Menkeu Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Siap Tinggalkan 'Kutukan 5%', Ini Buktinya
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ekonomi Indonesia mampu tumbuh di atas 5% secara berkelanjutan, meninggalkan stagnasi historis.
- Beban kerja di Kementerian Keuangan disebutnya berat, bahkan memengaruhi kondisi fisiknya, namun ia menilai hal itu sebanding dengan perbaikan fundamental ekonomi.
- Pernyataan ini menjadi sinyal bagi pasar bahwa pemerintah berkomitmen menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa ekonomi Indonesia akan segera keluar dari apa yang selama ini dijuluki 'kutukan 5%'โsebuah istilah yang merujuk pada kecenderungan pertumbuhan ekonomi nasional yang kerap mentok di angka tersebut. Pernyataan ini disampaikan di tengah beban kerja yang diakuinya sangat berat, bahkan sampai mempengaruhi kondisi fisiknya.
Dalam sebuah kesempatan, Purbaya mengakui bahwa mengelola keuangan negara di tengah gejolak global bukanlah tugas ringan. Ia bahkan bercerita berat badannya turun selama menjabat sebagai Menteri Keuangan. Namun, di balik tantangan tersebut, ia melihat sinyal perbaikan yang nyata pada arah perekonomian nasional. Menurutnya, berbagai indikator makro menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi terjebak pada pertumbuhan yang stagnan di kisaran 5%.
Optimisme ini muncul di saat banyak negara masih bergulat dengan perlambatan ekonomi. Purbaya menilai bahwa fundamental ekonomi Indonesia semakin kokoh, didukung oleh konsumsi domestik yang stabil, investasi yang terus mengalir, serta kebijakan fiskal yang responsif. Ia menggarisbawahi bahwa pemerintah tidak hanya mengejar angka, tetapi juga kualitas pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama satu dekade terakhir rata-rata berada di kisaran 5% per tahun.
- Purbaya Yudhi Sadewa menjabat Menteri Keuangan sejak 2024 dan telah menginisiasi berbagai reformasi fiskal.
- Target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar 5,3%.
Bagi pelaku pasar dan investor, pernyataan tersebut bukan sekadar retorika. Ini adalah sinyal bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas dan mendorong percepatan pertumbuhan. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah memang gencar mendorong hilirisasi, memperbaiki iklim investasi, dan memperkuat daya beli masyarakat melalui berbagai program bantuan sosial. Langkah-langkah ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan di atas level psikologis 5%.
"Arah pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah menunjukkan perbaikan. Kita akan keluar dari kutukan 5%," ujar Purbaya, seperti dikutip dari program Closing Bell CNBC Indonesia, Selasa (8/9/2026).
Namun, tantangan tetap ada. Pelemahan ekonomi Tiongkok, fluktuasi harga komoditas, dan ketidakpastian kebijakan moneter global masih menjadi risiko yang membayangi. Belum lagi tekanan inflasi yang dapat menggerus daya beli. Purbaya sendiri tidak menampik bahwa beban kerja di kementeriannya sangat berat, yang mengindikasikan kompleksitas masalah yang harus dikelola.
Dari sisi domestik, keberhasilan Indonesia keluar dari 'kutukan 5%' akan berdampak luas. Pertumbuhan yang lebih tinggi berarti lebih banyak lapangan kerja, pendapatan per kapita yang meningkat, dan ruang fiskal yang lebih besar untuk pembangunan. Hal ini juga akan memperkuat posisi Indonesia di mata investor global, yang selama ini menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia solid namun belum optimal.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah optimisme ini dapat dibuktikan dengan data. Perekonomian Indonesia kuartal II-2026 tumbuh 5,05% secara tahunan, sedikit di bawah ekspektasi. Namun, dengan berbagai stimulus yang digulirkan pemerintah, termasuk percepatan belanja infrastruktur dan reformasi regulasi, bukan tidak mungkin target pertumbuhan tahun ini dapat terlampaui. Akankah Indonesia akhirnya mampu menembus tembok 5% secara konsisten? Waktu yang akan menjawab, namun sinyal dari Menkeu setidaknya memberikan angin segar bagi pasar.



