Polisi Bantah Terpal dan Galon Milik Kapal Jurnalis Hilang, Ini Faktanya
Baca dalam 60 detik
- Ditpolairud Polda Banten memastikan terpal dan galon yang ditemukan tim SAR bukan bagian dari KM Arupadhatu 1 yang membawa rombongan jurnalis hilang.
- Hasil pemeriksaan menunjukkan perbedaan signifikan pada ukuran, bahan, dan merek air minum yang biasa digunakan kapal tersebut.
- Penyidik masih memverifikasi seluruh barang temuan dan mengimbau publik tidak berspekulasi sebelum ada kecocokan menyeluruh.

Kepolisian memastikan terpal dan galon yang ditemukan tim SAR gabungan di perairan Selat Sunda bukan berasal dari KM Arupadhatu 1, kapal yang mengangkut lima jurnalis dan tiga awak yang hilang sejak Senin (7/9). Klarifikasi ini disampaikan setelah Ditpolairud Polda Banten memeriksa pemilik kapal dan dua nakhoda pengganti di Polsek Carita, Minggu (13/9).
Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea mengungkapkan bahwa terpal temuan berukuran panjang 12 meter dan lebar 3,5 meter, serta berbau amis ikan. Sementara dimensi KM Arupadhatu 1 hanya 7,52 meter x 2,01 meter dengan kedalaman 0,90 meter. Atap penumpang kapal itu pun menggunakan plastik merek ORCHID berwarna biru, bukan terpal polyester atau PVC. "Terpal yang ditemukan jelas berbeda dari spesifikasi kapal," ujar Maruli dalam keterangan resminya, Senin (14/9).
Selain ukuran, Maruli menambahkan bahwa KM Arupadhatu 1 dan 2 memang memiliki terpal plastik, tetapi hanya sebagai penutup dua mesin tempel berukuran sekitar 2x2 meter, berwarna biru-oranye bolak-balik dengan tulisan '4M A12 ROYAL CROWN TECH BY KOREA + UV'. Terpal tersebut tidak dibawa saat pelayaran 7 September, melainkan disimpan di KM Arupadhatu 2. Adapun galon bertuliskan AQUA yang ditemukan, menurut keterangan awak, air minum yang biasa tersedia di kapal adalah merek Le Minerale kemasan 15 liter. "Belum dapat dipastikan apakah kapal membawa galon sebagai tempat penyimpanan air minum pada pelayaran tersebut," tambahnya.
Pemeriksaan juga menyoroti perlengkapan keselamatan kapal. Menurut Maruli, KM Arupadhatu 1 dilengkapi 10 hingga 12 life jacket, tiga busa jok, satu ring buoy bantuan Pemprov, serta dua jeriken berkapasitas 30 liter. Sementara terpal yang digunakan di kanopi buritan berbahan kain, bukan plastik. "Ini menjadi pembanding untuk mengidentifikasi barang temuan," tegasnya.
Dari keterangan nakhoda pengganti, kapal tersebut pernah melayani perjalanan ke Ujung Kulon dan Gunung Anak Krakatau. Dalam satu pelayaran, kapal membawa tujuh orang (penumpang, ABK, nakhoda) dengan konsumsi BBM sekitar 140 liter di tangki plus satu jeriken cadangan 30 liter. Data ini memperkuat dugaan bahwa barang temuan tidak terkait dengan kapal nahas tersebut.
"Kami tidak ingin terburu-buru menyimpulkan setiap barang yang ditemukan memiliki keterkaitan dengan KM Arupadhatu 1 sebelum dilakukan pemeriksaan dan pencocokan secara menyeluruh," kata Maruli.
Hingga hari keenam, tim SAR gabungan masih mencari lima jurnalisโMuhammad Bagus Khoirunas (ANTARA), Arie Basuki (merdeka.com), Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira (iNews), dan Daus (Anadolu)โserta tiga awak: Warta (kapten), Surakman (ABK), dan Heriyanto (guide). Mereka hilang kontak setelah bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, menuju kawasan vulkanik Anak Krakatau.
Kepala Basarnas Banten Al Amrad menyatakan bahwa life jacket, terpal, dan galon yang ditemukan akan diserahkan ke kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut. "Objek-objek tersebut akan kami serahkan kepada kepolisian," ujarnya, Minggu (13/9).
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi belum terverifikasi. Polda Banten bersama SAR akan terus melakukan pencarian dan pemeriksaan maksimal. Setiap perkembangan akan disampaikan melalui saluran resmi.
Kasus ini menyoroti pentingnya standar keselamatan pelayaran di perairan rawan, terutama bagi jurnalis yang meliput di wilayah berisiko tinggi. Ke depan, publik menanti apakah investigasi akan mengungkap penyebab pasti hilangnya kapal, sekaligus mendorong evaluasi prosedur keselamatan bagi awak media dan operator wisata bahari.



