Perlengkapan Kebersihan Tanpa Air untuk Perempuan Raih Penghargaan Bencana Jepang: Pelajaran bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Produk kebersihan tubuh tanpa air untuk perempuan, dikembangkan perusahaan Ehime, menang di ajang Disaster Preparedness Goods Awards 2026.
- Kit berisi 11 item ini dirancang untuk kebutuhan higiene tiga hari di pengungsian, menyoroti pentingnya kebutuhan spesifik gender saat bencana.
- Kemenangan ini memicu diskusi tentang kesiapsiagaan bencana di Indonesia, terutama dalam menyediakan perlengkapan yang peka gender.

Tokyo โ Sebuah inovasi kebersihan dari Jepang menarik perhatian dunia kebencanaan. Kit kebersihan tubuh tanpa air yang dirancang khusus untuk perempuan, karya perusahaan Shikoku Paper Sales Co. yang berbasis di Shikokuchuo, Prefektur Ehime, berhasil menyabet penghargaan utama kategori produk kebersihan pada ajang Disaster Preparedness Goods Awards 2026. Penghargaan ini diberikan kepada produk-produk darurat berkualitas tinggi, dan kemenangan ini menyoroti kebutuhan mendesak akan solusi kebersihan yang praktis dan sensitif gender saat bencana melanda.
Produk yang diberi nama "water-free full-body cleanliness set for women" ini dijual dengan harga 6.050 yen atau sekitar Rp650.000. Kit tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan kebersihan pribadi selama tiga hari tanpa akses air mengalir. Di dalamnya terdapat 11 item, mulai dari sarung tangan pembersih kulit kepala sekali pakai, tisu tubuh, pakaian dalam sekali pakai, perlengkapan perawatan mulut, handuk, kantong anti bau, tisu saku, penghapus riasan, masker wajah, ikat rambut, hingga sisir. Kehadiran produk ini menjadi angin segar di tengah kesulitan yang kerap dialami perempuan saat berada di tempat pengungsian.
Ide pengembangan kit ini digagas oleh Saki Ishikawa, seorang karyawan Shikoku Paper Sales Co. Ishikawa tidak bekerja sendirian; ia secara aktif berkonsultasi dengan rekan-rekan perempuannya mengenai barang-barang apa saja yang mereka butuhkan saat listrik padam atau ketika tinggal di shelter evakuasi akibat bencana alam. Beberapa produk bahkan dikembangkan secara mandiri oleh perusahaan. Menurut Ishikawa, tujuan utamanya adalah membantu mengelola kebersihan dan mengurangi stres para korban bencana, serta mencegah kesehatan mereka memburuk selama masa evakuasi. "Kami ingin membantu mengelola kebersihan dan mengurangi stres para korban bencana serta mencegah kesehatan mereka memburuk selama kehidupan evakuasi," ujarnya.
Bagi Indonesia, berita ini membawa pelajaran berharga. Sebagai negara yang rawan bencana alam, kesiapsiagaan seringkali berfokus pada logistik besar seperti makanan dan tenda, namun kerap mengabaikan kebutuhan spesifik kelompok rentan, terutama perempuan. Padahal, dalam situasi pengungsian, akses terhadap produk kebersihan feminin seringkali terbatas, meningkatkan risiko infeksi dan masalah kesehatan lainnya. Inovasi seperti kit dari Jepang ini dapat menjadi inspirasi bagi produsen lokal, LSM, dan pemerintah untuk mengembangkan solusi serupa yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan budaya Indonesia. Apakah akan ada perusahaan lokal yang berani berinovasi menciptakan produk kebersihan darurat yang peka gender? Atau justru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan memasukkan produk semacam ini ke dalam standar perlengkapan pengungsian? Pertanyaan ini menggantung, menanti jawaban dari para pemangku kepentingan di tanah air.
Ke depan, tren produk kebersihan darurat yang semakin tersegmentasi ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak lagi sekadar bertahan hidup, tetapi juga tentang menjaga martabat dan kesehatan mental para penyintas. Dengan semakin seringnya bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim, kebutuhan akan produk-produk inovatif semacam ini dipastikan akan terus meningkat. Apakah Indonesia siap mengadopsi dan mengadaptasi inovasi ini untuk melindungi warganya yang paling rentan?



