Wamendagri Bima Arya: Kompetensi Bawa ke Puncak, Karakter yang Buat Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mendorong mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya membangun kapasitas global tanpa melepaskan akar kebangsaan.
- Ia menekankan bahwa ketangguhan mental dan integritas jauh lebih menentukan ketimbang sekadar kecerdasan akademik dalam perjalanan karier jangka panjang.
- Pesan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah menyiapkan talenta muda yang mampu bersaing di panggung internasional sekaligus memperkuat fondasi sosial di dalam negeri.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa keberhasilan jangka panjang generasi muda tidak ditentukan semata oleh kecerdasan intelektual, melainkan oleh ketangguhan karakter yang terbentuk melalui proses panjang. Pesan itu ia sampaikan di hadapan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya dalam forum Talkshow Orientasi Dinamika Kampus, Selasa (15/9), sebagai bagian dari upaya membentuk generasi yang mampu bersaing di tingkat global tanpa tercerabut dari identitas kebangsaan.
Dalam paparannya, Bima menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara kapasitas intelektual dan integritas moral. Ia menilai mahasiswa perlu mengasah kemampuan agar mampu berkarya di panggung internasional, namun tetap menjadikan nilai-nilai kebangsaan sebagai kompas dalam setiap langkah. Menurutnya, mentalitas aktivis yang produktif dan berkontribusi harus menjadi ciri khas generasi muda saat ini.
Bima menjelaskan bahwa kompetensi memang menjadi kunci untuk membuka pintu kesuksesan, tetapi karakter adalah faktor penentu apakah seseorang mampu mempertahankan posisinya di puncak. Ia menganalogikan pencapaian hidup seperti fenomena gunung es: apa yang terlihat oleh publik hanyalah sebagian kecil dari proses panjang yang mencakup disiplin, kesabaran, kemampuan mendengar, dan ketekunan menghadapi tantangan.
"Yang membawa Anda ke puncak itu kompetensi. Tapi membuat Anda bertahan di puncak itu karakter," tegas Bima.
Lebih jauh, ia mengaitkan pesan tersebut dengan semangat fastabiqul khairat yang menjadi nilai fundamental dalam tradisi Muhammadiyah. Semangat berlomba dalam kebaikan, menurutnya, bukan hanya soal berbuat baik kepada orang lain, tetapi juga menjadi mekanisme untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan memberikan dampak yang lebih luas bagi lingkungan sekitar.
Dalam konteks yang lebih praktis, Bima memperkenalkan konsep circle of esteem—lingkaran pertemanan yang terdiri dari individu-individu yang saling mendorong, menolong, mendoakan, dan mengingatkan. Ia berpesan agar mahasiswa selektif dalam membangun lingkaran terdekat, meskipun tetap terbuka berteman dengan siapa pun. Menurutnya, lingkungan pergaulan yang kondusif akan menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang ingin tumbuh menjadi pemimpin.
Pesan ini relevan tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi para profesional muda dan pelaku usaha di Indonesia. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kemampuan teknis memang menjadi syarat masuk, tetapi reputasi, integritas, dan jaringan sosial yang sehat sering kali menjadi pembeda antara mereka yang naik cepat dan mereka yang bertahan lama. Bagi investor dan pelaku pasar, kualitas sumber daya manusia semacam ini pada akhirnya akan memengaruhi produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.
Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri tampaknya ingin menegaskan bahwa pembangunan karakter bukan sekadar wacana seremonial. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang mampu berkiprah di tingkat global tanpa kehilangan akar sosial dan budayanya. Universitas Muhammadiyah Surabaya, sebagai salah satu kampus dengan ekosistem pendidikan dan pengabdian yang luas, dipandang sebagai mitra strategis dalam mencetak talenta semacam itu.
Ke depan, pertanyaannya adalah sejauh mana pesan semacam ini akan diterjemahkan menjadi kebijakan konkret—misalnya dalam kurikulum kampus, program mentoring, atau insentif bagi mahasiswa yang berprestasi di tingkat internasional. Tanpa tindak lanjut yang terukur, ajakan membangun karakter hanya akan menjadi retorika musiman yang cepat menguap setelah orientasi mahasiswa berakhir.



