WBA Dituding Langgar Aturan, Gassiev Tuntut Hak Super Champion
Baca dalam 60 detik
- Murat Gassiev, pemegang sabuk WBA reguler kelas berat, memprotes rencana WBA memberikan status Super Champion kepada Tyson Fury dan Anthony Joshua tanpa melalui mekanisme yang semestinya.
- Tim promotor Gassiev menilai keputusan ini menciderai prinsip sportivitas dan meminta klarifikasi resmi dari WBA.
- Jika WBA tetap melangkah, preseden buruk bisa memicu ketidakpercayaan terhadap badan tinju dan berdampak pada industri tinju global, termasuk di Indonesia.

Murat Gassiev, juara WBA kelas berat reguler, melalui tim promotornya menyampaikan protes keras terhadap laporan yang menyebut duel Tyson Fury vs Anthony Joshua pada 11 Desember mendatang akan memperebutkan sabuk WBA Super. Gassiev menegaskan status tersebut seharusnya menjadi miliknya sebagai juara bertahan.
Gassiev saat ini memegang gelar WBA reguler kelas berat yang diraih dan dipertahankan di atas ring. Setelah Oleksandr Usyk memutuskan melepaskan gelarnya, tim Gassiev berpendapat bahwa Gassiev sebagai juara bertahan seharusnya dipromosikan menjadi Super Champion, atau setidaknya diberi kesempatan pertama untuk memperebutkan status itu sebelum diberikan kepada petinju lain.
Menurut pernyataan resmi yang diterima redaksi, promotor Gassiev menilai tidak dapat diterima jika laporan sebesar ini beredar tanpa konsultasi dengan pihaknya. Mereka menuntut klarifikasi segera dari WBA.
"Jika ada yang seharusnya bertarung untuk gelar WBA Super kelas berat, itu adalah Murat Gassiev, juara bertahan, bukan dua petinju yang saat ini tidak memegang gelar dunia. Membiarkan kontender nomor dua dan nomor tiga melompati kontender nomor satu dan juara bertahan adalah keputusan yang luar biasa dan, sepengetahuan kami, belum pernah terjadi sebelumnya. Kami telah secara resmi meminta WBA untuk mengonfirmasi atau membantah laporan ini dan memberikan alasan atas keputusan tersebut. Setidaknya, Murat harus diberi kesempatan untuk didengar dan bertarung memperebutkan status Super Champion sebelum status itu diberikan kepada orang lain. Hak klien kami dalam hal ini sepenuhnya kami pertahankan," ujar John Wirt, co-promotor dan penasihat hukum Gassiev.
Gassiev sendiri menegaskan bahwa keputusan itu dibuat tanpa ada kontak dengan dirinya atau timnya. "Tidak ada yang bertanya kepada saya atau tim saya sebelum keputusan ini. Saya telah mempertahankan gelar ini di atas ring, bukan di siaran pers. Saya siap melawan siapa pun โ Fury, Joshua, siapa saja โ besok, bulan depan, kapan pun. Itu tidak pernah menjadi pertanyaan bagi saya. Saya tidak akan menerima situasi di mana masa depan juara ditentukan di atas kertas, bukan di atas ring," tegasnya.
Kasus ini menyoroti potensi konflik kepentingan dalam tubuh organisasi tinju dunia. WBA sebagai salah satu badan saniteter besar di dunia tinju memiliki kewenangan untuk menentukan status gelar, tetapi keputusan yang dianggap tidak transparan dapat merusak kredibilitas. Jika WBA mengabulkan permintaan Gassiev, maka duel Fury vs Joshua bisa kehilangan status Super, yang tentu berdampak pada nilai komersial dan daya tarik bagi penonton global.
Bagi Indonesia, dinamika ini bisa menjadi pelajaran berharga. Industri tinju nasional yang sedang tumbuh, dengan munculnya petinju-petinju berbakat di kelas dunia, membutuhkan regulasi yang jelas dan konsisten dari badan tinju internasional. Ketidakpastian status gelar dapat memengaruhi minat sponsor dan investor, serta mengurangi kepercayaan publik terhadap sportivitas. Selain itu, jika WBA dianggap tidak adil, bisa muncul dorongan bagi asosiasi tinju nasional untuk lebih vokal menuntut reformasi tata kelola.
Hingga berita ini diturunkan, WBA belum memberikan tanggapan resmi. Namun, tekanan dari tim Gassiev diprediksi akan terus berlanjut. Jika WBA tetap pada keputusannya, bukan tidak mungkin Gassiev akan menempuh jalur hukum atau bahkan memboikot pertarungan tersebut. Sebaliknya, jika WBA mengalah, duel Fury vs Joshua harus mencari legitimasi lain. Bagaimana pun, publik tinju menanti kejelasan: apakah WBA akan mengedepankan aturan atau komersialisme?



