Jeremy Jacquet, Talenta Muda Liverpool yang Diklaim Selevel Trent Alexander-Arnold
Baca dalam 60 detik
- Bek muda Prancis Jeremy Jacquet menjadi starter reguler Liverpool di musim perdananya dan mencuri perhatian dengan performa impresif.
- Kehadiran Jacquet menjawab keraguan pasca kepergian Trent Alexander-Arnold, di tengah minimnya kontribusi Conor Bradley dan Jeremie Frimpong.
- Jika konsisten, Jacquet berpotensi menyamai jejak Trent sebagai produk akademi yang mengantar Liverpool meraih trofi domestik dan Eropa.

Liverpool tampaknya menemukan permata baru di lini belakang. Bek tengah asal Prancis, Jeremy Jacquet, yang baru bergabung dari Rennes pada musim panas lalu, langsung menjelma menjadi pilar utama dan disebut-sebut sebagai talenta terbaik The Reds sejak kepergian Trent Alexander-Arnold. Penampilan impresifnya dalam laga 0-0 melawan Fulham di Anfield akhir pekan lalu menjadi bukti kualitasnya.
Kehadiran Jacquet menjadi oase di tengah upaya Liverpool menambal lubang yang ditinggalkan Trent. Sepeninggal bek kanan yang kini berusia 27 tahun itu, manajemen Liverpool sebenarnya telah menyiapkan dua opsi: Conor Bradley dan rekrutan mahal Jeremie Frimpong. Namun, keduanya belum mampu memenuhi ekspektasi. Bradley hanya tampil 15 kali di liga musim lalu dan absen sejak Januari akibat cedera lutut serius, sementara Frimpong yang didatangkan dengan harga 34 juta poundsterling dari Bayer Leverkusen kerap diterpa cedera dan inkonsistensi.
Di tengah situasi itu, Jacquet muncul sebagai solusi tak terduga. Pemain berusia 21 tahun tersebut langsung dipercaya menjadi starter di jantung pertahanan. Statistiknya melawan Fulham menjadi cerminan kualitasnya: 96 sentuhan (terbanyak di pertandingan), akurasi umpan 86%, 16 umpan menembus garis pertahanan lawan, dan 100% keberhasilan dalam duel udara. Ia juga mencatatkan dua tekel, lima pemulihan bola, serta satu penyelamatan di garis gawang yang memastikan clean sheet kedua Liverpool musim ini.
Kepiawaian Jacquet dalam mengolah bola dan ketenangannya di bawah tekanan mengingatkan pada sosok Trent, meski posisinya berbeda. Trent dikenal sebagai bek kanan modern yang produktif dalam menyerang dengan 86 assist dari 354 penampilan. Jacquet memang belum mencetak gol atau assist, tetapi kemampuannya membangun serangan dari belakang menjadi nilai tambah yang langka untuk seorang bek tengah muda.
"Penampilan Jacquet luar biasa. Ia seperti pemain senior yang sudah berpengalaman," ujar seorang pengamat sepak bola di media sosial, yang menyebutnya 'ridiculous'.
Bagi penggemar Liverpool, munculnya Jacquet mengingatkan pada tradisi akademi Melwood yang telah melahirkan Steven Gerrard dan Trent. Kepergian Trent sempat membuat fans khawatir, tetapi kehadiran pemain seperti Jacquet dan Rio Ngumoha (18 tahun) memberi harapan baru. Ngumoha sendiri telah mencatat 34 penampilan senior dan menjadi opsi menarik di sayap kiri.
Dalam konteks persepakatan global, munculnya Jacquet juga menarik perhatian penggemar di Indonesia. Liverpool adalah salah satu klub dengan basis penggemar terbesar di Tanah Air. Performa pemain muda seperti Jacquet bisa menjadi bahan diskusi hangat di media sosial dan komunitas, sekaligus memperkuat daya tarik Liga Premier sebagai tontonan wajib akhir pekan. Selain itu, keberhasilan Jacquet di usia muda dapat menginspirasi pemain muda Indonesia untuk menembus kompetisi Eropa.
Ke depan, tantangan terbesar Jacquet adalah menjaga konsistensi dan menghindari cedera. Jika mampu melanjutkan performa apiknya, bukan tidak mungkin ia mengikuti jejak Trent dalam mengantar Liverpool meraih gelar Liga Premier dan Liga Champions. Akankah Jacquet menjadi bek tengah terbaik dunia dalam beberapa tahun mendatang? Waktu yang akan menjawab, tetapi bibitnya sudah terlihat jelas.



