Di Balik Gaun 'Meleleh' Olivia Rodrigo: Rahasia Material Kertas dan Ujian Waktu Panggung
Baca dalam 60 detik
- Gaun biru muda yang larut saat diguyur hujan di tur The Unraveled Tour terbuat dari material mirip kertas yang dirancang khusus.
- Desainer Hussein Chalayan mengungkap proses pengembangan kostum melibatkan Olivia Rodrigo secara langsung, dengan tantangan utama menjaga akurasi waktu pelarutan saat penyanyi tetap bernyanyi.
- Trik panggung ini berpotensi mendorong inovasi di industri mode pertunjukan, sekaligus menegaskan posisi Olivia sebagai bintang pop yang peduli detail visual.

Kostum panggung Olivia Rodrigo kembali menjadi perbincangan setelah desainer Hussein Chalayan membeberkan rahasia di balik gaun biru muda yang larut saat diguyur hujan dalam pembukaan tur The Unraveled Tour di Hartford, Connecticut. Gaun itu bukan sekadar efek visual, melainkan hasil rekayasa material yang dirancang untuk hancur tepat waktu.
Chalayan menjelaskan bahwa gaun luar terbuat dari bahan menyerupai kertas yang mampu larut ketika bersentuhan dengan air. Begitu lapisan itu menghilang, terlihat gaun korset berbahan renda dan tulle berwarna kontras di bawahnya. "Saya ingin bagian luar tetap sederhana dan murni agar momen pengungkapannya lebih kuat," ujarnya kepada WWD, seperti dikutip dari sumber.
Proses kreatif ini bukan tanpa tantangan. Olivia harus tetap bernyanyi di tengah guyuran air, sementara pelarutan material mesti terjadi di titik yang tepat. Chalayan mengaku perlu melakukan banyak uji coba dan bolak-balik untuk menyempurnakan timing. Ia juga menegaskan bahwa Olivia terlibat aktif dalam setiap tahap pengembangan kostum.
Bagi industri hiburan, aksi panggung semacam ini menunjukkan pergeseran dari sekadar kostum megah menjadi properti yang hidup dan berinteraksi dengan elemen pertunjukan. Efek larut itu disebut-sebut mencerminkan video musik The Cure, di mana tubuh Olivia seolah terurai menjadi benang merah. Pendekatan ini memperkuat narasi visual yang konsisten antara lagu, video, dan penampilan langsung.
Di Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cermin bagi pelaku industri kreatif, terutama desainer dan penata panggung, bahwa nilai jual sebuah pertunjukan tidak lagi hanya bergantung pada suara atau tata cahaya, tetapi juga pada kejutan visual yang sulit ditiru. Konser-konser besar Tanah Air kerap mengandalkan LED dan kembang api; adopsi material cerdas semacam ini bisa menjadi pembeda yang menarik perhatian penonton global.
"Ada banyak uji coba dan penyesuaian agar pelarutan terjadi dengan cara yang tepat," kata Chalayan, menggambarkan rumitnya koordinasi antara desain, gerak panggung, dan efek air.
Olivia sendiri dikenal teliti soal penampilan. Pada tur Guts World Tour (2024โ2025), ia menekankan pentingnya lipstik tebal agar tidak mengotori mikrofon atau wajahnya. Detail kecil itu menunjukkan bahwa bagi penyanyi seperti dia, kostum dan riasan adalah bagian dari pertunjukan, bukan pelengkap.
Ke depan, apakah trik gaun larut ini akan menjadi tren di panggung musik dunia? Atau justru menjadi standar baru yang dituntut penggemar dari artis lain? Yang jelas, batas antara mode, teknologi, dan seni pertunjukan semakin tipis.



