel Farke. Namun, sejak promosi ke Liga Premier, produktivitasnya menurun drastis. Pada musim 2025/26, ia belum menyumbang gol atau assist dalam 22 penampilan di Liga Premier. Satu-satunya golnya musim ini tercipta di ajang Piala Liga saat melawan Nottingham Forest bulan lalu.
Situasi ini mengingatkan pada kasus Wilfried Gnonto, winger Italia yang dipinjamkan ke Fiorentina pada deadline day musim panas lalu. Gnonto juga kesulitan beradaptasi dengan intensitas Liga Premier setelah bersinar di Championship. Meski sempat menjadi favorit fans dengan 18 gol dan 8 assist dalam dua musim, ia gagal mencetak gol dalam 23 penampilan Liga Premier musim lalu. Farke pun memilih meminjamkannya ke Serie A, dengan opsi pembelian permanen musim depan. Kini, James berisiko mengikuti jejak serupa jika tidak segera bangkit.
"James belum cukup membuktikan bahwa ia memiliki kualitas untuk tampil konsisten di Liga Premier. Jika terus begini, Leeds mungkin harus berpisah dengannya dalam jangka menengah hingga panjang," ujar seorang pengamat sepak bola Inggris.
Dari sudut pandang taktik, Leeds memang memiliki masalah efisiensi di lini serang. Dari lima pertandingan awal, mereka hanya mampu mencetak lebih dari satu gol dalam satu kesempatan, dan baru-baru ini ditahan imbang 0-0 oleh Crystal Palace. Ketergantungan pada James sebagai opsi di sayap kanan menjadi tidak efektif ketika kontribusi gol dan assistnya menghilang. Farke, yang dikenal disiplin dalam pengambilan keputusan, tampaknya tidak akan ragu mengambil langkah tegas jika performa James tidak kunjung membaik hingga jendela transfer Januari.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kasus James ini menjadi cerminan betapa kejamnya kompetisi Liga Premier. Pemain yang bersinar di divisi bawah belum tentu sukses di kasta tertinggi. Klub-klub Indonesia yang sering mendatangkan pemain asing dengan rekor impresif di liga lain juga perlu belajar dari pola ini: adaptasi terhadap intensitas dan kualitas lawan adalah faktor krusial. Leeds United, yang memiliki basis penggemar besar di Indonesia, menjadi contoh bagaimana manajemen klub Eropa mengevaluasi pemain secara brutal berdasarkan data dan hasil.
Jika James gagal memanfaatkan sisa waktu hingga Januari untuk mengakhiri puasa golnya, bukan tidak mungkin Leeds akan mencari pengganti di bursa transfer. Nama-nama seperti pemain muda dari akademi atau target baru dari liga lain bisa muncul. Pertanyaannya, apakah Farke akan memberi kesempatan terakhir atau justru mengulang skenario Gnonto? Keputusan ini tidak hanya menentukan masa depan James, tetapi juga arah lini serang Leeds di paruh kedua musim.



